CILACAP, KOMPAS.com--Ratusan penganut Kejawen dari berbagai daerah di Kabupaten Cilacap dan Banyumas, Jawa Tengah, Kamis, menggelar ritual jalan kaki puluhan kilometer dari desa masing-masing menuju Makam Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas.
Jalan kaki ini mereka lakukan untuk mengawali ritual "perlon unggah-unggahan" (keperluan kenaikan, red) yang dilaksanakan setiap Jumat terakhir di bulan Ruwah atau Syaban guna menyambut datangnya bulan Ramadhan.
Wartawan Antara melaporkan, di Desa Kalikudi, Kecamatan Adipala, puluhan warga penganut Islam Kejawen, baik pria maupun perempuan, berkumpul di "pasamuan" (rumah adat tempat pertemuan) sebelum mengikuti ritual jalan kaki secara berombongan dengan mengenakan pakaian adat Jawa menuju Makam Bonokeling.
Selain mengenakan pakaian adat, mereka juga membawa berbagai perbekalan seperti beras dan kelapa.
Perbekalan tersebut tidak diangkut menggunakan kendaraan, melainkan digendong kaum perempuan maupun dipikul oleh kaum pria.
Peserta ritual jalan kaki dari Desa Kalikudi ini selanjutnya bergabung dengan rombongan dari sejumlah desa lainnya yang menunggu di sepanjang jalan menuju Makam Bonokeling.
Salah satu peserta ritual jalan kaki asal Kalikudi, Karta (56) mengaku tidak mengalami kendala meskipun rute yang ditempuh cukup jauh. "Ini sudah biasa saya ikuti setiap kali ’unggahan’," katanya.
Menurut dia, perbekalan yang mereka bawa akan dimasak di sekitar Makam Bonokeling untuk dijadikan santapan dalam kenduri setelah "unggahan" pada Jumat (13/7) siang.
Bonokeling merupakan sosok berasal dari Kadipaten Pasir Luhur yang berada di bawah Kerajaan Padjajaran atau Galuh-Kawali.
Akan tetapi, hingga saat ini masih jarang warga Islam Kejawen dan masyarakat umum yang mengetahui siapa sejatinya sosok Bonokeling ini.
Para sesepuh atau tetua adat Bonokeling sebenarnya mengetahui siapa sejatinya sosok Bonokeling yang makamnya ada di desa itu tetapi mereka tidak boleh menceritakannya kepada masyarakat umum.
"Kami tahunya hanya Bonokeling, walaupun itu sebenarnya hanyalah nama samaran," kata juru bicara Makam Bonokeling, Sumitro (52).
Ratusan penganut Islam Kejawen yang datang dari berbagai daerah dan dikenal sebagai kerabat Bonokeling ini akan menggelar dzikir bersama yang dilafalkan dengan bahasa Jawa pada Jumat dini hari mulai pukul 00.00 WIB hingga 04.00 WIB.
Keesokan harinya, mereka akan menggelar "pisowanan" (pertemuan, red) dengan juru kunci Makam Bonokeling yang dilanjutkan ritual "unggahan" di Bale Agung, kompleks makam Bonokeling.
