Pada Sebuah Restoran
:andre,ari dan kawankawan
sembari menyeruput mocca float yang memperpanjang waktu untuk
bersantai di kursi, kau jelajahi situs jejaring sosial, mengupdate kabar
ini hari.lampionlampion beterbangan dilayang angin, seucap kita,’wah!’
dan itu jadi kata terakhir sebelum kalian semua kembali terpaku pada
laptop dan hape.menjadikan waktu hambar,menghabiskan segelas mocca
dengan tanpa gesa. aku perhatikan seorang gadis yang dari tadi awal
duduk di kursi hingga waktu menunjuk angka larut,terus berbicara
dengan telepon genggamnya bagai suara penyiar radio yang sangat cepat
dikejar tenggat. kau habiskan berpuntungpuntung rokok sedang senyum
terus saja terlihat dari wajahmu.yang lain juga terpaku pada urusan
masingmasing, sedang aku terus membeku tanpa kutik mencuci mata
memperhatikan orangorang lalu lalang diluar restoran. ini malam minggu
waktunya orang berduyun ke pusat keramaian memuntahkan kebahagiaan
dengan kekasih, istri, temanteman, anakanak.apakah orangorang sudah
merasa bahagia, meski ini malam cuma sejengkal dari kehidupan yang panjang?
ketika kita pulang dari pusat kota ini,kita akan kembali menjelma seharihari
yang belum tentu gembira hanya ini malam yang mampu mengunci hati kepada
kesenangan secuil tapak kaki menjelajahi kota.kakikaki kita mesti terantuk
besi penyanggah meja. terdiam terbeku,lalu suara satu muncul, ayo habiskan float ini,
lalu beranjak keluar menikmati malam!’ hanya saja semua pada keasyikan
menunggu hati terpuaskan statusstatus kawan.lampion yang semakin lindap
termakan gelap lazuardi malam,telah terganti suara dangdut di mall yang mencuri
perhatian kaula muda. tetapi kami sudah bosan melihat biduanitanya hanya ituitu saja
serupa mingguminggu sebelumnya. gadis gempal kecil menyingkirkan fast food
yang telah dipesan ibundanya, katanya ia sedang malas memakan ituitu saja.ia hanya
memandangi tivi berisi iklaniklan promosi restoran dan penyanyipenyanyi
memperkenalkan lagunya di tivi. ia cemberut menembemkan kedua pipinya yang
kupandangi kian lama serupa bakpau daerah panjunan yang baru matang.dan seorang
suami tengah memandangi gadis tadi yang sedang menelpon kekasihnya.kita terus
menggunjingi ia,haha kita memang selalu ingin membenarkan mata dengan cinta.
kecantikan yang nyata luluh ketika ia gadis memiringkan muka dan tampak sebelah
wajahnya,serupa monyong yang tak diketahui siapasiapa.oh! inikah kecantikan polesan?
haha,kita terus saja membicara dibelakang ia.
pegawaipegawai restoran masih seangkatan dengan kami,mereka melayani sepenuh hati.
menghormati pengunjung restoran menyuguhkan sungging senyuman.kokikoki akan
membunyikan bel tanda fast food telah matang, sesegera mungkin diantar pelayan.
malam terus saja temaram,lampion kampanye sembunyisembunyi pejabat ini kota
berlayangan disaput angin sabtu. ada musafirmusafir berjogetan merinai mendengarkan
lagulagu dangdut,anakanak kecil jua tak mau kalah,mereka meniru yang dipandang mata.pengamenpengamen ikut berpestapora,sementara kami terus menikmati-memunguti
sisasisa keindahan malam seeksotika yang bintang.
Kudus,30 Juni 2012
Sajak Tak Punya Arti
barangkali ada rumput-rumput terlampau kering telah basi
sejumput rumput untuk memantik api-api di perapi yang mati
sebuah luar yang lain dari biasa menegur bongkahan yang beku dari biasa
atau kelu yang memudar dan membentuk kata-kata berbahasa bisu
menjunjung kearifan yang terpendam di lokan dan cadas karang lautan
bisa saja sajak ini dimainkan anak-anak,ditusuki dengan pisau atau garpu tala
menghasilkan bentur bertalu menyusun rapi rindu yang rimbun
menanari angin ribut merebut kabut menyuguhi sunyi terpaut yang sangat memagut
apa bisa kita berjalan tanpa jalan, seperti siput berjalan tanpa kaki?
