Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
SURABAYA, KOMPAS.com - Sebagian besar dari 25 taman budaya di Indonesia belum memiliki arah pengembangan. Bahkan, kondisi fisik beberapa taman budaya sangat memprihatinkan. Manfaat taman itu sebagai wadah bagi masyarakat untuk berekspresi dan berkreasi pun belum kelihatan.
Demikian benang merah diskusi lokakarya pengembangan seni dan budaya, di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (12/7). Acara itu dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dan pengelola taman budaya dari berbagai daerah.
”Banyak daerah yang menganggap taman budaya tidak penting sehingga anggarannya minim,” kata Ketua Forum Taman Budaya Seluruh Indonesia Helmy Azeharie. Anggaran daerah pun lebih diprioritaskan untuk sektor lain, seperti transportasi, pertanian, atau pendidikan.
Akibatnya, kata Helmy, taman budaya umumnya memiliki bangunan yang sudah kusam dan tidak terawat. Ada taman budaya di luar Pulau Jawa yang diberi dana APBD Rp 15 juta per tahun untuk perawatan. Namun, Helmy tidak bersedia menyebutkan nama taman budaya tersebut.
Menanggapi aspirasi para pengelola taman budaya, Mari Elka mengakui pemerintah pusat belum memiliki gambaran terhadap taman budaya. ”Maka dengan adanya pertemuan ini, kami sedang memetakan kondisi dan permasalahan taman budaya,” katanya. Setelah itu akan diaktifkan berbagai kegiatan yang dapat digelar di taman budaya. Selain seni pertunjukan, kegiatan kreatif warga yang memiliki nilai ekonomi juga dapat dibuat.
”Saya ingin taman budaya lebih terbuka dan berfungsi luas. Bahkan, tak harus identik dengan seni berbau tradisional, tapi juga menampilkan seni, ide, dan kreativitas yang bersifat kontemporer,” ujar Mari. (DEN)
