Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
Oleh Nikolas Panama
Menikmati sentuhan angin di perairan yang memisahkan Pelabuhan Sri Bintan Pura dengan Pulau Penyengat. Sinar matahari yang masih tertutup awan tebal, membuat suasana semakin teduh.
Sepasang bocah berlari mengejar perahu di Pelabuhan Tanjungpinang. Puluhan perahu berjejer diparkir di tepian tangga pelabuhan.
Cuaca yang bersahabat di Minggu pagi itu membulatkan niat Niel Putri Andini (10), bersama adiknya, Niel Rizky Sakti (7) untuk mengerjakan shalat Zuhur di Masjid Sultan Riau di Pulau Penyengat.
Uang sebesar Rp5.000 yang dibayar kepada pemilik perahu akan mengantarkan mereka ke Pulau Penyengat. Bersama penumpang lainnya, kakak beradik itu duduk di bangku yang terbuat dari papan.
Angin membuai sepasang bocah yang menahan lapar di atas perahu kecil yang akan mengantarkan mereka ke Pulau Penyengat. Ini adalah pengalaman pertama mereka berwisata ke Pulau Penyengat. "Kami berdua puasa, belum ada bolong sejak awal Ramadhan hingga sekarang," kata Andini yang saat ini duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar.
Di atas perahu berukuran sekitar lima meter itu, Andini bersama Rizky mengambil gambar dirinya dengan menggunakan telepon genggam. Mereka juga mengabadikan ombak kecil yang bergulung di sekitar perahu dan keindahan yang ditemukan selama dalam perjalanan.
Selama sekitar 10 menit mereka tiba di Pelabuhan Pulau Penyengat. Dari pelabuhan sudah terlihat bangunan gagah berwarna kuning.
Bangunan yang sejak dulu dijadikan sebagai pusat peribadahan umat Islam itu ternyata bukan cerita dongeng, melainkan kenyataan. Selama ini Andini hanya dapat melihat bangunan itu di buku sejarah yang menceritakan kejayaan Kerajaan Riau di Pulau Penyengat. Masjid itu memiliki panjang 20 meter dan lebar 18 meter. Pembangunan masjid itu menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat.
Di dekat pagar masjid terdapat papan pengumuman yang menyebutkan masjid itu merupakan cagar budaya, yang dibangun Sultan Mahmud pada tahun 1803. Kemudian Masjid Sultan Riau diperbaiki semasa Pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdul Rahmad. "Wah begitu indah Masjid Sultan Riau ini," katanya sampai menulis status di akun facebook-nya.
Setelah mengambil air wudhu, Andini dan Rizky mengerjakan shalat sunat untuk menghormati masjid. Kemudian mereka mengelilingi masjid. Empat tiang beton merupakan pondasi utama dalam pembangunan masjid tersebut.
Di masjid itu juga terdapat empat menara, tempat bilal mengumandangkan azan. Ditemukan pula 13 kubah berbentuk bawang dan Rumah Sotoh atau tempat pertemuan. Kedua bocah berprestasi di sekolahnya itu juga mengobrol dengan Suud, penjaga masjid. Mereka banyak bertanya kepada Suud, salah satunya tentang Alquran yang telah uang yang berada di dalam kotak kaca.
Suud menceritakan, dua Alquran yang merupakan tulisan tangan dari penduduk Pulau Penyengat, Abdurrahman Stambul. Karya yang menakjudkan itu diciptakan setelah Abdurrahman berguru di Mesir selama bertahun-tahun, dan kembali ke Pulau Penyengat sebagai seorang guru yang dikenal dengan sebutan "Khat" gaya Istambul.
"Alquran itu selesai dikerjakan pada tahun 1867. Keistimewaan Alquran mushuf Abdurrahman Stambul ini adalah banyaknya penggunaan ’ya’ Busra serta beberapa rumah huruf yang titiknya sengaja disamarkan sehingga membacanya cenderung berdasarkan interpretasi individu sesuai akal dan ilmunya," kata Suud.
Istana Kantor
Perjalanan Andini dan Rizky dilanjutkan hingga ke Kompleks Istana Kantor seluas satu hektare yang dibangun Raja Ali Haji, Yang Dipertuan Muda Riau VIII (1844-1857). Bangunan itu rusak parah, dan kotor.
Pada menara yang dibangun di pagar Istana Kantor terdapat coretan-coretan dan banyak sampah yang mengeluarkan bau busuk. "Pintunya sengaja dikunci, mungkin karena kotor," kata Andini.
Di dekat Komplek Istana Kantor terdapat Gedung Mesiu, tempat penyimpanan obat bedil. Gedung Mesiu ini memiliki satu kubah bertingkat dan jendela kecil berjeruji besi. Perjalanan dilanjutkan ke makam Yang Dipertuan Muda Riau VII Raja Abdul Rahman. Dua nisan di makam kokoh itu terdapat kain berwarna kuning, sama seperti makam lainnya yang berada di sekitar makam Raja Abdul Rahman. Abdul Rahmad memerintah Kerajaan Riau-Lingga pada 1832-1844.
Pahlawan Nasional
Perjalanan Andini dan Rizky kemudian terhenti di sebuah rumah di dekat Pelabuhan Pulau Penyengat. Rumah itu milik seorang budayawan ternama di Kepri, Raja Malik Hafrizal.
Raja Malik merupakan teman dari ayah Andini. Kehadiran Andini di rumah sederhana itu disambut baik Raja Mali. Raja Malik mengatakan, Pulau Penyengat menyimpan banyak cerita. Budaya melayu dan kerajayaan melayu cukup banyak di belahan dunia, tetapi jantung budaya melayu berada di Pulau Penyengat.
Pulau Penyengat sendiri tidak hanya sebagai tempat pertemuan ulama terkemuka, melainkan juga telah melahirkan dua pahlawan nasional. Kedua pahlawan itu merupakan satu keturunan, namun teknik perjuangan mereka tidak sama.
Raja Haji yang berkuasa pada tahun 1700-an berhasil menghalau tentara Belanda dari Kerajaan Riau-Lingga dengan menggunakan senjata, sedangkan cucunya, Raja Ali Haji, berjuang dengan menggunakan pena.
Karya Raja Ali Haji yang terkenal adalah Gurindam 12, yang berisi petuah atau nasehat untuk manusia. Raja Ali Haji juga banyak melahirkan syair-syair ternama. "Bahasa Indonesia berasal dari bahasa melayu yang dibina di Pulau Penyengat selama ini," kata Raja Malik.