Sabtu, 25 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 25 Mei 2013 | 11:42 WIB
Puisi-puisi Naim Ali
Rabu, 11 Juli 2012 | 17:45 WIB
|
Share:
www.doyanmakan.com/YUDI Ilustrasi

RUMAH TUHAN

/1/
tanda tuhan pulang atau baru datang dari sekian lama dia menghilang adalah ketika ibu menjelma jadi raut yang bingung, sebentuk gelisah tak terbendung. seakan beliau akhirnya membenci waktu dan ingin lekas memburu semua kutukannya tanpa menyisa, lalu berseru padaku, “cepat antarkan aku bertandang!”. sesegera itu kusiapkan kendaraan agar ibu segera terbang. bertandang ke rumah tuhan.

/2/
sekali pun jangan bilang aku percaya bila tuhan berumah satu. kenyataannya, dimana saja dia punyai dan akan dipulangi kemana suka. sial, aku baru tahu. syukurlah, semua karena ibu.

bilamana benar milik tuhan hanya serumah semata, tentu kuhapali betul kemana jalur yang kuseduh dalam rangka mengantar rindu ibu. ternyata, tiap kutempuhi batinku, ibu selalu menunjukkan jalan yang berbeda ke kediaman yang tidak sama. “sekarang tuhan ada di sana”, kata ibu begitu saja. kutahan semua gerutu.

/3/
dulu kutemani ibu ke rumah yang kaya namun dari pelatarannya saja bagai dihentak aura duka. kali ini bersama ibu aku berhenti di rumah yang ringkih. beratap rapuh dengan jendela dan pintu yang terus terbatuk, bahkan sebelum kami sempat mengetuk. “penghuninya sakit”, bisik ibu. “tuhankah itu?”, pikirku.

kadang ibu bertamu dengan penuh bawaan –semacam buah-buah bertumbuhan di tangan serta kesepuluh jarinya. kali ini hanya dengan sebuah persembahan: senyuman tenang. damai. bisa kutuai seketika pintu rumah terbuka.

MELANKOLI KOPI

: Emak

/1/
cintanya telah mendidih. begitu matang –terlihat dari gelembung berbagai rindunya sudah pecah karena waktu yang dulu disulut telah memanas, mengirim buncah. begitu sayang. pada secangkir dimana segala miliknya diracik dan ditakar, cintanya dituangkan. diletakkan itu di pojok meja yang sebagian hidupnya rela menguap di sana. siapa yang mampu menahan, pun aku mau berebut demi sehirup kehidupan.

/2/
tak peduli sebentuk apa, hanya oleh cinta yang mendidih hidup laek dihirup dan dinikmati. ia memasaki itu jauh sebelum kamu mengerti mimpi.

/3/
bila memang benar ada warna, ia memilih hitam. seperti kopi yang ia suguhkan. yang mana seluruh warnamu bisa tertelan dan tak kelihatan. atau dimana cintanya tak mampu kau temukan; pekat diraba dan engkau akan tersesat, namun amat dekat dirasa dan sangat lekat di tenggorokan.

/4/
seduh dengan doa, sebagaimana tulus ia menyajikan cinta.

IBU MENCULIKKU TADI PAGI

sebangun aku dan mataku, ketika jari-jari ini akan berbunyi puisi: sepagi helai kertas kosong yang merindu larik menjadi bait, pada kicau burung-burung yang pipit, tentang aksara di pintu jendela. sekusam selimutku berwarna tinta, sebelum kering oleh mentari yang memanasi pena.

oleh ibu, disekaplah aku waktu itu. tak berkutiklah dadaku. pengap. belum aku kalap namun bungkam ibu pada mulutku mengutukku bisu.

“tidak ada lagi puisi untukku! engkau tahu apa?” serak bisik ibu amat tegas menggores telinga. serupa kuku tajam mencakar dengan pelan di kaku tubuhku yang berkarat, menyuara pekik dan bising, tanpa mampu kutahan.

ganas tatap ibu menguliti puisiku sampai mati.

-----

Tinggal di Kediri, bergiat di Taman Bacaan Mahanani Kediri. https://www.facebook.com/tamanbacamahanani

 

Editor :
Jodhi Yudono