Sabtu, 1 November 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 1 November 2014 | 09:59 WIB
Kesenian Madihin Masih Ada
Selasa, 31 Juli 2012 | 12:59 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

google.com
Seni Madihin

Tak semua orang mampu membawakan kesenian Madihin, seni sastra daerah Banjar yang dibawakan secara bertutur dan sarat dengan petuah.

Di Banjar, kesenian ini dibawakan di hadapan orang banyak. Bisa pada saat pesta pernikahan, orang yang hendak pergi haji, menjamu tamu istimewa. Atau, pada perayaan hari besar pun Madihin bisa ditampilkan. Tegasnya, pada kesempatan apa saja, madihin bias ditampilkan. Tergantung permintaan.

Kesenian ini bisa ditampilkan oleh seorang diri dengan diiringi sebuah musik rebana. Bisa pula dua atau tiga orang di atas pentas sekaligus. Jika dibawakan dengan dua orang atau lebih, pantun yang disampaikan ke hadapan publik biasanya saling bersahut-sahutan. Jika disimak, merupakan satu untaian kata-kata tersusun apik menjadi rangkaian kalimat yang sarat dengan muatan nasihat.

Tapi, bukan berarti jika dibawakan sendiri lantas menjadi monoton. Kualitasnya pun tak kalah dengan yang dibawakan dua atau tiga orang. Cuma saja, gayanya monolog dengan tetap mempertahankan kualitas rangkaian kata menyerupai pantun yang meluncur dari sang pembawa kesenian Madihin, atau bisa pula disebut pemadihin.

Kesenian ini juga kadang dijadikan sebagai alat penyuluh pertanian dan keluarga berencana. Karena pesan yang disampaikan melalui pantun dan kalimat-kalimat jenaka, religius dan sarat nasihat, maka tak heran Madihin menempati posisi tersendiri di hati masyarakat muslim di Banjarmasin.

Menurut  Wikipedia,  Madihin (berasal dari kata madah dalam bahasa Arab yang berarti "nasihat", tapi bisa juga berarti "pujian" adalah sebuah genre puisi dari suku Banjar. Puisi rakyat anonim bergenre Madihin ini cuma ada di kalangan etnis Banjar di Kalsel saja.

Sehubungan dengan itu, definisi Madihin dengan sendirinya tidak dapat dirumuskan dengan cara mengadopsinya dari khasanah di luar folklor Banjar.
Menurut pendapat Alan dalam Danandjaja (1997: 1) folklor adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenalan fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok-kelompok lainnya.

Tajuddin Noor Ganie (2006) mendefinisikan Madihin dengan rumusan sebagai berikut : puisi rakyat anonim bertipe hiburan yang dilisankan atau dituliskan dalam bahasa Banjar dengan bentuk fisik dan bentuk mental tertentu sesuai dengan konvensi yang berlaku secara khusus dalam khasanah folklor Banjar di Kalsel. Untuk bisa membawakan kesenian ini, seperti diungkapkan Ahmad  Syahrani S.Ag pembawa kesenian Madihin dari Banjarmasin "tidaklah semudah membalikan telapak tangan".

Syarat

Kesenian ini memang bisa dipelajari, katanya. Tapi, prosesnya sangat panjang. Pasalnya, orang yang hendak menjadi seniman Madihin, punya persyaratan khusus, yaitu: (1) harus memiliki dasar  agama yang kuat dan "bersih" (maksudnya, terbebas dari perbuatan maksiat dan taat agama), (2) memiliki kecerdasan di atas rata-rata, berwawasan luas. Yang penting lagi, orang bersangkutan (3) punya garis keturunan.

Ketiga persyaratan itu memang tidak mutlak. Tapi jika kesemuanya dimiliki, tentu akan lebih mudah menjadi seniman madihin. Misalnya, jika orang memiliki garis keturunan dengan "Datuk Pulung" - leluhur orang Banjar yang memiliki keahlian Madihin - proses untuk menjadi seniman Madihin akan jauh lebih mudah dibanding pihak luar.

Tapi, itu saja belum cukup. Jika ingin tampil di pentas atau manggung, seorang seniman Madihin harus menjalani kegiatan ritual tertentu. Selain sehari-hari tak boleh meninggalkan sholat lima waktu, yang bersangkutan pun memperbanyak sholat sunah dan mperbanyak baca Alquran.

Menurut , Syahrani yang mengaku punya nama lengkap H. Ahmad Syahrani bin Abdul Murid Ibrahim bin Hasubullah bin Dabil Aqil Abdullah, ada beberapa surat yang harus dibaca, yaitu: Surat Albaqarah, As Sajdah, Yasin, Al Juma , Al Insan, ’Amma Yatasa’alun, Surat An-Nis¿’. Itu bukan berarti surat lain tak penting. Tetap saja harus dibaca. Cuma penekanannya lain.

Madihin tidak hanya disukai oleh para peminat domestik di daerah Kalsel saja, tetapi juga oleh para peminat yang tinggal di berbagai kota besar di tanah air. Salah seorang di antaranya adalah Pak Harto, Presiden RI di era Orde Baru ini pernah begitu terkesan dengan pertunjukan Madihin humor yang dituturkan oleh pasangan Pamadihinan dari kota Banjarmasin Jon Tralala dan Hendra.

Saking terkesannya, Soeharto ketika itu berkenan memberikan hadiah berupa ongkos naik haji plus (ONH Plus) kepada Jon Tralala. Selain Jhon Tralala dan Hendra, di daerah Kalsel banyak sekali bermukim Pamadihinan terkenal, antara lain : Mat Nyarang dan Masnah pasangan Pamadihinan yang paling senior di kota Martapura), Rasyidi dan Rohana(Tanjung), Imberan dan Timah (Amuntai), Nafiah dan Mastura Kandangan), Khair dan Nurmah (Kandangan), Utuh Syahiban Banjarmasin), Syahrani (Banjarmasin), dan Sudirman(Banjarbaru). Madihin mewakili Kalimantan Timur pada Festival Budaya Melayu.

Karena seniman Madihin kini semakin makin langka, Syahrani berharap pemerintah setempat memberi perhatian agar tetap lestari. Kesenian ini ada tiga golongan, yaitu: (1) madihin kocak, (2) tradisional dan (2) da¿wah. Syahrani sendiri lebih suka membawakan madihin dakwah.

Ahmad Syahrani belajar kesenian madhin sejak kecil, belajar dari orangtua. Pada 1993, ia sudah terpilih sebagai seniman madihin ketika tampil di TVRI Jakarta. Setelah itu karirnya terus menanjak.

Menurut pengagum mantan Menteri Agama H. Muhammad Maftuh Basyuni ini,  kesenian ini sangat efektif untuk memberikan pemahaman dan pencerahan bagi masyarakat  terhadap berbagai persoalan aktual saat itu.

Ayah dari dua anak ini mengatakan, di daerah lain memang ada kesenian yang menyerupai madihin. Seperti di Pontianak, seni bertutur itu disebut Dundang, di Makassar disebut Sindrele.

"Kalau di Jawa, saya tak tahu apa namanya. Di Jakarta juga ada yang mirip-mirip, cuma dalam bertuturnya dalam bentuk cerita seperti yang dibawakan Ahmad Ja’id," katanya.

Jenis-jenis kesenian bertutur ini, kini semakin langka. Padahal, jika pemerinah punya kepedulian, efektifitasnya masih memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan pembangunan dan pencerahan bagi masyarakat. "Meski kini sudah era internet dan globalisasi, madihin masih punya daya pikat tersendiri," ia menambahkan.

 

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono