Bagi penikmat cerita wayang kisah kehidupan tokoh perempuan selalu menarik untuk dibicarakan. Tentang Srikandi, misalnya. Ada yang menafsirkan ia terlahir sebagai mahluk perempuan dengan chromosome lelaki sehingga sepak terjangnya tidak halus, juga tafsir yang menyatakan bahwa ia perempuan yang memiliki bakat khusus menguasai berbagai keterampilan yang umumnya dikuasai lelaki. Apalagi ia jadi wadag bagi sukma Dewi Amba yang membalas kesumatnya terhadap Resi Bisma.
Sembadra, adik Kresna yang digila-gilai oleh Burisrawa, dan Banowati istri Duryudana – raja Astinapura. Yang unik, ketiganya menjadi “istri’ Arjuna, penengah Pandawa. Poligami menjadi hal yang lumrah, yang mengindikasikan posisi dan porsi perempuan di tengah budaya lelaki.
Maka cerita tentang Drupadi menjadi unik. Karena muasalnya di India, ia adalah tokoh yang oleh pengarang Mahabarata diposisi-porsikan sebagai perempuan yang bersuami banyak, poliandri. Ia menjadi istri dari lima ksatria Pandawa. Pun Dewi Kunti, istri Pandudewanata, ibu dari Pandawa, juga “istri” Batara Surya sehingga melahirkan Karna. Yang lebih dramatik adalah dewi Gendari – yang “kawin” dengan 100 dewa hingga melahirkan seratus anak, yang kemudian disebut Kurawa.
Cerita yang berlatar agama Hindu di India berakulturasi saat merasuk ke kebudayaan Jawa – yang kala itu agama Islam sedang berkembang. Poliandri-nya dewi Kunti “tersamarkan” karena “suami” keduanya tokoh Dewa, demikianpun dewi Gendari, sedangkan Drupadi lebih diposisikan sebagai permaisuri Yudhistira, sulung dari Pandawa.
Lain Tafsir, Lain Garapan
Apa pentingnya mengutarakan posisi dan porsi perempuan dalam khasanah pewayangan? Pertama, diharapkan menjadi bagian dari proses apresiasi bagi apresiator utamanya remaja muda Indonesia – yang sedemikian berjarak dengan budaya tradisi, apalagi di era teknologi informasi yang melaju pesat. Kedua, juga untuk menyampaikan pesan bahwa seniman yang menggauli tradisi terus menggali dan mengolah tafsir – atau paling tidak aksentuasi – terhadap cerita. Upaya ini prosesnya terus berlanjut.
“Lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya, lain seniman lain tafsir dan garapannya.” Yanusa Nugroho, sastrawan yang menjadi bagian dari komunitas seni di Bulungan, menulis tentang sosok Drupadi melalui novel “Manyura.” Cuplikannya digarap oleh koreografer Elly D Luthan bersama Deddy Luthan Dance Company mengolah-sajikan teater tari, yang meramu unsur tari Bedaya dengan gerak Banyuwangi dan Kentrungan, dengan judul “Drupadi Mulat, Ketika Perempuan di Titik Kemarahan.” Karya kedua seniman ini berbeda pula dengan karya Riri Reza yang menggarap “Drupadi” – dimainkan oleh Dian Sastrowardoyo – di pita celluloid, layar lebar. Tak hanya format, tafsirnya pun dikembang-luaskan.
Jadi ingat tulisan Adam Richardson ihwal kolaborasi, yakni proses kerjasama mulai dari menentukan strategi organisasi, tata kelola yang baik, sampai menciptakan produk-produk baru, yang diupayakan terjalin secara harmonis sekaligus dinamis. Untuk itu dalam semua hal diperlukan sekumpulan kemampuan, perspektif, dan – membuka peluang - pendekatan yang berbeda.
Itulah yang tampaknya dicobalakukan oleh Yono Daryono, penulis naskah dan menyutradarai “Testimoni Drupadi” sebagai karya ke 69 Teater RSPD Tegal, dan dipentaskan Sabtu,7 Juli, lalu, di kompleks PPIB, tepatnya di Teater Arena, Taman Budaya Tegal.
