Kamis, 23 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 23 Mei 2013 | 08:56 WIB
Sajak-Sajak Hasrul Eka Putra
Jumat, 20 Juli 2012 | 17:42 WIB
Dibaca:
|
Share:

blingcheese.com
Ilustrasi

Singgah

di kota yang tak pernah malam
di malam yang tak pernah berhenti terbakar
bahasabahasa larut dalam pergi dan pulang
langkahlangkah berlomba dengan ingatan akan rumah
di kota tempat bulan menaruh jangkar
dan gadisgadis yang ditimbuni mimpimimpi
semua terlihat kelebat dan lamat
seperti rindu yang tak sempat beristirahat.

Changi, 240612
***
Keluarga Tupai

ini minggu keduabelas ketika musim
memutuskan untuk menghalangi hujan dan dirimu
dari aku.
setiap hari menjadi terlalu pendek
bagiku untuk menghitung berapa umur yang tersisa
sebelum akhirnya pohon hidup akan bercabang
menjadi rantingranting yang kering.
atau berubah menjadi keluarga tupai yang setiap
pagi menemuiku, di sungai kecil yang menghubungkan
aku dan bukubuku tentang hujan dan dirimu.

minggu depan, minggu ketigabelas
aku masih berfikir apakah aku masih punya
sisa kekuatan untuk diriku:
semenjak aku disini,
aku tidak pernah lagi mendapat pelukan
--bahkan dari diriku sendiri.
maka tumbuhlah aku seperti rumput kuning,
tempat ibu tupai sering memeluk bumi, memeluk udara,
memeluk anakanaknya, lalu memeluk tupai lain sebesar dirinya:
aku pikir itu suaminya.

maka di akhir pekan ini, aku tidak mau lagi jalan pagi
di tempat rumput kuning dan tupaitupai yang
mengurus. seperti musim yang selalu cemburu.

Muncie, 050712
***
Tiga Pesan Tentang Arah dan Angin

matahari belum terlalu tinggi ketika bus memuntahkan aku
dari mulutnya yang tak henti menguyah jalanan
aku terdampar seperti anak kecil tanpa permen dan payung
semuanya terlihat dalam tanda tanya dan tanda seru
di saat begitu, aku selalu teringat pesan mu
"bawalah kompas selalu, juga payung, juga minyak pengusir angin."

sebab angin menyukai orang yang berjalan tanpa berpegangan.

Minyak Pengusir Angin
angin juga suka sekali bergelantungan di pucukpucuk daun Maple
dan seringkali berhasil membujuknya agar kembali ke tanah
kembali ke mulamula
angin juga selalu mengajakku, tapi aku telah belajar
untuk menjadi ranting Mistletoe yang dimiliki semua musim.

di tanganku selalu ada daun Maple yang dibujuk angin,
dan belum sempat berjabat tanah.

Payung
aku telah kehilangan seluruh payung
di saat yang sama saat kau menjadi hujan.

Kompas
kadangkadang, tersesat adalah perjalanan yang paling masuk akal.
aku ingat sekali itu, sebab aku tak pernah membawa kompas,
seringkali tersesat.

dan ketika ingin berada di rumah, aku cukup mengingatmu.

2012
***
Hasrul Eka Putra; Mahasiswa Ilmu Hub. Internasional, Unhas. Bergiat di Komunitas Sastra Tanpa Nama (KSTN) Gorontalo, Kontributor Jurnal Kebudayaan "Tanggomo", sembari mengelola beberapa portal online. Sekarang tinggal di Makassar dan masih terus menyusun tugas akhirnya.

 

Editor :
Jodhi Yudono