Kamis, 20 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 20 Juni 2013 | 01:52 WIB
Kayu-kayu (1)
Jumat, 20 Juli 2012 | 16:53 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Ilustrasi

Oleh Cut Meutia
 
Malam itu masih seperti malam yang sudah-sudah, bersenda dan tertawa, bermanja dalam kasih emak  sambil menemani emak mengemas barang-barang yang akan dibawanya esok pagi. Emak bilang,  akan pergi mencari rezeki ke mana saja kaki emak melangkah.

Dalam keremangan fajar yang masih diselimuti embun, emak melangkah pergi meninggalkanku yang masih terlelap di atas ranjang tua. Setelah mecium keningku yang agak kecoklatan,  emak pun berlalu entah ke mana.

Merelakan kepergian emak bukan hal yang sulit bagiku. Sejak umurku 10 tahun emak telah terbiasa meninggalkanku bersama Nek Yam.  Emak hanya akan mengirimi aku uang saku setiap dua minggu sekali untuk beaya makan dan bayar uang sekolah.

Uang tersebut biasanya  dititipkan emak melalui laki-laki muda yang tidak pernah aku kenal. Setiap dua minggu sekali mereka datang ke rumah kami dengan rupa yang berganti-ganti.

Setiap kali laki-laki pengantar uang itu datang, Nek Yam selalu memerintahkanku untuk masuk ke kamar dan menutup pintu depan rapat-rapat. Lagaknya seperti sedang membicarakan sesuatu yang sangat rahasia dan tertutup, melebihi rencana penyergapan kawanan penjajah oleh patriot-patriot pembela bangsa tempo dulu.

Pernah suatu hari aku menguping  pembicaraan Nek Yam dengan laki-laki yang berganti-ganti rupa itu
“Bagaimana Nek? Sebelah barat kira-kira aman?”
“ InsyaAllah aman, besok pukul  tiga dini hari barang-barang itu sudah  masuk melalui kapal nelayan milik toke Amin, begitu kata Cut lem.”
“Kalian harus menunggu di tenggara, ‘kayu-kayu’ itu akan diturunkan sekitar 10 KM sebelum pelabuhan, di sana bot-bot ikan  harus  siap, dua bot ikan nenek rasa cukup, kayu panjang sekitar 27 batang dan yang pendek hanya 10.”
Aku terus saja menguping pembicaraan mereka, tapi sayang, aku tidak faham maksud mereka, Nek Yam bicara kayu, Nek Yam bicara bot ikan dan pelabuhan, Nek Yam juga menyebut nama Cut Lem,  entahlah… Aku tidak mau pusing dengan semua itu.

Kondisi seperti itu terus saja berjalan. Ke mana emak pergi dan apa sebenarnya pekerjaan emak, dan entah siapa laki-laki yang berganti-ganti rupa itu, semua menjadi rahasia. Aku sendiri tidak begitu peduli, yang penting setiap dua minggu sekali pasti ada laki-laki muda yang datang mengantarkan uang untukku dan Nek Yam.

Dalam kondisi perang seperti saat itu, orang pergi dan menghilang seperti emak sudah biasa, penduduk tidak terlalu risau dengan kondisi yang ada, bukan saja emak yang berperliku demikian, para pemuda dan kaum perempuan  kampung kami juga pergi meninggalkan kampung dengan alasan yang bermacam-macam.
 
walau dalam kondisi was-was dan tertekan,  aku dan Nek Yam tetap saja masih memiliki ruang untuk bergembira. Kegembiraan itu selalu datang dua minggu sekali ketika laki-laki muda yang berganti-ganti rupa datang membawa uang titipan emak.  bukan saja aku yang gembira menerima uang dari emak,  Nek Yam pun sangat senang menerima uang itu.

Kalau uang itu datangnya hari minggu pagi, di siang minggu yang sama Nek Yam pasti sudah berpakaian serba rapi lengkap dengan kain batik panjang  cap Ibu Asli Mori Sen kebanggaannya, yang dipakai sebagai pengganti selendang.

Nek Yam akan tampil percaya diri dengan kain batiknya.  Dengan badan yang sudah lumayan bongkok, disertai tongkat kayu yang asal jadi,  tertatih Nek Yam  menuju pasar tradisional. Yang dicari Nek Yam bukan baju cantik atau kain batik Ibu Asli Mori Sen yang baru, tetapi makanan favoritnya “tembakau sugi”, dalam bahasa negeri kami biasa disebut bakoeng asoe. Menurut Nek Yam, bakoeng asoe itu memiliki banyak khasiat, salah satunya bisa dipakai sebagai obat penawar rasa sakit gigi.

Pernah suatu hari gigiku sakit dan gusiku bengkak, karena sudah bolak balik ke dokter gigi tetapi tidak kunjung sembuh, akhirnya Nek Yam menyuruhku mengobatinya dengan bakong asoe. Awalnya sempat kutolak, tetapi karena tidak ada pilihan, tawaran Nek Yam terpaksa kuterima. Nek Yam mengambil bakong asoe sebesar biji kacang hijau, kemudian diserahkannya padaku sambil memberi petunjuk cara pemakaian. Bakoeng  asoe itu pun perlahan-lahan  kumasukkan ke dalam gigi yang berlubang dan kugosokkan pada gusi yang sakit sesuai cara pemakaian yang dianjurkan Nek Yam.

Hanya beberapa menit setelah bakoeng asoe meresap ke celah-celah gigiku, tiba-tiba saja aku merasakan dunia jungkir balik, atap rumah Nek Yam berputar dan bumi tempat aku berpijak goyang, seperti sedang terjadi gempa  8 sekian SR. Aku meraba-raba mencari pegangan. Belum sempat aku mendapatkan pegangan tiba-tiba perutku berguncang, menghamburkan semua yang telah kulahap sebelumnya,  yang sangat tidak menyenangkan , isi perut itu bukan saja keluar dari jalur mulut tetapi juga dari jalur dubur, benar-benar menjijikkan. Tapi apa hendak dikata aku sendiri sudah tidak bisa berbuat apapun lagi, seketika dunia menjadi gelap,  bakong asoe Nek Yam telah membuat aku  terkapar tak sadarkan diri. Sial memang nasibku malam itu. benar-benar sial.

 

Editor :
Jodhi Yudono