Rabu, 22 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 22 Mei 2013 | 08:25 WIB
Lagu Jelata: Tahuu... Tempe...
Minggu, 29 Juli 2012 | 21:15 WIB
Dibaca:
|
Share:

KOMPAS.com/ Junaedis
Ilustrasi

Lagu ”Tahu Tempe” yang dibawakan penyanyi Oslan Husein belakangan diperdengarkan oleh sejumlah radio dan stasiun televisi di Jakarta. Lagu itu menjadi pengiring pemberitaan tentang keresahan perajin tahu tempe menyusul langkanya kedelai impor sebagai bahan baku.

Oslan Husein (1931-1972) bersama Orkes Widjaja Kusuma memopulerkan ”Tahu Tempe” pada awal era 1960-an. Kita simak lirik lengkapnya yang dilantunkan dengan logat Betawi oleh penyanyi berdarah Minang tersebut.

Tahuu... Tempee...
Tahu tempe kacang dele
Itu makanan utame
Dimasak pake minyak kelape
Hidangan rakyat jelate

Tahu tempe cabe rawit
bikin mulut komat kamit
nasinya panas kecapnya manis
bibir pedes sampe mringis


Reff

O... mau beli
Banyaklah di warung nasi
Li-hat si Ro’i pengen beli sampai ngantri

Tahu tempe orang kate
Itu dielah namanye
Makanan kite yang istimewa
Adanya di Indonesia

Lagu tersebut termuat dalam album berupa piringan hitam bertajuk Hanja Ada Satu-Oslan Husein terbitan Irama dengan kode produksi LPI 17583. Album berformat long play itu memuat sepuluh lagu, antara lain yang sangat populer adalah ”O Mama” (saya minta kawin) dan ”Lebaran” yang akan banyak diputar di seputar Lebaran. Juga lagu-lagu yang kebetulan terkait dengan makanan, seperti ”Es Mambo,” ”Sepiring Nasi,” ”Singkong Rebus,” ”Nasi Djagung”, dan ”Sandang Pangan”.

Menarik dicermati adalah pilihan tema lagu dan lirik yang dekat dengan realitas kehidupan rakyat banyak. Lirik menggunakan bahasa sehari-hari, tanpa idiom-idiom yang mengawang-awang. Lirik tak beda jauh dengan bahasa tuturan sehari-hari, persis seperti tempe yang disebut dalam lagu sebagai ”hidangan rakyat jelate”.

Semangat serupa menaungi lagu ”Singkong Rebus”: ”Makanan rakyat bermanfaat/ Menimbulkan kan gairah semangat/ Terkenal bagi rakyat desa/ Juga yang tinggal di kota. Dan simak refreinnya: ”Singkong Rebus Bung, kopi seteguk/ Marilah duduk bung, singkongnya empuk.”

Bung Karno

Tema lagu yang terkait dengan makanan tersebut merupakan respons atas ucapan Presiden Soekarno dalam sejumlah pidato yang menandaskan bahwa Indonesia kaya makanan. Musisi Syaiful Nawas, di sampul belakang album Oslan Husein, memberi catatan.

”Presiden/Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno menegaskan sampai beberapa kali: Indonesia dengan rakyatnya tidak akan lapar karena Indonesia banyak makanan.”

Ucapan Bung Karno juga direspons album Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso terbitan Irama yang menampilkan penyanyi Bing Slamet, Titiek Puspa, Nien Lesmana, dan Rita. Album ini bahkan memuat lagu

ciptaan Bung Karno, ”Bersukaria”.

Kita kutip bait berupa pantun: ”Siapa bilang bapak dari Blitar/ Bapak kita dari Prambanan/ Siapa bilang rakyat kita lapar/ Indonesia banyak makanan....”

Album ini bahkan mencantumkan restu Bung Karno untuk pengedaran album, lengkap dengan tanda tangan Bung Karno bertanggal 14 April 1965.

Latin vs rock n’ roll

Baik ”Tahu Tempe” dan ”Singkong Rebus” maupun lagu-lagu lain Oslan Husein digarap dengan musik berbau Latin yang memang tengah populer di Indonesia sejak era 1950-an. Orkes Gumarang pimpinan Asbon adalah salah satu kelompok musik kondang pada zamannya yang mengusung irama Latin untuk membawakan lagu-lagu berbahasa Minang. Begitu pula Orkes Rindang Banua membawakan lagu-lagu berbahasa Banjar juga menggunakan irama Latin.

 

Sekadar catatan, pada akhir 1950-an musik rock n’ roll sedang mewabah ke berbagai negara lewat Bill Haley, Chuck Berry, dan terutama Elvis Presley. Dilandasi semangat anti-imperialisme, Presiden Soekarno melarang musik berkategori ngak-ngik-ngok tersebut. Hal itu ditegaskan Bung Karno dalam pidato

pada 17 Agustus 1959 yang bertajuk ”Penemuan Kembali Revolusi Kita”.

Irama Latin tampaknya saat itu lebih aman ketimbang rock n’ roll. Meskipun demikian, ada akal-akalan juga oleh sejumlah seniman. Mereka bersiasat dengan memainkan rock dengan tempo lambat dengan lirik bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Oslan Husein, misalnya, membawakan ”Bengawan Solo” dengan gaya nyanyi mirip-mirip The Platters. Mus DS membawakan ”Neng Geulis” juga dengan balada rock.

Namun, untuk ”Tahu Tempe” Oslan Husein tetap menggunakan irama Latin, bukan rock n’ roll. Dan ternyata memang populer. Mungkin saat itu kedelai masih menggunakan produk lokal Indonesia. Jika dia tahu tempe dibuat dengan kedelai impor, dari Amerika pula, mungkin Oslan Husein akan menyanyikan ”Tahu Tempe” dengan irama rock n’ roll. Yeah.... (XAR)

 

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono