Selasa, 18 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 18 Juni 2013 | 11:40 WIB
KREASI BRAILLE
Ayat Tuhan di Ujung Jari
Jumat, 3 Agustus 2012 | 15:56 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO
Salah satu peserta tampil dalam Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Braille di Aula Kompleks Masjid Pusdai, Bandung, Jawa Barat, saat digelar Festival Al Quran Braille, Jumat (27/7). Sebanyak 200 tunanetra se-Jawa Barat mengikuti berbagai perlombaan, seperti MTQ dan menulis ayat Al Quran dalam bentuk huruf braille dalam festival yang digelar untuk mengisi kegiatan selama bulan puasa ini.

Didit Putra Erlangga Rahardjo

Sandi (15) duduk bersimpuh menghadap buku berisi lembaran-lembaran berwarna putih. Kepalanya tengadah tidak memandang ke arah halaman yang terbuka, tetapi hanya menyentuhkan ujung jarinya, kemudian menggeser dari kanan ke kiri. Di hadapannya, tiga orang duduk memandangnya dengan penuh konsentrasi.

Dari mulut Sandi kemudian terlantun ayat dari kitab suci Al Quran surat Al Baqarah Ayat 172. Selama melafal, pandangan Sandi tetap lurus ke depan, sementara jarinya terus bergerak, merayapi halaman dengan jarinya.

Sandi yang tunanetra sejak kecil ini mengakhiri sesi baca Al Quran dan disambut tepuk tangan oleh pengunjung dan peserta lainnya. Dia adalah satu dari peserta lomba baca Al Quran braille kategori remaja dalam Festival Al Quran Braille yang dilaksanakan di Pusat Dakwah Islam, Kota Bandung, Jumat (27/7). Turut bersama mereka sekitar 40 tunanetra lainnya yang bergantian membacakan ayat dari Al Quran dengan huruf braille.

Itulah Al Quran braille yang digunakan para tunanetra untuk membaca kitab suci umat Muslim. Pandangan yang tidak berfungsi bukan menjadi alasan bagi mereka untuk tidak membaca Al Quran. Bedanya, mereka tidak mengandalkan tulisan arab ataupun bantuan suara, tetapi dengan susunan tonjolan kertas yang diraba di ujung jari.

Al Quran braille masih diproduksi, salah satunya oleh Balai Penerbit Braille Indonesia Abiyoso di Cimahi, dan diedarkan meski dengan kapasitas terbatas. Ketua Dewan Pengurus Wilayah Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) Jawa Barat Yudi Yusfar mengungkapkan, kendala yang harus dihadapi adalah masih rendahnya jumlah tunanetra yang sudah mahir membaca Al Quran braille.

”Kita harus menghafalkan konfigurasi titik, sama seperti menghafalkan untuk huruf latin braille,” kata Yudi.

Ketua Panitia Festival Braille Nurdin mengatakan, festival ini adalah kali pertama digelar di Indonesia. Selain berisi lomba baca Al Quran braille, ada pula lomba menulis huruf arab braille hingga lokakarya pengajaran membaca Al Quran braille. Saat ini, diperkirakan ada 500.000 tunanetra di Jabar dan tidak sampai setengahnya yang bisa membaca Al Quran braille.

”Menggunakan perkiraan karena belum pernah ada data yang jelas dari dinas sosial,” kata Nurdin.

Datang ke Bandung

Kota Bandung memegang peran penting dalam sejarah Al Quran braille di Indonesia. Menurut Yudi, Perpustakaan Braille Wyata Guna pertama kali menerima Al Quran braille terbitan Jordania sekitar tahun 1959.

Namun, baru pada 1963 koleksi tersebut dipelajari di Yogyakarta karena belum ada tunanetra yang bisa membaca huruf arab braille.

”Gerakan pendidikan membaca Al Quran braille kemudian tumbuh subur dan berakar di Yogyakarta,” ujar Yudi.

Tahun 1984, pemerintah mulai serius memperhatikan Al Quran braille dengan mengeluarkan standar bagi Al Quran braille karena terdapat begitu banyak rasm atau bentuk tulisan. Yudi menuturkan, Indonesia menggabungkan rasm imla’i dengan usmani sebagai patokan penulisan Al Quran braille.

Masalah belum juga selesai karena ternyata standarnya belum baku dengan munculnya dua versi, yakni versi Yogyakarta dan versi Bandung. Beberapa perbedaan di antaranya penempatan harakat atau tanda baca sebelum ataupun sesudah huruf dan huruf yang dipakai untuk menuliskan kata. Hal tersebut bisa ditengahi oleh pemerintah pada 2000.

Dengan festival ini, Yudi berharap bisa menumbuhkan kebanggaan Bandung sebagai cikal-bakal Al Quran braille di Indonesia sekaligus mengurangi jumlah tunanetra yang tidak bisa membaca Al Quran. Kegelapan akibat kebutaan tidak harus menjauhkan mereka dari ayat Tuhan, cahaya Ilahi masih bisa dilihat meski melalui rabaan ujung jari.

 

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono