KOMPAS IMAGES/I MADE ASDHIANA
ilustrasi
Oleh I Ketut Sutika
Tampil mengenakan busana tari dengan gerakan lincah mengikuti irama gamelan, instrumen musik tradisional Bali yang mengiringinya di atas panggung.
Olah gerak tubuh yang disertai ekspresi jiwa itu mampu menyuguhkan keindahan yang mampu memukau penonton, itulah sosok Anak Agung Ayu Sasih, SH (61), wanita kelahiran Karangasem, daerah ujung timur Pulau Bali, 19 September 1951.
Sosok wanita sederhana itu ketika masih remaja memiliki keahlian dan karisma dalam mementaskan berbagai jenis tari maupun memainkan instrumen gamelan Bali.
Wanita yang belajar tari Bali sejak usia dini itu sanggup menguasasi aneka jenis tari Bali dengan sempurna, sehingga tidak mengherankan sejak remaja telah dipercaya untuk memperkuat tim kesenian Bali dalam mengadakan lawatan di tingkat nasional, bahkan ke mancanegara.
Sosok yang akrab disapa Gung Ayu Sasih itu pernah mendapat kepercayaan untuk memperkuat tim kesenian Indonesia mengikuti Festival Kesenian tingkat ASIA di Iran/Persia di bawah pimpinan Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Prof Dr Ida Bagus Mantra (alm) pada tahun 1969.
Istri dari Anak Agung Raka Atmadja itu merupakan salah seorang dari 30 anggota rombongan yang mewakili pemerintah Indonesia untuk mengikuti kegiatan bertaraf internasional.
Lawatan sekaligus pentas ke sejumlah negara itu berlangsung selama dua minggu, antara lain pentas di sejumlah kota besar di Iran.
Ibu dari dua putra-putri itu juga pernah tampil di Taman Ismail Marzuki Jakarta, melatih tari Bali kepada pelajar dan masyarakat di Yogyakarta, disamping pentas di berbagai tempat di Pulau Dewata.
Sosok wanita yang selalu tampil ramah itu juga menekuni seni sastra, musik, seni rupa, merangkai janur, mengukir buah untuk kelengkapan menyajikan menu makanan serta mengumandangkan ayat-ayat suci agama Hindu (tembang).
Ibu dua anak masing-masing Anak Agung Ayu Mas Ratna Dewi dan Anak Agung Ayu Trisna Wahyuni Dewi itu hasil kretivitasnya antara lain membuat drama anak-anak melibatkan siswa SMPNI Karangasem dengan judul Raja Pala tahun 1970.
Pensiunan PNS itu juga pernah menggarap sendratari berjudul "Ituung Kuning" bersama Sekaa Gong Selumbung Manggis pada tahun 1972, menyusul senderatari Ramayana bersama Sekaa Gong pelajar gabungan SMAN Karangasem hingga sukses pentas di Kota Denpasar dan Buleleng.
Ke luar negeri
Gung Ayu Sasih juga berhasil membentuk Sanggar Tari Widia Winangun Amlapura dengan anak binaan lebih dari 100 orang, sekaligus penerus seni budaya Bali, khususnya bidang tari.
Pembentukan sanggar yang dibantu Anak Agung Ayu Ngurah itu mampu mencetak penabuh dan penari andal hingga akhirnya sukses pentas ke luar negeri antara lain ke Australia dan Hong Kong.
Ayu Sasih yang pernah mengenyam pendidikan di Kokar Bali tahun 1969 itu juga menciptakan garapan tari lepas yang diberi judul tari "Wiadi Karana" atau tari "Lalat" yang melambangkan kesehatan, yakni mencegah penyakit diare yang dipentaskan dalam memperingati hari Kesehatan.
Tari tersebut cukup memasyarakat hingga kini sering dipentaskan Sekaa Gong Abian Jero Kabupaten Karangasem, Bali timur. Selain itu juga menciptakan puluhan karya tari lainnya, termasuk menciptakan lagu anak-anak maupun untuk orang dewasa.
Keterampilan yang jarang dimiliki orang lain adalah mengukir buah yang ditata sedemikian rupa dalam menyajikan menu makanan untuk orang banyak.
Gung Ayu Sasih itu menggeluti aktivitas tari Bali hampir setengah abad, setelah menyelesaikan pendidikan di Kokar yang berubah status menjadi Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI), kemudian diganti kini menjadi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 3 Sukawati, Gianyar.
Keahlian dan keterampilan yang dimilikinya itu kini dengan senang hati ditularkan kepada siapa saja, baik anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua, sehingga telah berhasil mencetak ratusan bahkan ribuan seniman baik tabuh dan tari Bali.
Pembinaan terhadap sekaa kesenian Bali, terutama yang paling menonjol di lingkungan kota Amlapura dan desa-desa di Kabupaten Karangasem, Bali timur.
Keahliannya itu juga ditularkan kepada ibu-ibu anggota PKK desa setempat dan sejumlah desa lainnya. Anggota PKK hasil binaannya sering tampil dalam memeriahkan berbagai kegiatan, termasuk tampil di arena Pesta Kesenian Bali (PKB), aktivitas seni tahunan di Pulau Dewata.
Penampilan dengan gaya dan kemampuan yang tidak kalah menarik dengan penabuh pria, sehingga setiap pementasan yang melibatkan sekaa kesenian wanita mendapat perhatian besar dari penonton.
Selain melatih anggota PKK dan masyarakat umum, wanita berpenampilan sederhana itu juga menciptakan tabuh dan tari, sebagai wujud tanggung jawab, pengabdian terhadap seni dan masyarakat.
Wanita yang telah memasuki masa purnakarya (pensiunan) PNS memiliki segudang prestasi dan penghargaan, antara lain pernah pernah keluar sebagai juara III tingkat nasional dalam penulisan puisi.
Sosok wanita yang masih enerjik pada usia senjanya itu hingga sekarang masih melatih generasi penerus dalam bidang tabuh dan tari Bali. "Dengan seni tari saya bisa beryadnya, pengorbanan secara tulus ikhlas, yakni menari di Pura saat upacara piodalan tanpa imbalan," tuturnya.