Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
SAJAK-SAJAK TERCECER SEPANJANG WAKTU
1.
--...- : entah mengapa, ia ingin bergerilya- dari tempurung kepala ke lubuk jantung-hatiku jua- ia rela melepaskan pendayung dan lompat dari sampan- berenang ke tengah laut- laut cintaku- ia tertawa lepas- seolah bibir pantai tak ingin dikenalnya lagi- tak ingin berpeluk lagi dengan runcing karang- ia ingin lepas- berenang ke tengah laut- hingga masuk ke dalam tempurung kepala dan lubuk hatiku jua-...-....--
2.
--...- : ia telah lama berkebun dalam rumahku- ia tanami segala bunga- ia elus setiap duri di tangkainya- ia cium juga setiap kelopak rekah pertama- dan pupuknya; kupu-kupu warna-warni yang telah menghembuskan nafasnya- dan pot-potnya; pecahan-pecahan hati- dan ia menyirami dengan seluruh airmatanya- nyaris di setiap senja...- ....--
3.
--...- di waktumu yang bergemeretak dan merapuh- ambillah cermin paling bening- pada kerut dan lipatan wajahmu- berapa banyak sudah serbuk maut menghablur?- lupakan dan buang jauh-jauh daging dan tulangmu- pada kedalaman sunyi- di situ tak ada stupa cinta- o, stupa cinta!- tak ada gerak mercusuar- o, tak ada juga pisau rindu- o, pisau rindu!- segalanya terus saja bergemeretak dan merapuh- dan auh...!-....--
4.
--...- belatung itu, o- lalat hijau itu, o- berkerubung di seluruh tubuh mayat tak bernama- orang-orang berteriak-teriak:- "gantung dia di monas!"...- "kubur dia di depan istana!"...- "atau hanyutkan saja di laut!"...- seseorang melintas tergesa- di ramai anganmu- dadanya kosong...-...--
5.
--...- angin menyempurnakan duka-pagi- kabut-selat nusakambangan ini menyempurnakan peluh-diri- orang-orang berkerubung seraya menjerit-jerit:- "ambil dan awetkan!"...- "ambil dan petiemaskan!"...- "ambil dan pajangkan di taman-hati kalian!"...- sesosok tubuh "penyair" tergeletak dengan sorot mata bercahaya- angin menyempurnakan duka-pagi- kabut-selat nusakambangan kian menebal-...--
5.
--...- tubuhku dan tubuhmu melayang terperosok jauh ke dalam jurang- kabut lembah ini kian menebal- menebal- kita sama lepaskan pelukan- terjal bebatuan mematangkan luka- mematangkan luka- lalu kauseret tubuhku menghilirkan sembilu kerinduan- sembilu kerinduan- ke telaga cahaya- telaga cahaya!-...--
6.
--...- engkau memberiku bunga dengan seluruh pohon, akar dan durinya- aku memberimu kuda dengan seluruh kandang dan rumputnya- kupu-kupu warna-warni melepaskan sayap-sayapnya: di ranting-ranting pohon, di rumput-rumput- sayap-sayap itu menjelma pisau-pisau cahaya- pisau-pisau cahaya itu pun menyayat-nyayat hatiku dan jantungmu dalam satu tarikan nafas- darah mengalir membatu menjelma stupa cinta- o, stupa cinta!-....--
7.
-- ...- kauhirup bau paling busuk di lorong ini- kauhirup juga bau paling amis di ceruk ini- matamu mengerjap; penuh cahaya- lalu kaumuntah-muntah; lumpur-rindu- melumuri sepanjang jalan berbatu- dalam kepalamu- dalam degup hatimu- tubuh sastra yang pias!-- ....-
8.
--...-- selamat mengembara, kawan- embun dan sunyi jalan kaulalui- tanpa debar lagi- tanpa sebilah rindu dan dendam- tapi lautmu kian asin dan dalam- kian memabukkan!-...--
9.
--....- biar remuk batu-rindu ini- remuk jualah!- ...--
10.
--....-auh. pusaran palung ini sungguh perih- aku hendak menepi- tetapi daya tak ada- apakah larut saja aku di dalamnya?- atau kuterbangkan segala keinginan?- pusaran palung ini sungguh mendebarkan!--
11.
--...- kulihat wajahmu penuh luka- seperti cacar- namun tawamu terbahak-bahak juga sepanjang pertemuan- menutupi kegelisahanmu yang liar- berulangkali kaugaruk nyaris seluruh bagian tubuhmu- ah! binatang berbisa seperti apakah yang senantiasa sembunyi di balik pakaian dalammu?- ah! tiba-tiba kaupeluk tubuhku- erat sekali!- seperti tidak hendak melepaskan pelukan- aku sungguh terkesima-....--
12.
--....- ternyata tidak rabu, atau bahkan hari-hari lain; pecah- lingkaran igau dan mimpi- cahaya kian menjauh- kita bersimpuh di hadapan stupa cinta- menenggelamkan seluruh duri dan miang!--
13.
