DOKUMENTASI TRANS7
Ilustrasi: Opera Van Java.
Budi Suwarna
Acara komedi televisi hampir tidak mengenal waktu. Komedi cukup lentur untuk ditempatkan kapan saja, termasuk selama Ramadhan. Sederet acara komedi berebut perhatian pemirsa sejak waktu sahur, siang, menjelang waktu berbuka, hingga malam hari.
Di Trans TV ada komedi Sketsa yang menampilkan komedi instan a la televisi. Setiap episode Sketsa terdiri dari 20-30 lelucon pendek.
Setiap lelucon yang berdurasi sekitar 30 detik biasanya terdiri dari satu adegan pengantar dan satu adegan peletup tawa. Pada adegan penutup itulah, logika dijungkirbalikkan untuk memicu kelucuan. Tengoklah salah satu lelucon yang mereka sodorkan.
Di sebuah masjid, seorang penjaga tempat penitipan sandal dan sepatu tampak berseri-seri. Betapa tidak, jemaah yang menitipkan sandalnya hampir tidak pernah berhenti. Terakhir ada seorang laki-laki bertanya,
”Boleh nitip sandal Pak?”
”Tentu saja boleh.”
Lantas, laki-laki itu berteriak,
”Woi! Di sini boleh nitip sandal....”
Sejurus kemudian datang dua laki-laki lain sambil menggotong meja besar yang di atasnya ada setumpuk sandal. ”Pak, nitip jualin sandal ini, ya,” kata mereka sambil berlalu dan masuk ke dalam masjid.
Acara reguler ini selama Ramadhan tampil dua kali sehari, yakni sore dan malam hari. Pada sore hari, acara ini bernama Sketsa dan pada malam hari diberi embel-embel Ramadhan menjadi Sketsa Ramadhan. Meski demikian, bentuk dan gaya leluconnya sama saja.
”Stand Up” vs keroyokan
Kompas TV menyodorkan acara Saatnya Indonesia Berbuka yang dimainkan oleh komedian atau komik-komik yang terlibat dalam acara Stand Up Comedy Indonesia, seperti Ernest Prakarsa, Ge Pamungkas, Boris Bokir, Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika, dan Topeng. Di acara ini, selain melawak secara tunggal, para komik juga dituntut melawak secara keroyokan dalam satu grup. Dalam sebuah episode, Ernest, Boris Bokir, Ge Pamungkas, Topeng, dan Pandji bermain di satu panggung.
Ernest berperan sebagai pemilik toko kelontong, sedangkan Boris Bokir berperan sebagai tukang tambal ban yang beralih menjadi tukang sayur. Namun, lawakan mereka secara grup kadang kurang menonjok dibandingkan ketika tampil sendirian. Banyak peluang tawa yang kurang direspons dengan jitu oleh komik. Refleks dan interaksi spontan pemain belum tumbuh.
Topeng yang bernama asli Frendy Pradana Putra mengakui melawak secara tunggal ternyata sangat berbeda dengan melawak secara kelompok. ”Ketika melawak secara grup, kami harus benar-benar kenal karakter dan gaya lawakan lawan main. Kalau tidak, tek -ok-nya belum tentu dapat,” ujar Topeng.
Buat Pandji, melawak tunggal lebih leluasa karena bisa ngomong apa saja. ”Kalau secara grup, kami harus berbagi lawakan,” ujarnya.
Dalam lawak tunggal stand up, komik harus memperhatikan pengaturan waktu (timing). ”Kapan harus membuat set up, kapan memberi punch line, kapan memainkan tempo, kapan menunggu jeda tawa penonton. Nah, kalau semakin banyak orang yang main dalam satu panggung, semua itu sulit dilakukan,” papar Pandji.
Kemampuan mereka tampil sebagai pelawak tunggal sebenarnya bisa disatukan jika naskah memberi ruang yang cukup bagi setiap komik untuk ber-stand up. Tampilan tunggal masing-masing komik bisa dijahit dalam satu rangkaian cerita. Tidak perlu memaksakan para komik untuk berinteraksi dalam lawak model keroyokan yang memang bukan ranah para komik. Model lawakan ini sudah dicoba dalam Komedi Koper di Taman Ismail Marzuki, Februari lalu. Kebetulan komik seperti Ernest Prakasa dan Boris Bokir yang tampil Kompas TV itu juga tampil dalam Koper dan berhasil.
Lawak tradisi
Untuk melawak secara grup, Srimulat masih jadi rajanya. Selama Ramadhan, mereka tampil setiap sahur di Indosiar. Gaya melawak mereka nyaris tidak berubah, yakni mengandalkan improvisasi spontan.
Tengoklah ulah Tessy ketika Eko mengabsen nama-nama para bidadari dalam sebuah episode dengan lakon yang diambil dari cerita rakyat Joko Tarub. Dengan senyum kenes Tessy tiba-tiba menyeruak di tengah barisan para bidadari cantik jelita sambil berteriak, ”Saya Tessy....”
Permainan kata-kata juga masih menjadi senjata untuk mengocok perut penonton. Lihatlah Polo ketika mendefinisikan kata berita. ”Berita adalah sesuatu yang harus disampaikan. Kenapa harus disampaikan? Karena itu adalah berita,” ujar Polo yang diikuti tawa penonton.
Cerita lawak yang ditampilkan tetap bersumber pada urusan domestik dan legenda rakyat. Meski begitu, Srimulat berusaha mengaktualkan lawakannya dengan isu atau peristiwa baru. Tarzan, misalnya, mengingatkan para dewi dalam lakon Joko Tarub agar hati-hati jika terbang di sekitar gunung. ”Kondisi cuacanya bisa menyulitkan Bidadari Airways,” kata Tarzan.
Awak Srimulat memang mempunyai jam terbang meyakinkan untuk urusan lawak spontan. Mereka besar di panggung dan sudah mengenal karakter gaya masing-masing personel. Mereka bahkan telah mempunyai perbendaharaan pola-pola lawakan yang sudah menjadi semacam template yang sewaktu-waktu bisa dilontarkan jika saatnya memungkinkan.
Gogon, misalnya, mencari-cari wajah Polo dari jarak dekat, dan dia hanya melihat punggungnya. Itu gaya khas srimulatan yang dari waktu ke waktu disodorkan di panggung mana pun dan tetap bisa memancing tawa. (XAR)