aneh sekali sepi berusaha memaki-maki
kalau kita disini,berarti kita sudah sendiri
tetapi kenapa kita mesti sendiri,karena bahawasanya kita berdua disini
jadi tidak ada sepi,tetapi kenapa sepi berusaha memaki-maki?
oh,mungkin karena kita terdiam diri,
nah seharusnya kita sudah bicara dari tadi,
melarang sepi untuk memaki menghina kita yang mengira waktu disini
barangkali batu-batu di kali semakin lama kian punya arti
sebongkah satu yang besar,sekerikil kecil yang sasar,terbawa arus laju di aspal
adakah ia berbicara dan menerangkan kepada kita,waktu yang terlalu dan abad yang membungkam mereka untuk berkata,’spada!’katamu mereka sudah bisu sejak terbentuk berjuta ribu lalu.
namun,aku tak percaya padamu,kau itu penipu,penafsir rindu merupakan pisau yang disembunyikan luka.
aneh bukan,seperti ada yang menyikat singkat,saat mata kita bertemu dalam kebisuan yang kelu,malu-malu satu senyum membujur kaku(ada affair melintas di kepala) kemudian kita bersalaman dalam waktu berhenti yang senoktah saja.
kita memang harus begini,
menuang bait-bait sepukau sepintas sebersit mimpi
menenggaknya dari cawan suci yang menderaskan aliran darah menuju jantung,
berdegub merasakan rasa singkat yang terpikat
mengaitkan sajak-sajak anting di kuping,
mengalasinya dengan giwang-giwang senyap yang terbuat dari kata-kata di surat
kita pasti harus begitu
berkata begini,bermaksud begitu
menumpulkan lelancip duri di hati,
menebasnya dengan hati-hati
jangan sampai ia tumbuh kembali
(getir akan selalu memerih,mendarahi
begitu juga sepi)
selalu begini
tak pernah begitu
menghadang topan yang menggunjingkan perbuatan
kelam adalah kegiatan yang dapat disembunyikan
perasaan pasti dikebiri,dilarung di laut yang sunyi
menghadapi ombak-ombak,angin liar serta cambukan halilintar
garang dan petir sepintas yang nyalang.memang mesti begini,
romantika tak enak kalau tidak dirintang-hadangi,
lagipula peluru berubah bunga,menyembunyikan nista di mesiunya.
meriam yang disembunyikan di dalam rimba belantara bisa-bisa meletup ledakkan yang fana.
menganga dan terbuka.
cemas seperti perilaku menggigit jari adalah mutlak perlu
sebab menanti mungkin kita di jejali berbagai banyak pertanyaan dari dalam diri sendiri
bermaksud mengundang,kita malah diundang,diundang sepi yang hakiki,karena kita telah bisu dari pertemuan mata kita di sela-sela waktu.
--ah,semestinya perlu menggigit jari,karena disebabkan cemas kita mutlak perlu mengigit jari menampik semua pertanyaan yang muncul dalam diri sendiri,di datangi dan berpesta bersama sepi--
jangan kita duakan hati yang terlalu berhati-hati,hati bisa saja menjadi iri jika ia sendiri terabai kita yang diam sedetik disini bersandar di bahu sepi-sepi beribu lagi.apalah kita mencoba menyendiri,tahu-tahu rindu menusuk-nusukki hati,kalau-kalau ada yang iri,segeralah kita tutupi,dengan sepantas-pantasnya,entah itu selendang atau sutra membalut kepadanya.
meluruskan janji-janji yang tak pernah dibuat,mengingkari janji-janji yang tak pernah berjanji,kita sendiri adalah dua insan yang terlanda suatu sepi.Oh,alangkah mimpi itu dahsyat sekali!
barangkali ada rumput-rumput terlampau kering telah basi
sejumput rumput untuk memantik api-api di perapi yang mati
sebuah luar yang lain dari biasa menegur bongkahan yang beku dari biasa
atau kelu yang memudar dan membentuk kata-kata berbahasa bisu
sejak kita disini,
kita ubah bisu menjadi kupu-kupu
bersayapkan pelangi
terbang meninggi
menumpas bentuk-bentuk sangsi
2012
Senja Tenggelam
angin hanya memerhatikan daun daun yang sudah tua
di gugurkan agar tidak usang di rerantingan,terkompos
diatas tanah rengkah-rengkah.kembalikan aku pada senja yang ibu,
yang naungnya hangat temaram syahdu,sedang ribut-ribut
burung gereja mencuri biji-biji yang tak lagi nyali.
