Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
Oleh Cut Meutia
Cut Lem salah satu penjual bakoeng aseo di pasar tardisional, Nek Yam sudah menjadi langgangan tetapnya Cut Lem. Jika sudah bertemu Cut Lem, Nek Yam tidak pernah lupa menyerahkan secarik kertas kecil dan lusuh.
Ketika kutanya tentang keberadaan kertas itu, Nek Yam bilang itu catatan utang piutangnya pada Cut Lem. Walau terkesan aneh, tapi naluriku tidak berusaha melakukan penelitian lanjutan tentang secarik kertas yang selalu di bawa Nek Yam setiap kali dia mendatangi Cut Lem si penjual bakoeng asoe. Waktu itu aku sempat berfikir, jangan-jangan Nek Yam memiliki hubungan istimewa dengan Cut Lem.
***
Sudah menjadi rahasia umum apa isi barang yang selalu dijinjing Nek Yam tiap kali perempuan tua itu pulang dari pasar tradisional. Dari jauh orang-orang kampung sudah menduga kalau isi dari belanjaan nek yam itu tak lain adalah bakoeng aseo.
Kalau ada pemeriksaan barang-barang yang dibawa oleh orang-orang kampung dari pasar tradisional oleh tentara republik, mereka selalu saja kebingungan dengan benda yang dibawa Nek Yam.
“Ini ganja ya nek?” tanya tentara republik pada Nek Yam suatu hari
“Nek Yam menggeleng dan mencoba menjelaskan bakoeng asoe dalam bahasa negeri kami, Nek Yam tidak pernah mau berbahasa indoenesia. Terlihat tentara republik tertawa, kadang-kadang tersenyum, kadang-kadang mengangguk, kadang juga menggeleng , dalam bahasa yang saling tidak difahami mereka bisa berkomunikasi dengan baik.
Entah bagaimana semua itu bisa terjadi, aku sendiri tidak mengerti, yang pasti dalam kondisi terjepi seperti saat itu, yang bisa terkadang menjadi tidak bisa, yang biasa bisa saja menjadi luar biasa.
Nek Yam itu adik emaknya emak. Nama lengkapnya Maryam binti Tgk Puteh. Ketika masih belia Nek Yam dikenal sebagai perempuan yang cantik dan pintar.
Maryam muda hidup berdampingan dengan anak-anak Jepang, dia satu-satunya anak perempuan Tgk Puteh dari istri ke-limanya. Tgk Puteh dikenal sebagai pedagan gambir yang sangat sukses ketika zaman jepang. Nek Yam selalu menceritakan kisah masa kecilnya padaku, cerita itu akan mengalir ketika kami hendak beranjak ke tempat tidur.
Mungkin sudah lebih 1000 kali Nek Yam menceritakan itu padaku. Sebenarnya aku sudah muak dengan cerita itu, tetapi aku diam saja, tidak membantah dan juga tidak mendengar, aku sibuk dengan hati dan pikiranku sendiri dan kubiarkan Nek Yam juga sibuk dengan masa lalunya.
Emak, aku dan Nek Yam selalu hidup berdampingan. Nek Yam sangat sayang padaku dan juga emak. Kalau tentara republik bertanya tentang emak, Nek Yam selalu bilang, “Si Neh lagi di kampung, di sana lagi musim padi, dia pulang untuk menggarap sawah warisan bapaknya.”
Nek Yam juga tidak pernah lupa mengingatkanku kalau ada teman-temanku yang bertanya tentang pekerjaan emak, aku harus bilang kalau emak pulang ke kampungnya menggarap sawah di sana.
Walaupun aku tahu aku tidak akan pernah bisa mendapatkan kejujuran Nek Yam, sesekali kutanyakan juga keabsahan jawaban itu pada Nek Yam. Kutanyakan di mana sebenarnya emakku, pertanyaan yang juga sama seperti yang dilontarkan tentara republik setiap kali mereka berkunjung ke rumah kami.
Kalau sudah berkali-kali kutanya, Nek Yam akan menjawab, “Kamu masih terlalu muda, tak patut selalu ingin tahu apa saja, kalau mau selamat lebih baik kamu diam saja. Kamu kan tahu ini zaman sedang tidak beres!” Kalau Nek Yam sudah berkata demikian, aku akan diam saja.
Benar kata Nek Yam, aku masih terlalu dungu dan tolol, tak patut terlalu banyak tahu tentang segalanya. Apalagi zaman sedang tidak beres. Nek Yam pernah bilang, dalam kondisi perang malaikat maut selalu bekerja lembur, bukan saja nyawa gerilyawan dan tentara republik yang akan ditarik oleh malaikat maut, bisa-bisa akupun terkena serobotannya.
“Di negeri ini hanya sebagian kecil hewan saja yang dapat di percaya, selebihnya musuh.” Lebih kurang begitulah pernyataan yang pernah keluar dari mulut Panglima Operasi Tentara Republik ketika memberi sambutan pada acara peresmian gedung Islmic Centre di negeri kami.
Coba anda fikir sendiri, jika sudah sudah masuk dalam katagori musuh maka nyawa hewan kebanyakan seperti anjing dan kucing pun bisa saja kena serobotan malaikat maut tanpa perencanaan terlebih dahulu.