Jumat, 24 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 24 Mei 2013 | 09:39 WIB
Penari Ditta Miranda, Berkiprah di Gelanggang Internasional
Selasa, 31 Juli 2012 | 19:48 WIB
Dibaca:
|
Share:

indonesiarayanews.com
Ditta Miranda Jasjfi

Satu-satunya penari Indonesia yang berkiprah di kelompok tari ternama di dunia yang dipimpin oleh Pina Bausch.

Lahir tahun 1967, ketika usia lima tahun sudah keranjingan menyaksikan seni pertunjukan, terutama tari. “Di kursi penonton, saya menirukan setiap gerakan penari yang sedang pentas.Ibu saya bilang, hal itu bener-bener bikin malu,“ ujar Ditta.

Pada usia 7 tahun ia telah ‘melalap’ sejumlah tari tradisi, mulai dari tari Bali, Betawi, Jawa hingga Padang. Ia juga belajar ballet di sekolah Tari Sumber Cipta yang didirikan oleh Farida Oetoyo. Walau tidak lama, ia juga sempat menjadi pengajar di Sumber cipta.

Pada suatu masa, Ditta sempat berusaha mencoba menjadi jalan ‘normal’ bagi anak muda, yaitu meneruskan sekolah ke Perguruan Tinggi. Selama 3(tiga) tahun ia mengecap pendidikan sastra Jepang di Universitas Nasional.
Namun kata hatinya tidak bisa diingkari.Ia pun meninggalkan sastra Jepang tersebut untuk memenuhi tawaran untuk sekolah tari di Jerman. “Saya tidak bisa mendua, pilihan saya akhirnya jatuh pada dunia tari”.

Di Jerman, pada tahun 2000, Ditta Miranda mengikuti audisi untukk menjadi penari pada kelompok tari yang dipimpin Pina Bausch. “Ada 300 peserta, padahal Pina hanya mencari 1(satu) penari.Beruntung saya terpilih” katanya. (Iwan Setiawan)

Bagaimana perjalanan dan jatuh bangun Ditta di negri orang? Ikuti wawancara berikut ini.

Tanya: Bisa ceritakan proses audisi yang anda jalani, sehingga bisa menjadi bagian dari Kelompok tari yang dipimpin oleh Pina Bausch….
Jawab: Saya mengikuti Audisi tahun 2000, bersama lebih dari 300 penari lain. Pina Bausch hanya mencari 1 penari. Ada beberapa test yang harus saya lewati, seperti tes Ballet, modern dan lainnya. Dari 300  terpilih 7 orang, kemudian ada interview hingga kemudian saya terpilih.

Namun itupun tidak langsung diketahui saat itu. Kepada saya, Pina Bausch beberapa kali menyatakan bahwa saya memiliki personality yang baik, selain kualitas teknis yang juga baik. Namun ia beberapa kali menakankan mengenai personality. Di sisi lain, ia juga mengatakan bahwa postur saya terlalu kecil . Penari-oenari dalam company nya, semua tinggi. Saya tidak bisa bilang apa-apa.

Namun kemudian Pina bilang,”Kasi saya waktu dan hubungi saya terus.Kapan saja saya bisa berubah pikiran “. Sejak itu saya menelpon Pina setiap hari. Kadang beberapa kalu setiap hari. Dan jawabannya selalu,”belum ada perkembangan”.

Saya sempat frustasi. Bahkan saya sudah hampir beli tiket untuk pulang ke Indonesia. Mama saya senang sekali mendengar anak perempuannya mau pulang dan menetap di Indonesia. Mama saya mau datang untuk bantu packing. Namun saat itu juga saya ditelp pihak Pina Bausch yang mengatakan bahwa Pina menawarkan kerjasama dan sejumlah koreografi sudah disiapkan untuk saya. Bahkan jadwal tour.Saya benar-benar ga tahu mau bilang apa. Sponton saya bilang,”saya mau ke Indonesia.”

Tapi mereka terus memimta saya untuk berpikir dan akhirnya saya memang memutuskan untuk masuk dalam company Pina Bausch.

Tanya: Bagaimana hari-hari anda selama di sana….

Jawab: Setiap hari saya latihan mulai jam 10 pagi dan istirahat ada jam 15.00 sampai jam 17.00, lalu latihan lagi sampai jam 22.00 . begitu setiap hari. Kami hanya libur pada hari senin. Saat libur biasanya kami gunakan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari, membereskan rumah dan bergaul satu sama lain
Tanya: Setiap tahun, anda pulang ke Indonesia. Apa yang anda lakukan?

