Ziarah Batanghari
: jurnal seloko
merah padam batanghari. bergegaslah!
sebelum lampu-lampu di mandalo memadamkan dirinya.
kajanglako terlungkup di tanggorajo. barangkali kau belum rela
kehilangan tempoyak, dodol kentang, jadah gedang,
batik selendang bersidang, atau demi pilkada. tapi mungkin
saja kau hanya diam sambil menundukkan kepala.
merah padam batanghari. kapal sanggat di bandar lain.
bersiaplah, sebelum bukit dua belas tak punya jambangan,
percandian muarajambi hanyut di kanal-kanal tuo.
mungkin kau belum selesai menulis sajak tentang mo-lo-yu,
kuntala, swarnabhumi, amoghapasa, atau silangsengkurat sultan taha
dengan batavia, pun hasrat sebagai daging di payosigadung.
tapi mungkin saja, kau tak kan sempat menyelesaikan, sebab seloko
serupa krinok di lorong lebam dan tanah pilih segera berganti musim.
merah padam batanghari. teratai tumbuhmekar di taman lain.
burung-burung di jerambah makalam tak mau lagi menyanyikan udara pagi.
tugu juang mengarah ke dada lemah dan tv jambi menafasi seisi rumah.
bujang ota senyum lebar di lembar-lembar iklan. dawat hati tumpahruah.
Jambi, 2012.
Orde Amnesia
: jurnal seloko
1/ di tanah yang kami huni, igau datang lebih awal. tak ada yang menujumkan pencapaian. adakah yang mau tidak setengah-setengah sebagai pendamai. ah, lagi-lagi dihadapkan pada pertanyaan tolol; apa yang Anda andalkan, bila kompor yang dinyalakan, api berkobar tak memercikkan kebiruan. di tanah yang kami huni, semuanya digergaji pasar malam. meski abad-abad berlalu mengajarkan, duduk, diam dan kembali merujuk dasar dari segala akar. inikah nafsu, ambisi, egoisme?
2/ di tanah yang kami huni, hanya ada tanda. hasrat sebagai daging. darah bukan darah. matahari bukan matahari. bulan bukan bulan. jangan berhayal bulan meniduri matahari, lahirlah akar. tidak. meski berulangkali Anda menjulur-julai,meniup mawar. sudahlah, di tanah yang kami huni, hanya ada gelar. kanak-kanak lena. dewasa dikurung angka-angka.
3/ di tanah yang kami huni, kelicikan acapkali bekerja rapi. mencemooh segala musim. menggerutu langit yang timbul dari senja abu-abu. bahkan dengan telak memukul pagi di dalam rumah. melalap terik tanpa alasan semestinya. di tanah yang kami huni, untuk kesekian kali, Anda berseru; kutuklah kesombangan dalam diri. tidakkah berusaha belajar pada kedalaman laut. karena masihlah ada keadalaman dari yang terdalam.
4/ di tanah yang kami huni, ‘bengak’ menebalkan bebal. berkali-kali berkoar di rabun malam. hanya mau beranak seenaknya. pura-pura tak tahu. menahun adam. bila ada teratai lunglai terkena asam lebam. ya di tanah ini, kami punya tembang, tentu punya bahasa. tapi acapkali diobok-obok di kandang slogan. tak perlu kaucerita lagi, bila hati jatuh berkeping-keping, sehingga sulit memungutnya. di tanah yang kami huni, tak ada yang kami punya selain sengak. bengak menapaki jejak. si ‘lian’ memar diusung retak.
5/ di tanah yang kami huni, tugu juang melenguh lemah. menunjukkan tombak ke dada-dada lemah. lalu berseru: wahai penghuni tanah sejarah, harus kukatakan, sentimentil tidak akan membuat kemenangan lebih terhormat. karena ia adalah selemah-selemahnya kesadaran. di tanah yang kami huni, tugu-tugu mendengkur lalu terjaga, kemudian juga berseru; sehingga apa kami dikultuskan. jika yang menghuni tanah ini adalah kebohongan-kebohongan yang lena.
Jambi.2012
Atisa
: jurnal seloko
angin muson datang lebih dini
aku segera berkayuh
menjauh dari nalanda
menuju svarnadvipa
memerahu hempasan badai
pada pelayaran sejauh ini
menujumkan akal budi
tibalah di lembah batanghari
berair kecoklatan berarak ringan
dipayungi sutra senja merata
hari-hari sepenuh runduk mawar
mengurai kabut yang bergayut di kening fajar
menemu dharmakirti
berpayung bukit sengalo
teduh bagi muara seisinya.
Jambi, 2012.
Payosigadung
: jurnal seloko
sebab telah kumulai perjalanan
mendaki terjal bebukitan
dan menghitung gang-gang
di semak perempatan
aku letih, tapi musti berjalan
o lelaki daging
tak usah ceritakan
pertualangan badan membelah bulan
sampai esok malam menghampiri
kupertaruhkan tukak
di jantung badan.
Jambi 2012.
Cerita di Pasar Lubuk Landai
: tanah sepenggal
berapa harga bunga kamboja yang mesti kami jual
kepada keheningan yang diringkus iklan-iklan bualan
dan setiap raungtelevisi yang membangunkanku
dari mimpi yang robek di ujung bagian
dan kukuruyuk fajar yang datang tiba-tiba
hingga tak sempat lagi kami merenungkan
antara benda-benda yang menafasi
dan tawaran-tawaran kejumudan yang menulikan
yang kami pikul beberapa goni ubi jalar
dan beberapa lagi terentang di pasar lubuk landai
di sini, kami hanya berharap terik siang
mengelupas parau di masa kini, nanti dan selanjutnya.
Jambi.2012.
Biodata
Jumardi Putra. Pecinta Buku dan Kesenian. Kelahiran Desa Empelu, Kab. Bungo-Jambi,1986. Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Aktif menulis esai, artikel, resensi dan puisi.