KOMPAS IMAGES/I MADE ASDHIANA
ilustrasi
DENPASAR, KOMPAS.com--Seni tabuh dan tari dalam membutuhkan kritik dari masyarakat untuk kemajuan kesenian tradisional Bali itu, kata pengamat seni Dewa Ketut Alit di Denpasar, Selasa. Ia menjelaskan bahwa gagasan musik tersebut berawal dari pemikiran komponis tentang hubungan dan pengaruh genetika kedalaman proses perubahan yang terjadi secara alami, berkesinambungan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
"Sesuatu yang dinilai rusak atau berbeda dari ketentuan-ketentuan umum pada hakekatnya tidak serta merta merugikan, namun bisa lebih berguna pada saat bersentuhan dengan pola kehidupan yang lain," kata pengajar tabuh dan tari di sejumlah perguruan tinggi seni mancanegara itu.
Persentuhan itu tanpa disadari secara kebetulan berhubungan langsung dengan keberadaan habitatnya sehingga pertemuan di luar kontrol itu pada titik-titik tertentu sangat menguntungkan.
Dampak positif itu sesuai dengan kebutuhan sebagai pendukung keberlangsungan hidup yang bersifat fundamental. Dalam kurun waktu yang cukup panjang dari satu generasi ke generasi berikutnya hal-hal yang tidak cocok dari hasil pertemuan itu akan punah.
"Oleh sebab itu, yang bisa bertahan hidup adalah bagian-bagian yang sesungguhnya brsumber pada sesuatu yang dianggap rusak yang kemudian berevolusi hingga membentuk pola-pola umum yang bersifat baru (genetik)," ujar Dewa Alit.