Jawab: Saya selalu tidak bisa melupakan makanan di Indonesia. Saya selalu melakukan wisata kuliner, terutama Mie ayam. Saya punya satu langganan Mie ayam, yang selalu saya datngi setiap kali saya pulang. 2. Bertemu dengan tante Farida Oetoyo, orang yang paling berjasa buat saya dalam dunia tari.Kepada dia biasanya saya berkueluh kesah dan dia juga yang senantiasa member dorongan semangat. Dan terakhir tentu saja keluarga. Saya menghabiskan waktu dengan papa dan mama.

Tanya: Saat ini anda bisa jadi telah dikenal dunia sebagai penari.Namun bagaimana anda mengawali karier anda?

Jawab: Umur 5 tahun, ketika tinggal di Paris saya sudah sering diajak menonton berbagai pertunjukan. Waktu itu, mama bilang, saya tidak pernah bisa diam.Ketika dipanggung menari, maka saya langsung menirukan di bangku penonton. Mama bilang,” bikin malu”.

Pada usia 7 tahun, ketika pindah ke Indonesia saya tidak tahan untuk belajar tari. Namun karena belum ada sekolah ballet atau modern dance, saya belajar tari tradisi. Hampir semua tari tradisi saya belajar. Baru pada usia 10 tahun saya ikut kelas di Sumber cipta. Waktu itu kelasnya masih sangat sederhana.

Yang paling berkesan adalah ketika usia 12 tahun, saya menyaksikan Pina busch bersama companynya pentas di Taman Ismail marzuki. Waktu itu mereka membawakan tarian berjudul Rites of spring. Saya masih ingat betul, sambil memegang paying karena kehujanan, saya menyaksikan dengan penuh kagum.

Pada tahun 2000, ketika saya diterima dalam company Pina Bausch, saya ditawari untuk membawakan tarian Rites of spring,-yang saya saksikan ketika saya berusaia 12 tahun ! Tidak bisa dibayangkan seperti apa rasanya.
Salah satu hal menarik dari Pina, adalah prosesnya dalam membuat koreografi. Bisa ceritakan bagaimana proses pembuatan setiap koreografi?

Prosesnya sangat menarik dan ia sangat menitik beratkan pada pentingnya menjadi diri sendiri. Jangan malu dan jangan juga menghias diri. Tampil lah apa adanya.

Awalnya sebagai personil baru, saya malu dan sangat rendah diri. Namun Pina menakankan saya, bahwa sampai saya diterima di dalam company tersebut, berarti saya sama dengan yang lain. Namun tetap saja tidak bisa menolong saya yang memang pemalu ini.

Dalam setiap pelatihan atau proses membuat koreografi, Pina menyebut sebuah kata atau pertanyaan yang meminta kita untuk merespon dengan menggunakan gerakan.
Misalnya “Love’, maka semua penari akan membuat gerakan mengenai cinta, lalu kangen,  kehilngan, dan sebagainya.

Kemudian Pina akan memilih dan memadukan semua gerakan yang menurutnya powerfull. Kesulitannya, kadang ketika membuat gerakan, kita hanya mengalir. Ketika ia minta untuk mengulang dan memadukan dengan yang lain, kita sudah lupa !Untuk itu perlu konsentrasi dan kepekaaan rasa untuk dapat mengikuti sertiap arahan darinya.
Ia tidak pernah marah.Namun dari cara ia melirik kita tahu apa yang ia mau atau kesalahan apa yang kita perbuat
Pelajaran yang sangat dirasakan selama dengan Pina?

Saya pernah membawakan sebuah tarian, lalu mendapat pujian.Saya merasa senang dan ternyata rasa senang ini terus terbawa ke dalam pentas berikutnya.Padahal tidak seharusnya tarian itu dibawakan dengan rasa senang, ekspresi penuh senyum . Saya mendapat teguran.

Dari pelajaran ini saya paham.Sebagai penari diperlukan pembawaan emosi yang dewasa dan matang. Tidak melambung ketika dipuji dan tidak tersungkur ketika mendapat kritik. Yang terpenting adalah bagaimana membawakan tarian sebaik-baiknya

Tanya: Di mana anda, ketika Pina Busch meninggal?

Jawab: Saya bersama teman yang lain sedang menyiapkan sebuah pentas di Polandia. Jam 1 siang kami mendapat kabar, sedangkan jam 18, harus pentas. Waktu itu kami menari dengan sebuah musik yang berjudl the story is over. Sepanjang menari kami benar-benar bercampur aneka rasa. Tidak tahu harus bagaimana
Ketika usai, kami berbaris dan berhormat pada penonton. Kami mengosongkan satu tempat yang sedianya untuk Pina. Kami membayangkan Pina bersama kami, member hormat pada penonton
Lebih darii 2setengah jam penonton terus bertepuk tangan dan tidak berhenti, terus berdiri.

 

Editor :
Jodhi Yudono