Kamis, 20 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 20 Juni 2013 | 12:24 WIB
Taman Budaya Belum Punya Arah
Jumat, 13 Juli 2012 | 07:29 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA
Pekerja mengecat ulang dan merenovasi ornamen yang menghiasi depan Gedung Kesenian Ki Narto Sabdo di Taman Budaya Raden Saleh, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (20/10). Gedung kesenian tersebut setiap pekan menjadi tempat pementasan wayang orang.

TERKAIT:

SURABAYA, KOMPAS.com - Sebagian besar dari 25 taman budaya di Indonesia belum memiliki arah pengembangan. Bahkan, kondisi fisik beberapa taman budaya sangat memprihatinkan. Manfaat taman itu sebagai wadah bagi masyarakat untuk berekspresi dan berkreasi pun belum kelihatan.

Demikian benang merah diskusi lokakarya pengembangan seni dan budaya, di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (12/7). Acara itu dihadiri Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu dan pengelola taman budaya dari berbagai daerah.

”Banyak daerah yang menganggap taman budaya tidak penting sehingga anggarannya minim,” kata Ketua Forum Taman Budaya Seluruh Indonesia Helmy Azeharie. Anggaran daerah pun lebih diprioritaskan untuk sektor lain, seperti transportasi, pertanian, atau pendidikan.

Akibatnya, kata Helmy, taman budaya umumnya memiliki bangunan yang sudah kusam dan tidak terawat. Ada taman budaya di luar Pulau Jawa yang diberi dana APBD Rp 15 juta per tahun untuk perawatan. Namun, Helmy tidak bersedia menyebutkan nama taman budaya tersebut.

Menanggapi aspirasi para pengelola taman budaya, Mari Elka mengakui pemerintah pusat belum memiliki gambaran terhadap taman budaya. ”Maka dengan adanya pertemuan ini, kami sedang memetakan kondisi dan permasalahan taman budaya,” katanya. Setelah itu akan diaktifkan berbagai kegiatan yang dapat digelar di taman budaya. Selain seni pertunjukan, kegiatan kreatif warga yang memiliki nilai ekonomi juga dapat dibuat.

”Saya ingin taman budaya lebih terbuka dan berfungsi luas. Bahkan, tak harus identik dengan seni berbau tradisional, tapi juga menampilkan seni, ide, dan kreativitas yang bersifat kontemporer,” ujar Mari. (DEN)

 
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Eko Hendrawan Sofyan