LOS ANGELES, KOMPAS.com--Seniman Ai Weiwei menjadi berita utama di seluruh dunia sejak penahanannya di China tahun lalu.
Namun di luar hasil karyanya, sejumlah orang di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat mengetahui usahanya untuk lebih mendorong pemerintahan terbuka di China.
Sebagai seorang seniman, ia memiliki bakat yang menarik seperti menggambar, melukis, memahat, mengerjakan seni konseptual, fotografi, kritik budaya, dan arsitektur.
Kini, sebuah film dokumenter, "Ai Weiwei: Never Sorry", yang menyoroti sosok laki-laki di balik seniman pembangkang itu, dengan tujuan supaya AS dan penonton bisa belajar lebih banyak tentang budaya China dan mungkin tentang diri mereka sendiri.
Ai, 54, menghilang di negaranya pada April 2011, dan setelah ada kecaman dari pecinta seni, politisi dan aktivis kebebasan berbicara, ia ditemukan telah dipenjara oleh otoritas China.
Ia dibebaskan setelah 81 hari masa penahanan, dan bulan ini, pengadilan China memberlakukan denda 2,4 juta dolar atas penggelapan pajak terhadapnya dan dianggap sebagai cara untuk memberangus suaranya.
Hal tersebut menjadi berita utama, tapi siapakah laki-laki itu? "Bagi saya, itu adalah pertanyaan yang mengarahkan. Siapa orang ini?," kata Alinson Klayman kepada Reuters. Klayman adalah pembuat film "Aiweiwei: Never Sorry", yang kini ditayangkan di bioskop-bioskop Amerika.
"Saya sungguh merasa seperti apa yang saya temukan, dan apa yang tercermin dalam ’Never Sorry’ adalah seorang komunikator yang efektif dan hebat, seorang organisator politik, dan seorang komentator sosial. Namun di atas segalanya, ia seorang seniman, yang termotivasi oleh keinginannya untuk mendorong negaranya maju," kata Klayman.
Klayman pertama kali bertemu Ai saat tinggal di China dan bekerja untuk Radio Publik Nasional, acara PBS "Frontline", dan outlet media AS lainnya.
Ia diminta untuk melakukan wawancara dengan Ai setelah perannya sebagai konsultan artis untuk stadion Olimpiade Beijing 2008, yang dijuluki dengan Sarang Burung karena desainnya yang mencolok.
Hasil karya Sarang Burung Ai tersebut menjadikannya tenar di seluruh dunia, namun di China sendiri Ai telah terkenal dengan karya seninya, desain, aktivisme, dan keluarganya. Ayahnya adalah penyair China Ai Qing, dan setelah menghabiskan studinya di Amerika Serikat pada 1980-an, Ai Weiwei kembali ke China bersama ayahnya, yang meninggal pada 1996.
Pada 1990-an, Ai Weiwei menerbitkan serial buku jenis "underground" tentang seniman muda dan sedang berkembang yang berusaha dengan sungguh-sungguh menjaga tradisi.
Pada 2000-an, ia menantang pejabat China melalui kehidupan di balik Tembok Besar. Di antara karyanya yang lain, lukisan-lukisan tersebut yang menunjukkan sebuah tangan dengan jari tengah untuk melambangkan otoritas China seperti Lapangan Tiananmen.
Pada 2007, ia mengecam Sarang Burung dan Olimpiade Beijing sebagai propaganda politik, dan pada 2008, Ai mulai bekerja untuk mengungkap nama-nama lebih dari 5.000 anak yang tewas dalam gempa bumi yang besar (nama pemerintah tidak ingin diungkapkan).
BICARA ITU BEBAS
"Pertanyaan: "Mengapa ia tidak di dalam penjara?" merupakan satu pertanyaan yang saya sering tanyakan kepada orang yang saya wawancarai, pastinya semua akan bertanya tentang hal itu sebelum penahanannya pada 2011," kata Klayman.
"Sebenarnya, itu adalah hal yang saya tanyakan kepada Weiwei pada satu atau dua minggu pertama saat kita sedang membuat film bersama. Dan tanggapannya, ’Saya tidak tahu. Ini bukan kehendak saya dipenjara atau tidak’."
Jawaban Ai sederhana dan kompleks pada saat yang sama karena memerlukan pemahaman tentang pergeseran sosial di China modern, dan hidup serta karyanya tampak seperti kendaraan untuk mengeksploitasi perubahan lansekap budaya negara tersebut.
Apa yang muncul dalam "Never Sorry" adalah potret seorang lelaki yang mencintai negara dan sesama warganya secara mendalam, namun juga ingin mengungkap penindasan pemerintah terhadap hak-hak individual.
Setelah karya Sarang Burung, Ai menuju layar seni internasional, namun Twitter yang ia gunakan untuk menyuarakan aspirasinya dan mampu menjangkau lebih luas di seluruh dunia justru mendapatkan murka dari pejabat China yang telah menutup blog pribadinya.
"Weiwei berbicara tentang semua kemungkinan yang menarik di internet dengan baik sebelum Arab Spring dan Wikileaks dan semua hal ini pada isu-isu terkini," kata Klayman.
Namun, seperti "Never Sorry" yang melukiskan potret seorang seniman dan menyoroti kehidupan orang China, Klayman juga berharap hal tersebut menantang penonton barat untuk mengekspresikan diri mereka tanpa rasa takut ada kecaman baik keluarga, teman, ataupun pemerintah.
"Ini benar-benar membuat orang terinspirasi untuk berfikir, ’Apa yang bisa saya lakukan di dunia saya, dan di mana saya harus meletakkannya di luar sana, meletakkannya sesuatu pada tempatnya, menanggung resiko untuk membuat dunia saya menjadi lebih baik," kata Klayaman. (ANTARA/Reuters)