--....- tapi, kenapa mesti rabu?- seluruh tubuh ngilu- rumah di bukit itu seperti sarang madu- kau dan aku membagi remah-rindu- sesekali boleh kita menjelma kupu-kupu?- angin ke lembah menderu- satu mimpiku: seluruh tubumu!--
14.
--...-- sungguh, nyaris aku lupa: senin 21 nopember '11- nyanyian itu berakhir dalam gemiris yang merdu- dan tali gitar yang terus saja bergetar: kita sama tergagap- telah begitu lama debur itu meninggalkan jejak--
--...-ia terpana: tubuh masalalu- melintas tergesa, luka di lehernya- memang telah mengering- tapi desah dan aromanya- auh- masih seperti dulu: melati abadi-...--
15.
"kapuyuak" juga kamu; mengendap menebar bau busuk- "kapindiang" juga kamu; menggigit selalu sembunyi- "kabau pakak" juga kamu; mendengus sesuka hatimu- "hanjiang gadang" juga kamu; menyeringai menjijikan airliurmu-"kalera" juga kamu; terkakah menginjak tubuh kecilku-...--
16.
--sepasang mata itu- bertahun-tahun telah menenggelamkan baturindu-...!--
17.
--.....-- 27 juli- taman bunga- semerbak- aku menemukanmu seperti bidadari- terluka- terlunta berselimut kabut- dan berdesis: edelweis, edelweis, edelweis...- merangkak di sepanjang pinggang bukit- bebatuan terjal- hai...- "ulurkan tanganmu, mari kita tinggalkan tempat ini"- airmatamu tetes- bibir dan tubuhmu gemetar: sudahlah, pergilah; pertemuan demi pertemuan kian mendalamkan liang luka!--
18.
-....-- jangan beri aku bunga, katamu- pertemuan ini hanya sementara- lembah ini sungguh berkabut-- aku mau: bisikkan saja sajak-edelweis- lalu pelukkan erat, sekali saja- sekali saja!-- aku mengerti benar seluruh lekuk-detak tubuh-hatimu- mari kita berbagi, sehabis-habis arti- seluruh remuk batu-sunyi--
19.
--...- apa yang kaumimpikan 2 juli?- taman bunga yang rekah- seribu bening pancuran di bukit- pelangi jingga- atau rerumputan mulai mengering?-- 25 mei dan 20 juni telah menari-nari--.... kupikir kau sangatlah mengerti-- perih dan sunyi....--
20.
-....-- tapi kenapa tidak 16 juni?- waktu seperti bongkah karang nganga di ceruk laut- seseorang melepas kacamata: cintanya begitu telanjang- dan angin kian menggelorakan laut, laut kita!- tapi benar sekarang 16 juni?- jemari usia kian lentik saja- menekan tuts kehidupan yang rekah- ia kulihat merunduk- di taman edelweis- matahatinya berkaca-kaca....--
21.
-....-- 26 mei telah berguling penuh batu dan duri- geliat perih-rerindu 20 juni- tapi kenapa tidak 16 juni?- waktu seperti bongkah karang nganga di ceruk laut- seseorang melepas kacamata: cintanya begitu telanjang- dan angin kian menggelorakan laut, laut kita!--
22.
-- ini jam berapa? hujan menderas- suara di balik hujan itu seperti jerit- mengingatkan pada bau kematian yang menyengat- malam yang getir- kauwiridkan kesunyian-kehancuran-....--
23.
-- helai desember- bandara minangkabau- bukit putus- lembah anai- lobang japang- jam gadang- kakilima- gadis kopi ginseng- tubuhku. terseok tersungkur- bandara soeta- bis sumber alam- laut cilacap- menghanyutkan jiwaku- terjungkal di bibir-pelabuhan- penuh rindu- pada langitmu- ...--
24.
-- kujelang juga- kujelang ranahku meruap debur- teluk bayur- bukit putus- gaung- gulai ikan ibuku- sebaris sajak yang tercecer-. pada kilau suar- atau gumpal darah yang hanyut di batang kuranji- sekujur tubuhku penuh daki- ragu mengetuk pintu yang lama kutinggalkan- hanya suaraku- suaraku- parau berbisik di telinga ranah-rindu: izinkanlah, beberapa hari lagi aku datang-....--
25.
-- tersebab aku terlalu mengharapanmu- kutinggalkan segalanya tentang harapan- : setiap bayang-bayang menghitam- mengubur jejak- tapi suara siapakah melengking- di jurang tebing- "kembalikan seluruh hatiku yang kaurampas- kembalikan!- ruhku segera melayang..."- seserpih cahaya berkilauan-...--
Eddy Pranata PNP, lahir 31 Agustus 1963 di Padangpanjang, Sumatera Barat. Sekarang beraktifitas di pelabuhan Tanjung Intan Cilacap.