Jurnal Amal
Kali ini, orang-orang berbondong-bondong berdatangan
Memikul beban salah, saling bertukar maaf
Wajah-wajah mereka penuh rekah pengharapan
Di masjid-masjid juga mushalla
Dering nada, saling bertukar bunyi
Mengalirkan kata-kata, mengharap meluangkan kekosongan
Ini, malam jurnal amal
Negeri manusia membasuh usia
Mengoreksi sisa persepsi dalam diri
Lembaran catatan berhamburan
Malaikat sibuk dalam semesta
Menyusun laporan malam Sya’ban
Malam keramat ; pertanggung jawaban
Malam melogaritmanya amal-amal manusia
Menjadi kuadrat berpangkat
Atau, sebatas nikmat sesaat
Dari tetes air mata kental penuh dosa
Malam ini lembar terakhir bernama Nisfu Sya’ban
Penghujung kesempatan melukis amal
Besok akan ditutup pada bening matahari
Pada gigil embun di subuh sunyi
Esok, terbuka jurnal baru
Terbit dari redaksi penghambaan
Jogja, Juli 2012
Prolog Ramadhan
Bulan-bulan gelap nan gerhana
Saling berganti, berlalu sudah
Terlipat rapat dalam perjalanan pulang dan pergi menuju Ilahi
Selama bulan-bulan berlalu dengan gerhana
Sungai-sungai mengalirkan air keruh
menyirami sisa umur dan sujudku
Kucari lagi apa yang aku butuh,
Di sini, pintunya kutemui
Lapang, seumpama berhektar-hektar keteduhan terhampar
Kuketuk dengan puisi,
Melangkahkan kaki
Ku dzikirkan beberapa prolog perkenalan
Lewat namamu ; Ramadhan
Kubasuh wajah muram serta sekujur tubuhku yang renta
Kusaksikan malam ini, bulan purnama
Mengekalkan dingin dan membenamkan niat
Sedang jiwaku menjerit-jerit sekarat
Menorehkan sisa dosa; nista
Menyisakan rasa haus akan maaf dan ampunan
Menghamba
Menengadahkan tangan akan hidayah
Ku ucap selamat datang,
Pada bait-baik diksi prolog
Mengameliorasi dari sudut Ramadhan
Jogja, 20 Juli 2012
Jalan Masih Panjang
Jalanku masih panjang membentang
Bersilang di tikungan tajam
Walau engkau pulang sebelum aku datang
Aku tetap bertahan mencipta ruang-ruang kosong, mengisi kehidupan
Jalanku masih panjang
Di balik musim yang berguguran dari langit-langit kalender
Aku merenda lingkaran tak berujung
Meniti jalan pada lengkung hidup
Senantiasa berucap sepi ; sunyi
Jalan masih panjang
Aku hanya gugur daun yang ditelanjangi alam
Merangkak untuk berjalan sepadan dengan orang-orang
Dan, jalanku terus saja masih panjang
Tanpa tahu di mana ia akan berhenti merentang
Jogja, 06 Juli 2012
Nurul Ilmi El-Banna. Beralamat di Desa Banuaju Timur, Batang-Batang, Sumenep. Alumni Pondok Pesantren Annuaqayah. Karyanya pernah dimuat di Antologi Bersama “7 Dalam Memoribilia” (2011), Radar Surabaya dan beberapa media lainnya. Pernah menjadi juara I dalam Lomba Menulis Cerpen dan Puisi oleh KKN UGM Yogyakarta di Banuaju Timur (2006). Kini belajar di Yogyakarta. Dapat ditemukan di alamat nurul.ilmi21@gmail.com www.werowe.blogspot.com