kemudian bayang-bayang bersemu,berlipat ganda ujudnya
karena bias cahaya senja.pulangkan aku di huma yang memberikan
pemandangan surga;langitnya,hijaunya.bertemu lagi archimedes
di sekolahan,lalu newton yang membingungkan.malam akan
menyumpahkan teori-teori angkasa nicholas copernicus.
bergantang-gantang persembahan memudar di awan-awan
sembunyikan mata kalam yang membuatku kalut dan terobsesi
mencuri harta terpendam xerxes yang membangun kekaisaran persia.
dari kayu berdencit dan kepakan seng yang terlepas dari atap rumah
pentar yang terdengar seakan kisi-kisi menyuruh melirik matahari
masihkah ada sepia yang menyihir lagi usia?
senja itu kalang-kabut karena hari yang tak begitu runut
turbulensi yang mengempit prahara cuaca mengagetkanya.
meski hanya romeo dan juliet yang kutahu dari seorang shakespeare,
tetapi kenangan dalam buku riwayat orang-orang penting itu,
menjalari bagiku suatu persahabatan tanpa beda jaman.
langit tersenyum sumringah bentuknya lebar menggambar awan
dinosaurus yang pernah tertangkap kamera digital milik temanku.
kulempar kekaguman kepada michaelangelo karena berkatnya
kini italia masih terlelap di tilam fana,tanpa terbangun hibernasi 19 tahun.
terjerembab kedalam kedalaman kelam,mengais jalan bawah tanah
lalu bingkas menatap awan-awan yang menyerupai rupa rokok albert camus,
aku menginginkan langkah yang dititih oleh entah apa,menuju padang aspodel.
karena sebelum dibeberkan oleh albert,kukira aljazair cuma padang pasir
berdebu dan begitu badai-badai pasir deras menderu,menggatalkan mata.
kembalikan aku kepada itu semua,sebelum jaring waktu menambah aku tua,
‘’kakek,kakek menanti ajal yang nganga,hanya dua tiga buku kau ditatang sini-sana.’’
cucu akan tertawa melihat renta menyatu di sekujur badanku
lalu uban mengecambah menambah parah yang maut tersenyum ajal
menggairah.tidak! aku tidak lagi terpatah arah,karena sajak lagi manis-manisnya
kuunduh dari pohon tertinggi dengan galah menyerupa pena.
disebabkan oleh van gogh kini avres punya penggemar beratnya,
sebuah ladang zaitun,taman padang lili,bunga-bunga dia merekah
berbagai musimnya.perahu umbul-umbul bendera perancis,petani kentang
yang girang yang senang memanem kentang bergelimang.musim penuh berkah
yang diabadikan kanvas.isis menebar pesona,matahari musim salju menutupi
ladang-ladang.taman-taman,pohon cemara yang rindang.malam hari gemintang terang
bulan pun rembulan,bunga matahari di pagi.merekah sumpah dalam gurat
simpan cerah yang berkemah.pelabuhan,anak tangga, kereta bawah tanah
jembatan kayu,pemandangan dari balik jendela.gurat,avres digurat
terbeku sejuta indahnya.kembalikan aku pada warna yang kini disita buta berkebalikan
lalu dijuluki buta warna parsial.dokter mata itu tertawa terpingkal-pingkal,
‘’kau tidak akan mungkin menjadi seperti yang kau ingini,lihat kau handicap!’’
kembalikan! kembalikan aku bukan kepada teori ishihara supaya jangan ada
alur warna yang ia tumpang tindihkan untuk menunjukan suatu pola.angka lima
seakan tigapuluh tiga.kembalikan aku kepada pemandangan biasa,mengisahkan
rindu tak sampai-sampai.
orang-orang sangat sibuk memerhatikan dandanan diri sendiri,
tanpa tahu pasti orang lain membuntuti dan punya satu ingin
:membunuh mimpi! mengubah jadi liquid yang cair dan mengalir
ke penghabisan di ujung dasar-dasar kesadaran,membangkitkan
paranoid dan kepataharangan.namun aku tak lagi mau tenggelam
kepatahan kuganti kegairahan,sajak menangkap dengan mata nyalang
angkat pena tangan tanpa mengenal waktu kerja,tulis! tulis segala teori
mengungkap alam dunia-dunia,bedil dan degub jantung angkat beratnya
tapak larsa,serdadu-serdadu memainkan kata-kata,berderum bunyi-bunyi
pinta terakhir,bintang terang menyala,kembalikan aku,kembalikan aku!
tidurku yang ditemani lulabi ibu,
dan kisah kancil mencuri mentimun juga ande-ande lumut.
Mei,2012
