A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: file_get_contents(http://xml.kompas.com/data/banner_on_keyword/on_keyword.php) [function.file-get-contents]: failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found

Filename: controllers/read.php

Line Number: 346

Ribuan Orang Lakukan Ritual Unggahan di Makam Bonokeling - KOMPAS.com
Selasa, 21 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 21 Oktober 2014 | 15:41 WIB
Ribuan Orang Lakukan Ritual Unggahan di Makam Bonokeling
Sabtu, 14 Juli 2012 | 00:38 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

islamis-peace.blogspot.com
Ilustrasi

BANYUMAS, KOMPAS.com--Ribuan penganut Kejawen dari berbagai wilayah di Kabupaten Banyumas dan Cilacap, Jawa Tengah, Jumat siang, mengikuti ritual "unggahan" di Makam Bonokeling, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas.

Ritual "unggahan" atau sadran (mengunjungi makam atau tempat keramat pada bulan Ruwah untuk memberikan doa kepada leluhur dengan membawa bunga atau sesajian, red.) merupakan tradisi tahunan yang digelar setiap Jumat terakhir pada bulan Ruwah (Syaban) guna menyambut datangnya Ramadan.

Sebelum melaksanakan ritual "unggahan", sebagian penganut Islam Kejawen khususnya kaum pria membersihkan kompleks Makam Bonokeling, termasuk memperbaiki pagar yang rusak.

Sebagian kaum pria lainnya memasak gulai dan berbagai makanan yang bumbu-bumbunya telah disiapkan oleh kaum perempuan.

Berbagai bahan makanan yang akan dimasak merupakan perbekalan yang mereka bawa dari kampung halamannya masing-masing.

Masakan tersebut akan mereka santap bersama-sama dalam kenduri yang digelar Bale Mangun setelah pelaksanaan "unggahan" dan "pisowanan" (pertemuan, red.) dengan juru kunci makam di Bale Agung, Kompleks Makam Bonokeling.

Selama memasak, membersihkan makam, hingga kenduri, seluruh penganut Kejawen wajib mengenakan pakaian adat Jawa.

Dalam hal ini, kaum perempuan hanya menggunakan "kemben" (kain jarit, red.) dan berselendang warna putih, sedangkan kaum pria berpakaian serba hitam serta menggunakan ikat kepala dengan kain jarit atau sarung yang melilit di pinggangnya.

Bahkan sebelum melaksanakan ritual "unggahan" di Makam Bonokeling, mereka harus membasuh muka, tangan, dan kaki di pancuran seperti halnya berwudu.

Juru bicara Makam Bonokeling, Sumitro (52), mengatakan bahwa tata cara berpakaian maupun saat memasuki makam harus dilakukan sebagai bentuk penghormatan bagi leluhur Bonokeling.

Menurut dia, tradisi "unggahan" awalnya dilaksanakan setiap menjelang panen padi dan bertepatan dengan menjelang bulan Pasa (Ramadan).

"Acara berupa pembersihan makam, berziarah, berdoa memohon keselamatan kepada Yang Mahakuasa. Ritual itu berlangsung hingga lima hari, dimulai dari penyambutan tamu, nedu atau berdoa bersama di rumah sesepuh, ziarah, selamatan, dan pengiringan tamu pulang," katanya.

Ia mengatakan bahwa penganut Kejawen akan kembali datang pada bulan Sawal (Syawal) guna menggelar tradisi "turunan" meskipun tidak seramai pelaksanaan "unggahan".

Seperti diketahui, Bonokeling merupakan sosok yang berasal dari Kadipaten Pasir Luhur yang berada di bawah Kerajaan Padjajaran atau Galuh-Kawali.

Akan tetapi, hingga saat ini masih jarang warga Islam Kejawen dan masyarakat umum yang mengetahui siapa sejatinya sosok Bonokeling ini.

Konon, para sesepuh atau tetua adat Bonokeling sebenarnya mengetahui siapa sejatinya sosok Bonokeling yang makamnya ada di desa itu. Akan tetapi, mereka tidak boleh menceritakannya kepada masyarakat umum.

"Kami tahunya hanya Bonokeling saja walaupun itu sebenarnya hanyalah nama samaran," kata Sumitro.

 

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono