Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
BOJONEGORO, KOMPAS.com — Balai Arkeologi Yogyakarta berencana lakukan ekskavasi lanjutan atau penggalian purbakala Situs Mlawatan di Desa Wotangare, Kecamatan Kalitidu, pada 2013.
Saptatik, Kepala Bidang Pengembangan dan Pelestarian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro, Rabu, mengatakan, rencana ekskavasi lanjutan Situs Mlawatan diperoleh dari Tim Balai Arkeologi Yogyakarta, setelah melakukan ekskavasi pada 29 Juni-8 Juli.
Dari hasil ekskavasi itu, dia menjelaskan, Tim Balai Arkeologi Yogyakarta yang diketuai Herry Priswanto, SS, memperoleh temuan berbagai benda purbakala yang memperkuat keberadaan sebuah bangunan atau permukiman penduduk di era zaman lampau yang tertimbun.
"Untuk memastikan kebenarannya, dibutuhkan ekskavasi lanjutan yang rencana biayanya diusulkan melalui APBN," paparnya.
Dia melanjutkan, sebelum ini pembiayaan ekskavasi yang dilakukan Tim Balai Arkeologi Yogyakarta memanfaatkan dana Rp 100 juta dari APBD 2012.
Ia belum bisa menjelaskan, besar dana yang dibutuhkan untuk melakukan ekskavasi lanjutan di Situs Mlawatan karena Tim Balai Arkeologi masih meneliti berbagai temuan benda purbakala yang diperoleh dari hasil ekskavasi yang lalu.
Temuan yang diteliti antara lain struktur fondasi rumah wuwung (atap bagian atas), pecahan gerabah halus dan kasar, uang kepeng zaman Majapahit, serta keramik asal China dan Asia Tenggara.
Selain itu, ditemukan juga potongan rantai perunggu, fragmen tulang, juga temuan lainnya, termasuk informasi bahwa di bawah lemah mbag (tanah gembur) di situs setempat terdapat sebuah bangunan.
"Penelitian membutuhkan waktu selama sebulan untuk menentukan luas areal permukiman penduduk, juga masa keberadaan permukiman itu," paparnya.
Sebelum itu, Koordinator Tim Balai Arkeologi Yogyakarta, Herry Priswanto, SS, menjanjikan akan secepatnya melaporkan hasil penelitian berbagai benda purbakala yang diperoleh dari ekskavasi Situs Mlawatan.
Pertimbangannya, menurut dia, ekskavasi yang dilakukan di Situs Mlawatan didasari permintaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Dia melanjutkan, ekskavasi dilakukan di areal seluas 20 x 20 meter di 10 titik. Tiap-tiap titik memiliki luas 2 meter persegi dengan kedalaman 60 sentimeter hingga 80 sentimeter.
"Kami menyebut Situs Wotangare sebab lokasinya di Desa Wotangare, bukan Situs Mlawatan," ucapnya, tanpa menjelaskan alasan mengenai nama situs itu.