Oleh I Ketut Sutika
Sewaktu muda, sosok pria sederhana itu memang sangat lincah, yang dibuktikan dengan kiprahnya dalam menunjukkan kemampuannya di atas pentas, baik dalam bentuk tari maupun memainkan instrumen musik tradisional Bali.
I Wayan Beratha (89), seniman andal, kelahiran Anbiankapas, Denpasar 31 Desember 1923 atau 89 tahun silam, sejak muda sudah piawai dalam menguasai berbagai jenis tari dan tabuh, sehingga dipercaya untuk memimpin tim kesenian Bali untuk mengadakan lawatan ke mancanegara.
Berbagai negara di belahan dunia pernah dijelajahi suami dari Ni Made Nida, berkat kepiawaiannya dalam bidang tabuh dan tari Bali. Selain itu juga mencetak kader-kader penerus, pewaris seni budaya Bali lewat pendidikan formal maupun non formal.
Pria yang hanya mengenyam pendidikan setingkat sekolah dasar (SD) pada zaman penjajahan Belanda itu diangkat sebagai guru Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI) dan hingga sekarang tercatat sebagai dosen luar biasa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Atas prestasi dan dedikasi dalam melestarikan dan pengembangan seni budaya Bali, khususnya tabuh dan tari Bali, ayah dari tujuh putra-putri itu memperoleh anugrah Empu Seni sebuah penghargaan bergengsi atau sejajar dengan guru besar dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Wayan Rai S,MA yang menganugrahkan gelar kehormatan itu bertepatan dengan dies natalis IX dan wisuda sarjana seni X yang dihadiri seluruh civitas akademika di kampus setempat Sabtu (28/7).
Pemberian penghargaan Empu Seni kepada maestro Bali Wayan Beratha itu didasarkan atas berbagai pertimbangan dan hasil seleksi yang dilakukan oleh satu tim lembaga pendidikan tinggi seni tersebut.
Memotivasi
Prof Wayan Rai mengajak, generasi muda Bali untuk melahirkan karya-karya monumental sebagai mana mendahulunya antara lain seperti Wayan Beratha. Hal itu ditekankan mengingat ada kekhawatiran semakin langkanya karya-karya monomental yang lahir dari generasi masa kini.
Kondisi tersebut sangat ironi di saat dunia telah memasuki abad teknologi canggih dan era global. Ke depan karya monumental dalam bidang tabuh, tari Bali mesti harus dilahirkan generasi penerus agar bisa disumbangkan kepada anak-cucu.
Ia mengajak untuk melihat sosok Wayan Beratha yang sangat tekun dan peduli terhadap pelestarian seni budaya Bali, khususnya tabuh dan tari Bali.
Rai yang pernah berguru kepada Wayan Beratha, sejak usia anak-anak pernah belajar menabuh gamelan yang berirama "Pupuh Semarandanu" ciptaan I Wayan Beratha.
Hal demikian diharapkan bisa dilakukan oleh setiap generasi muda sesuai daerah dan perkembangan zamannya, sehingga seni budaya Bali tetap lestari, kokoh dan eksis di tengah gempuran Bali dari pengaruh seni budaya asing.
Prestasi, dedikasi, sumbangan pemikiran para budayawan dan seniman sangat diperlukan bagi pelestarian seni dan budaya nasional, khususnya dalam pengembangan ISI ke depan.
Prof Rai, salah seorang murid Wayan Beratha ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI) menuturkan, sosok Wayan Beratha sangat tekun dan konsisten dalam menciptakan karya-karya seni.
Lebih dari belasan karya seni, baik tabuh dan tari lahir dari garapan I Wayan Beratha. Hasil ciptaannya itu hingga sekarang berkembang di tengah-tengah suburnya kehidupan seni budaya di Pulau Dewata.
Selain mencetak kader-kader penerus dalam bidang seni budaya lewat pendidikan formal yakni SMKI dan ISI Denpasar, kakek dari sejumlah cucu itu juga dengan senang hati membina sekaa-sekaa kesenian dari satu desa ke desa lainnya di Bali.
"Beliau tidak pamrih, tidak pernah berpikir imbalan apa yang akan didapat, yang ada dalam keinginannya kesenian Bali tumbuh dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat," ujar Prof Rai yang mengaku banyak belajar "pahit-gentirnya" tabuh dan tari Bali.