Oleh I Ketut Sutika
Kepiawaian dan kharisma di atas pentas mengantarkan sosok pria sederhana itu "terbang" melanglang buana ke mancanegara.
Meskipun usianya masih terglong muda, namun memiliki pengalaman yang sangat luas dalam mengadakan pementasan tabuh dan tari Bali, karena hampir sebagian besar negara di belahan dunia pernah dijelajahinya.
Dewa Ketut Alit, SSn (39), pria kelahiran Pengosekan, perkampungan seniman Ubud, Kabupaten Gianyar, setiap tahun mengadakan dua hingga empat kali lawatan ke mancanegara, khususnya Amerika Serikat, Jepang. dan Australia.
Bahkan, suami dari Sakuma Aya (35), wanita kelahiran Jepang dalam setahunnya lebih banyak berada di luar negeri untuk urusan, ceramah, melatih dan dan pementasan kesenian Bali.
Alumnus Institut Seni Indonesia ISI) Denpasar bernaung di bawah Sanggar Selukat Pengosekan, Ubud yang didirikannya kembali mendapat kesempatan untuk mengadakan lawatan ke Australia selama 1,5 bulan.
Lawatannya ke negeri Kangguru hampir setiap tahun dilakoninya sejak 12 tahun silam mengajar tabuh dan tari Bali kepada pelajar dan mahasiswa di kota Perth Australia.
Sakuma Aya, warga negara Jepang yang dipersuntingnya menjadi istri selanjutnya berubah nama beridentitas Bali Jero Jempiring, juga piawai menari Bali yang kadang kala menyertai kunjungannya ke luar negeri.
"Namun keberangkatan kali ini ke Australia istri tidak ikut, karena berangkat sendirian," tutur Dewa Alit saat bertolak ke Australia awal pekan ini.
Ayah dari seorang putra dan seorang putri itu keberangkatannya tidak membawa perangkat gamelan, karena sekolah tempat mengajar di Australia itu sudah memiliki seperangkatan gamelan gong kebyar.
Masyarakat Australia, khususnya kalangan pelajar dan mahasiswa di negara itu sangat antusias mempelajari tabuh dan tari Bali. "Kami mengajar tiga kali dalam seminggu dengan peserta anak didik sedikitnya 50 orang," tutur Dewa Alit yang juga sebagai dosen terbang khusus mengajar tabuh dan tari Bali ke sejumlah perguruan tinggi seni di mancanegara.
Anak didik yang diajarnya tabuh dan tari Bali di Australia, saat mereka melakukan kunjungan wisata ke Bali kembali mendalami di sanggarnya di Pengosekan, dekat perkampungan seniman Ubud, 40 km timur laut Denpasar.
Demikian pula mahasiswa dan masyarakat dari berbagai negara seperti Jepang dan Amerika Serikat juga melakukan hal yang sama, sehingga sanggarnya setiap saat ramai dengan orang asing belajar tabuh dan tari Bali.
Meskipun keberangkatannya ke luar negeri secara rutin dilakoninya, persiapan tetap diperlukan, agar mampu memberikan materi tabuh dan tari yang tergolong baru hasil kreativitasnya sendiri, sehingga masyarakat internasional tertarik untuk mempelajarinya.
Seniman andal
Dewa Alit yang mengelola Sanggar Selukat menghimpun 27 seniman tabuh dan tari andal yang rutin setiap tahun mengadakan lawatan ke sejumlah negara, khususnya Jepang dan Amerika Serikat.
Selain itu juga melatih tabuh dan tari kepada turis yang ingin mendalami tabuh dan tari Bali saat mereka melakukan kunjungan wisata ke daerah ini. "Setiap bulan ada saja rombongan wisatawan yang belajar tabuh dan tari Bali. Kami khusus mengajar mereka tabuh dan tari, karena kunjungannya di luar itu ditangani oleh biro perjalanan wisata," ujar Dewa Alit.
Mengajar tabuh dan tari Bali kepada wisman maupun kunjungannya ke berbagai negara mampu memberikan pengalaman tersendiri terhadap pengembangan seni budaya Bali yang menjadi salah satu daya tarik pelancong.
Pengembangan seni budaya Bali, khususnya tabuh dan tari dalam pase sekarang menurut Dewa Alit membutuhkan adanya suatu perbandingan yang mampu memberikan memotivasi terhadap kehidupan seni di masyarakat.
Upaya itu untuk mewujudkan keseimbangan antara pencipta, penikmat dan pengkritik seni, sehingga bermanfaat untuk kehidupan masyarakat, termasuk wisatawan. Genetik misalnya adalah komposisi musik baru dengan menggunakan media barungan gamelan salukat yang menyodorkan nilai-nilai baru dari pengembangan musik tradisi yang mengacu pada konsep bunyi sebagai elemen dasar musik gamelan.
Gagasan musik yang diciptakannya itu berawal dari pemikiran komponis tentang hubungan dan pengaruh genetika kedalaman proses perubahan yang terjadi secara alami, berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
"Sesuatu yang dinilai rusak atau berbeda dari ketentuan-ketentuan umum pada hakekatnya tidak serta merta merugikan, namun bisa lebih berguna pada saat bersentuhan dengan pola kehidupan yang lain," ujar Dewa Ali.
Persentuhan itu tanpa disadari secara kebetulan berhubungan langsung dengan keberadaan habitatnya, sehingga pertemuan di luar kontrol itu itu pada titik-titik tertentu sangat menguntungkan.
Dampak positif itu sesuai dengan kebutuhan sebagai pendukung keberlangsungan hidup yang bersifat fundamental. Dalam kurun waktu yang cukup panjang dari satu generasi ke generasi berikutnya hal-hal yang tidak cocok dari hasil pertemuan itu akan punah.
Bagian-bagian yang sesungguhnya bersumber pada sesuatu yang dianggap rusak yang kemudian berevolusi hingga membentuk pola-pola umum yang bersifat baru (genetik) akan tetap bertahan yang kemudian menambah keunikan dan daya tarik, tutur Dewa Alit.