Oleh Budi Suwarna
Betapa sibuknya industri televisi hiburan selama Ramadhan. Artis, kru, sampai penonton bayaran sampai-sampai harus sahur, berpuasa, hingga berbuka di studio televisi setiap hari selama sebulan.
Wajah Rafi Ahmad terlihat lelah. Namun, pemain sinetron dan presenter yang laris setiap Ramadhan itu masih punya semangat untuk menceritakan jadwal shooting-nya yang padat. Dini hari, sekitar pukul 02.00, Rafi sudah sampai di studio TransTV untuk shooting acara Waktunya Kita Sahur. Acara itu selesai sekitar pukul 05.00 dan Rafi bisa pulang.
”Saya biasanya tidur satu-dua jam sebelum berangkat ke Studio RCTI untuk shooting Dahsyat sampai pukul 11.00,” ujar Rafi
di studio Antv, Jumat (3/8) sore. Setelah itu, Rafi pulang ke rumahnya untuk istirahat.
Pukul 16.00, Rafi harus ada di Studio Antv untuk persiapan shooting Pesbukers. Acaranya disiarkan secara langsung pukul 17.00-19.00. Dari Antv, Rafi bergegas mengikuti acara bakti sosial bersama komunitas sepeda motor besar.
Begitulah ritme hidup Rafi. Boleh dikata waktu Rafi habis di beberapa studio dari pagi hingga pagi lagi. Hal itu dia jalani setiap Ramadhan sejak tahun 2009. ”Mau bertemu pacar atau keluarga pun tidak sempat,” ujar Rafi.
Kesibukan yang sama dijalani artis Jessica Iskandar. Selama Ramadhan, dia muncul di tiga acara, yakni Pesbukers, Waktunya Kita Sahur, dan Klik (Antv). Dengan tampil di tiga acara, praktis sepertiga waktu Jessica habis di studio. ”Tidur sehari hanya bisa empat jam,” ujar Jessica.
Penonton ”profesional”
Tak hanya artis, penonton ”profesional” alias bayaran tak kalah sibuk. Vony (40), koordinator penonton bayaran, setiap hari pontang-panting dari satu studio ke studio lain. Pukul 24.00, dia menuju studio SCTV untuk mengarahkan anak buahnya yang ”tampil” di Sinekuis Para Pencari Tuhan.
Dia lalu berpindah ke studio TransTV untuk mengecek anak buahnya yang meramaikan acara Waktunya Kita Sahur. Paginya, dia menuju studio lain untuk mengantar anak buahnya yang menjadi tim sorak di acara musik. Siang, Vony menuju Antv untuk mengoordinasi anak buahnya di acara Pesbukers.
Kapan Vony istirahat? ”Ya di sela-sela acara. Kami sudah biasa tidur di mana saja, kapan saja,” ujar Vony ketika sedang berbuka puasa di halaman Studio Antv dengan menu nasi kotak.
Vony mengklaim maksimal mengerahkan 500-an penonton sehari. Mereka berasal dari Serang, Karawang, Banten, dan daerah pinggiran lainnya di Jabodetabek. ”Setiap bulan puasa, jumlah permintaan penonton bayaran melonjak 2-3 kali lipat. Makanya, saya setiap hari kerja, enggak ada libur sampai Lebaran nanti,” tutur Vony.
Kru studio juga luar biasa sibuk. Edo Wicaksono, Produser Eksekutif TransTV, mengaku, sejak tahun 2006 tidak pernah lagi merasakan suasana sahur di rumah. ”Saya selalu sahur di studio, itu pun hanya bisa dilakukan pukul 01.00 dan 02.00. Puasa kru lebih panjang daripada orang lain, ha-ha-ha,” ujar Edo.
Antonius Kelly, Manajer Koordinator Produksi Antv, datang ke studio siang hari untuk mengoordinasi shooting Pesbukers dan Chatting dengan YM. Dia pulang pukul 22.00 dan harus kembali lagi ke studio pukul 01.30 untuk mengoordinasi siaran langsung tarawih dari Masjidil Haram. Dua jam kemudian, dia menangani acara Sahur Bareng Mamah.
Kru produksi Komedi Ramadhan Kompas TV harus bekerja minimal 12 jam untuk pengambilan gambar. ”Kami harus bekerja efisien agar (shooting) selesai sebelum maghrib,” ujar Produser Hiburan Komedi Ramadhan Susangga.
Bulan rezeki
Begitulah, Ramadhan buat industri televisi merupakan momen untuk menggaet penonton dan iklan lebih banyak. Fenomena ini setidaknya berlangsung sejak pertengahan 1990-an.
Tahun 1994, ketika televisi swasta baru tumbuh, acara sahur bahkan belum ada. RCTI, SCTV, dan Antv sudah memiliki acara Ramadhan, tetapi acara itu dimulai pukul 05.00. Corak acaranya berupa ceramah agama, seperti Hikmah Fajar (RCTI), Di Ambang Fajar (SCTV), dan Assalamualaikum Ya Ramadhan (Antv).
Setahun kemudian, barulah ada stasiun televisi yang memulai siaran di kala sahur, yakni TPI (sekarang bernama MNCTV) dengan Mozaik Ramadhan pukul 03.30 dan Antv dengan Sahur! Sahur! pukul 03.30.
Awal tahun 2000-an, barulah televisi swasta jorjoran menghadirkan acara hiburan di waktu sahur dan berbuka. Belakangan, televisi menambah jam tayang hingga 24 jam, yang sebagian diisi program berbau Ramadhan.
Kepala Departemen PR dan Marketing TransTV Hadiansyah Lubis mengatakan, Ramadhan menjadi pertarungan semua televisi terutama di waktu sahur, menjelang, dan setelah berbuka. Pada jam itulah iklan mengalir seperti air. Itu sebabnya televisi serius membuat beraneka program hiburan yang bisa memikat banyak penonton.
”Pendapatan iklan kami bertambah 10 persen ketimbang bulan lainnya,” ujarnya tanpa bersedia menyebut jumlahnya.
Antonius Kelly bahkan mengklaim pendapatan iklan yang diperoleh Antv dari acara hiburan bisa melonjak 100 persen selama Ramadhan.
Ketika industrinya untung, orang-orang yang berkecimpung di dalamnya juga kecipratan rezeki besar. Penonton bayaran, yang biasanya dibayar Rp 50.000 per orang, di bulan Ramadhan mematok tarif Rp 75.000. Koordinator seperti Vony mendapat bagian 30 persen dari upah yang diperoleh seorang penonton bayaran. Kalau setiap hari dia mengerahkan 100 penonton saja, dia memperoleh komisi sekitar Rp 2.250.000. ”Lumayan buat modal pulang kampung,” kata Vony. (WKM)