Membaca naskahnya tampak penulis tidak ingin keluar dari pakem pada umumnya. Pandawa ditipu bujuk rayu Sengkuni, patih Kurawa, main judi menggunakan dadu. Taruhannya tak tanggung-tanggung: kerajaan beserta isinya, mahkota Yudhistira, bahkan dirinya sendiri dan keempat adiknya. Tentu saja dadu sudah dimanipulasi sehingga pihak Pandawa kalah. Pihak Kurawa belum puas berlaku dhalim maka Sengkuni menantang agar Yudhistira mempertaruhkan istrinya, Drupadi. Ibarat kena hipnotis judi, itulah yang dialami Pandawa. Lagi, mereka kalah. Drupadi jadi milik Kurawa. Dursasana berusaha menelanjanginya di tengah perjamuan, namun kesaktian Kresna secara gaib melindungi Drupadi sehingga busananya tak habis-habis sampai Dursasana letih kehabisan tenaga.
Suasana tragis Drupadi dilucuti busananya, sampai berjela-jela saking panjangnya, harus disiasati karena tentu sulit untuk memperlihatkan adegan sesungguhnya. Ya, dalam garapan kali ini Yono berkehendak mengolah sajikan teater tari, karenanya ia menggandeng pasutri koreografi penari Priyambodo dan Damayanti, ilustrasi musik oleh Ki Carito dan Lincak Perkusi, skenografi Wowok Legowo, juga didukung pemain/penari lainnya.
Adegan tragis itu disimbolisasikan dengan meletakkan kurungan ayam ukuran besar mengurung sosok Drupadi, dan tiga penari berputar mengelilinginya, maupun sosok Dursasana mengangkangi kurungan itu, sementara ke lima Pandawa bersimpuh menundukkan kepala, tak berdaya.
Kita membuka catatan, I Wayan Beratha, guru tari dan tabuh Konservatori Karawitan,Kokar, Bali di Denpasar, yang menciptakan seni drama tari disingkat sendratari atau teater tari, yang menyajikan cerita atau lakon melalui tari , karawitan dan tembang. Antawacana atau narasi dalang juga disampaikan, meski perannya masih sebatas memberikan penekanan dramatik bagi adegan-adegan yang digarap-sajikan di pentas.
Nasib Perempuan
Pada pentas Teater RSPD Yon mengkolaborasikan gagasan adegan-adegan dramatik dengan koreografi dan karawitan agar menghasilkan tontonan yang dapat dinikmati. Upaya ini menjadi menarik karena pentas dilakukan di teater arena, yang penontonnya ada di tiga sisi: depan, samping kiri dan samping kanan. Ini berarti setiap pengadeganan disusun agar penonton tak merasa terganggu saat duduk di mana pun. “Gedung teater arena ini baru, dan Testimoni Drupadi jadi pentas teater yang pertamakali menggunakan fasilitas ini,” tutur Sisdiono Ahmad, tokoh seniman Tegal.
Pergulatan kreatif seharusnya dijalani oleh siapapun dalam profesi apapun. Setiap kendala selalu beserta peluang, maka justru harus disikapi sebagai tantangan dalam upaya terus mengolah-asah kemampuan. “Saya berharap pentas-pentas seperti ini terus ada di Tegal,” ujar Nurhidayat Poso, Ketua Dewan Kesenian Tegal,” Supaya apresiasi masyarakat terhadap karya seni semakin meningkat,” imbuhnya.
Termasuk kiprah seniwatinya, tentu. Nasib Drupadi adalah nasib perempuan yang nyaris berada dalam hegemoni budaya lelaki. Boleh jadi sekitar dua dasawarsa belakangan tafsirnya cenderung menyuarakan suara bathin, bahkan protes. Seperti monolog Drupadi lantang mengkritisi perilaku Pandawa, yang menjadikannya taruhan di meja judi – mirip hewan.
“Apakah itu tidak berarti apa-apa untuk kalian? Aku sangat marah atas pikiran untuk menahan kesabaran. Seorang perempuan selalu dituntut untuk bersabar, tapi ada saat untuk tidak lagi bersabar. Sudah waktunya kalian para kesatria mengambil tindakan. Kesatria ada bukan untuk dihina, karena membiarkan diri dihina berarti pula membiarkan penghinaan kepada manusia. Aku seorang perempuan dan aku masih manusia, aku tidak akan membiarkan diriku dihina..!”
(Uki Bayu Sedjati, Pengamat seni budaya, mukim di Jakarta)