JAKARTA, KOMPAS.com--Diorama Bamboo Art yang dipamerkan di Jakarta Fair sudah berkeliling ke luar negeri. "Pembuatannya perlu ketelitian, ketelatenan dan keuletan," kata sang seniman, Inung Bathoek di Jakarta Kamis.
Ketelitian itu menjadi pegangan Inung dalam mengembangkan kerajinan bambu. Pasalnya, sejumlah bambu yang dijadikan diaroma itu bukanlah bambu besar atau utuh. Namun, bambu buangan pun atau sampah bisa dijadikan diorama yang bisa bernilai jual tinggi.
Buktinya, bambu hasil karyanya itu tak hanya diminati oleh pengunjung Jakarta Fair 2012 semata. Bambu-bambu itu sudah menjelajah beberapa negara seperti Jepang, Inggris dan Jerman. Untuk menikmati bambu dengan sentuhan seni itu pengunjung Jakarta Fair bisa melihat di hall-C Arena PRJ Kemayoran.
Gringsing Ibnu Handoko, atau yang lebih dikenal dengan nama Inung menjelaskan, sebelum membuat karyanya dari bambu, awalnya menekuni pembuatan kapal phinisi dari bambu.
Dari sanalah, bakat alaminya berkembang dan sekarang menekuni diorama bambu. Ia menyebut hasil kerajinan bambunya itu dengan sebutan diorama karena hasil kreasinya itu merupakan gambaran kehidupan sehari-hari yang dipotret melalui kerajinan bambu. Misalnya, untuk satu diorama terdiri dari rumah, sepeda, kebun, kandang dan lain-lain di sekitar manusia.
"Seni kerajinan bambu diorama ini adalah portet kita sehari-hari, namun yang lebih kami fokuskan suasana tempo dulunya," paparnya.
Berbekal pengalamannya sebagai pedagang hik alias angkringan selama tiga tahun, rupanya memberi kesan kuat pada hasil karyanya. Diorama yang ia buat lebih banyak menonjolkan sisi-sisi kehidupan malam. Banyak karyanya yang mengangkat suasana pos ronda, suasana di tempat wedangan, warung malam dan kehidupan malam lainnya.
Guna memberi kesan lebih hidup, Inung melengkapi karyanya itu dengan lampu yang bisa dinyalakan dan dimatikan. Bahkan, agar pelanggan dapat terhanyut ke dalam suasana diorama, Inung pun menyelipkan irama musik pada hasil karyanya.
Untuk satu diorama kecil dihargai Rp 80 ribu dan yang cukup besar bisa Rp800 ribu. "Kalau ingin yang lebih besar harganya juga lebih mahal," paparnya.
Mengenai besaran harga, kata Inung, tergantung dari berapa lama pengerjaan dan tingkat kerumitannya. Semakin rumit dan makin lama, harganya juga lebih mahal.
Dia tak memungkiri selama pameran, kerajinan bambunya itu cukup diminati oleh pengunjung. Umumnya mereka membeli diorama tempo dulu. Harganya juga terjangkau saku, senilai Rp80 ribu.
Mengenai nama "Lugoet" dalam kerajinan bambunya, ia mengatakan sesuatu yang tidak berharga jika dijadikan kreasi maka akan memiliki nilai. Sebab, "logoet" itu dalam bahasa Jawa adalah bulu-bulu pada batang bambu. Tak berharga, namun jika terkena kulit bisa gatal. Sama dengan kerajinan bambunya. Dari barang yang tak berharga, namun menjadi bernilai karena sudah menjadi barang seni yang layak jual.
