Rabu, 19 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 19 Juni 2013 | 22:26 WIB
Shalawat Pun Berkumandang di Kelenteng
Sabtu, 28 Juli 2012 | 17:44 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

KOMPAS/RINI KUSTIASIH
Warga Kota Cirebon, Jawa Barat, menghadiri sahur bersama Sinta Nuriyah Wahid, istri presiden keempat RI Abdurrahman Wahid (almarhum) yang akrab dipanggil Gus Dur, Rabu (25/7), di Kelenteng Talang, Cirebon. Kegiatan ini untuk mengeratkan silaturahim antarwarga yang berbeda keyakinan dan suku-bangsanya. Kegiatan ini digagas oleh lembaga Puan Amal Hayati dan Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia.

Oleh Rini Kustiasih

Sukacita menghiasi wajah-wajah belia yang pada dini hari itu, Rabu (25/7), waktu sahur, pukul 02.00, berkumpul mendendangkan shalawat Nabi dan puji-pujian kepada Sang Khalik. Bukan di masjid atau di surau, gema kebahagiaan itu dilantunkan di halaman Kelenteng Talang, Kota Cirebon, Jawa Barat. 

Sekitar 50 anak dari Majelis Taklim Pesisir bershalawat memainkan rebana sambil berdendang. Di belakang mereka duduklah bapak-bapak tukang becak, kuli bangunan, pekerja serabutan, dan warga miskin sekitar. Sementara ibu-ibu duduk di seberang. Di antara mereka itu ada yang pedagang pasar, penjual makanan dan nasi keliling, serta ada juga yang tunawisma.

Terkecuali warna merah dan huruf mandarin yang mendominasi ruangan kelenteng, kiranya tak ada lagi yang membedakan kelenteng itu dengan riuh rendah masjid pada umumnya. Padahal, selama hampir tujuh abad, tempat itu menjadi tempat ibadah umat Konghucu di Cirebon.

Acara sahur bersama ini digagas Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin) dan Puan Amal Hayati, sebuah lembaga nirlaba, yang sejak 12 tahun silam aktif dalam perkara multikulturalisme dan pluralisme serta pembelaan kepada kelompok marjinal yang tersisih dalam relasi sosialnya lantaran berbagai alasan, antara lain karena jender, kondisi fisik, kondisi ekonomi, dan pandangan keagamaan.

”Dari empat penjuru lautan, semua manusia itu bersaudara. Orang yang berbudi baik, hidupnya harmonis dengan orang yang sama dan yang berbeda (pandangan atau suku-bangsanya). Sementara itu, orang yang berbudi rendah, hidupnya tidak akan harmonis sekalipun dengan orang yang sama,” demikian ujar Sucipto Chandra, Ketua Kelenteng Talang, mengawali acara sahur bersama itu. Ia mengutip kebajikan yang diajarkan Nabi Kong Zi dari Konghucu.

Bagi Sucipto, acara ini kian bermakna karena kehadiran Sinta Nuriyah Wahid, istri presiden keempat RI Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur. Sinta, demikian ia dipanggil, sekaligus adalah Ketua Puan Amal Hayati. Mengenakan kerudung putih tulang dan setelan baju-jarit kuning gading, Sinta adalah magnet pagi itu.

Beberapa kali Sucipto pun tercekat saat menyampaikan sambutannya. Ia tertatih menyampaikan pidato yang teksnya dibacakan itu. Namun, dari isinya ia memberi penekanan, betapa komunitas Tionghoa mengapresiasi kebijakan Gus Dur yang mencabut Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 14 Tahun 1967. Perpres itu melarang penyelenggaraan kegiatan adat-istiadat komunitas Tionghoa di Indonesia pada masa Orde Baru. Kebijakan itu dinilai melanggar hak asasi manusia.

Masyarakat marjinal

Tak pelak, sahur bersama di Kelenteng Talang itu pun menjadi ajang berkasih-kasihan antarwarga, apa pun suku-bangsa dan agamanya. Sucipto dan segenap pengurus kelenteng sudah pontang-panting menyiapkan acara itu sejak sehari sebelumnya. Sejumlah ibu panitia sudah siap di kelenteng sejak pukul 23.00. Mereka berbenah sebaik mungkin untuk menyambut saudara mereka yang Muslim untuk bersahur bersama.

