Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
Oleh I Ketut Sutika
Pria berpenampilan sederhana itu enerjik dan pada usia 64 tahun mampu menghasilkan karya-karya seni yang khas, dengan menggunakan kaca sebagai medianya.
I Ketut Sekar, pria kelahiran Desa Nagasepaha, Kabupaten Buleleng, daerah pesisir utara Pulau Bali tahun 1948 itu, dikenal masyarakat sekitarnya sebagai seniman serba bisa.
Selain melukis wayang di atas kanvas, ia sanggup membuat karya seni seperti wayang kulit, mengukir dan membuat bade/wadah, yakni tempat untuk pengusungan jenazah yang dibuat menjulang tinggi, seperti menara tinggi belasan meter.
Keahlian suami dari Ni Luh Ari (60) itu berkat kesungguhan belajar sejak usia sepuluh tahun dari orang tuanya, sekaligus sebagai guru, I Ketut Negara yang lebih populer dengan nama Jero Dalang Diah.
Seni lukis wayang kaca merupakan keunggulan identitas seni Bali utara yang memiliki keistimewaan dan ciri khas dibanding lukisan wayang kaca sentuhan seniman Kamasan, Kabupaten Klungkung, maupun goresan seniman perkampungan seniman Ubud, Kabupaten Gianyar, kata Pembantu Rektor I Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Drs I Ketut Murdana, M.SN.
Seni lukis wayang kaca Bali utara yang dipamerkan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXIV hingga sekarang tetap kokoh dan lestari, meskipun penerusnya tidak sebanyak seni lukis Kamasan maupun seni lukis klasik Bali.
Dua seniman warga negara asing Walter Spies dan Rodulf Bonnet mempunyai pengaruh cukup besar terhadap perubahan karya-karya pelukis Bali.
Walter Spies, warga negara Jerman dan Rodulf Bonnet, warga negara Belanda yang secara kebetulan menemukan inspirasi dalam merampungkan karya seni di Pulau Dewata memunculkan kebebasan kreativitas bagi seniman Bali.
Murdana yang juga seniman andal yang sukses menggelar pameran di tingkat lokal Bali, nasional dan internasional ke sejumlah negara, menambahkan, perubahan karya-karya seniman Bali dari seni lukis klasik ke kebebasan kreatif maupun perluasan tema, termasuk media kaca terjadi sekitar tahun 1929.
Kedua seniman asing yang menyatu dalam kehidupan masyarakat Bali, bergabung dengan organisasi kelompok pelukis dan pematung Pita Maha Ubud.
Sementara di Desa Batuan, Gianyar muncul gaya lukisan yang berbeda, yakni objeknya penuh sesak, tanpa ada ruang kosong sedikitpun, bentuknya kekanak-kanakan tanpa perspektif.
Warna lukisan hitam putih yang amat pekat, menampilkan kesan magis, sehingga karya kanvas seniman dari Batuan menunjukan karakter magis yang sangat kuat berbeda dengan kelompok Ubud, meskipun Rudolf Bonet dan Walter Spies sering bergaul ke Batuan, namun pengaruh karya-karya kedua seniman asing itu tidak tampak sama sekali, ujar Murdana.
Mewarisi
I Ketut Sekar, mewarisi keahlian melukis menggunakan media kaca dari orang tuanya Jero Dalang Diah (alm) kelahiran tahun 1909 di Dusun Delod Margi, Babakan, Desa Nagasepaha, Kabupaten Buleleng.
Keahlian seni kanvas di atas media kaca peninggalan orang tuanya tidak semata-mata hanya untuk dirinya sendiri, melainkan telah diwariskan kepada putra-putrinya maupun masyarakat sekitar yang berminat mempelajarinya.
Desa Nagasepaha tempat bermukim Ketut Sekar bersama istri dan putra-putrinya, berlokasi sekitar 96 km utara Denpasar. Daerah pedesaan itu cukup terpencil, di tengah hamparan sawah dan perbukitan, untuk menjangkaunya melewati jalan dengan kondisi berliku-liku.
Suasana alam pedesaan itu terkesan lestari damai, tentram dan jauh dari keramaian kota, sehingga cocok bagi seniman dalam berkreativitas menghasilkan karya seni yang unik dan bermutu.
Ketut Sekar ayah dari Wayan Armawa itu dalam menghasilkan karya kanvas di atas media kaca dalam proses karya seni dilakukannya secara spontanitas.
Hal itu berbeda dengan seniman lukis wayang kaca di Ubud maupun Kamasan yang menggunakan pola sebelum beraktivitas.
"Saya menuangkan gagasan lukisan langsung ke atas kaca sebagai media. Pakem itu tetap dipertahankan, dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda hingga sekarang," tutur Ketut Sekar.
Puluhan bahkan ratusan orang pernah belajar melukis wayang kaca pada dirinya. Hal itu dilakoninya dengan penuh kesadaran untuk mencetak seniman-seniman andal pewaris seni kanvas wayang kaca, sekaligus demi keajegan Bali.
Ia bersama seniman sedesanya hampir setiap Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak PKB pertama tahun 1978 hingga PKB ke-34 tahun 2012 selalu ikut dalam pameran lukisan memeriahkan aktivitas seni tahunan itu.
Suguhan karya kanvas di atas kaca dinilai mampu memberikan warna dari segi teknik, keinginan mengembangkan diri dari sumber asli yang menjadi sesuatu yang baru, unik dan menarik, tuturnya.
Melukis di atas media kaca yang diwarisi masyarakat Desa Nagasepaha berawal dari kedatangan seorang pencinta wayang kulit bernama I Wayan Nitia ke Dusun Delod Margi, tempat kediaman Jero Dalang Diah (alm), ayah Ketut Sekar sambil membawa sebuah lukisan kaca hasil karya seniman Jepang.
Lukisan yang dibawa dari negeri Matahari Terbit itu tentang sosok seorang wanita Jepang mengenakan kimono (busana tradisional Jepang).
Wayan Nitia memesan kepada Jero Dalang Diah, agar dibuatkan sebuah lukisan dengan objek wayang kulit di atas sebuah kaca bening.
Jero Dalang Diah saat menerima pesanan itu mengaku agak kaget, karena merasa belum pernah melukis di atas kaca, seperti keahlian melukis wayang umumnya.
Walaupun agak ragu, namun pesanan itu disanggupi dan berjanji untuk menyelesaikan lukisan di atas sepotong kaca itu, karena merasa tertantang sebagai seorang pelukis wayang.
Pesanan itu akhirnya dapat diselesaikan dengan baik, bahkan sempat mendapat pujian dari pemesannya. Sejak itu melukis di atas kaca diajarkan hingga berkembang sampai sekarang ini.