Emmi (55), ibu tiga anak yang tinggal di emperan sebuah toko di Jalan Talang, misalnya, bangun tengah malam menunggu Sinta datang. Sehari-harinya ia berdagang gorengan di emperan yang sekaligus rumahnya itu. Suaminya yang kini tunanetra tak bisa lagi mengayuh becak. ”Anak saya yang satu lelaki dan satu perempuan cuma tamat SD. Tinggal satu lagi adiknya, perempuan, sekarang sudah bisa masuk kelas 1 SMA. Semoga bisa terus sampai lulus,” ujarnya.

Bapak-bapak tukang becak rupanya lebih senang lagi ada sahur bersama itu. ”Jarang-jarang sih ada sahur bersama. Saya di rumah juga sering tak bisa sahur, ha-ha-ha,” ujar Adi Guna (43), warga Gang Petik, Kecamatan Panjunan, yang sehari maksimal mendapatkan Rp 40.000 dari mengayuh becak. ”Sering kali Rp 10.000 sehari pun susah didapat,” katanya lagi.

Orang-orang seperti merekalah, menurut Sinta, yang menjadi sasaran kegiatan ini. ”Mengapa coba dipilih sahur bersama, bukannya buka bersama?” tanyanya mengajak diskusi. ”Wah, ini katanya sahur bersama, tapi kok saya belum makan, Anda sudah sahur duluan,” ujar Sinta yang disambut riuh tawa hadirin.

”Kalau buka puasa sudah biasa ya. Tapi, bayangkan kalau sahur, pasti tak semua warga sempat, kan? Mbok-mbok kuli panggul di pasar, misalnya, mereka bangun pagi sudah harus bekerja dan mungkin tak bisa menyiapkan sahur untuk keluarga atau bahkan untuk dirinya sendiri. Mereka sedari pagi sudah bekerja seharian. Lalu bapak-bapak tukang becak. Biasanya mereka tidur di becak, di kolong jembatan, atau di sudut jalan. Mereka itu berniat puasa, cuma tak sempat sahur. Ya, marilah kita berbagi dengan mereka. Yuk sahur bersama,” katanya.

Tidak hanya dengan warga miskin, agenda sahur bersama yang sudah dilakukan Sinta dengan Puan Amal Hayati dan Matakin selama 12 tahun ini ingin merangkul lebih banyak warga marjinal. ”Kaum waria, misalnya, mereka bahkan sering dianggap bukan manusia. Padahal, mereka sama seperti kita yang juga ingin beribadah. Namun, mereka sering dicurigai, dihalangi, hanya karena kondisi fisiknya. Semestinya tidak begitu, kan. Mereka saudara kita, harus kita sayangi dan hormati,” ujar Sinta yang dalam perkataannya selalu sederhana itu.

Sahur bersama kaum waria itu diagendakan pada pekan depan di halaman Kampus Ibnu Chaldun, Jakarta. Sinta juga akan sahur atau buka bersama warga penghuni lembaga pemasyarakatan (LP) di Banceuy, Bandung, dan kemungkinan diteruskan ke LP Nusakambangan dan Banjarmasin.

Wakil Ketua Puan Alam Hayati Husein Muhammad mengatakan, kegiatan semacam ini akan terus dilakukan dalam rangka menyemaikan multikulturalisme dan pluralisme, termasuk pembelaan kepada kelompok marjinal. Tidak hanya di kelenteng, tetapi juga bergantian ke gereja, pesantren, dan titik-titik lain tempat warga berada.

Di tengah sering tak hadirnya negara dalam menciptakan keadilan bagi warganya, sahur bersama pagi itu memberikan harapan. ”Banyak dari warga kita yang tersisihkan karena pandangan keagamaannya, seperti kelompok Ahmadiyah dan Syiah. Siapa lagi yang akan peduli kepada hak-hak mereka? Barang kali Ibu Sinta ini termasuk golongan yang langka,” kata Husein.

Kiranya pagi itu semua orang berbahagia. Tiada kecurigaan antarsatu sama lain. Rahmat atau kasih bagi semua makhluk sekalian alam itu rupanya hadir di kelenteng, di hati Sucipto, di hati Sinta, dan esok hari ada di sudut-sudut jalan milik pak tukang becak, serta emperan toko mbok pasar. Kasih itu melingkupi dan ada di mana-mana, hanya jika kita mau membuka mata batin....

 

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono