Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
NUNUKAN, KOMPAS.com--Tim ekspedisi khatulistiwa 2012 sub korwil 5/Nunukan Kalimantan Timur mengatakan, Suku Dayak masih mempertahankan tradisi nenek moyangnya yang penuh mistik dalam kehidupan sehari-hari.
"Kehidupan masyarakat Suku Dayak di Kalimantan tidak pernah meninggalkan tradisi nenek moyangnya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk nuansa mistiknya," ujar Komandan Unit Peneliti Sosial Budaya Tim Ekspedisi Khatulistiwa 2012 Sub Koorwil 5/Nunukan, Sersan satu Sugianto, di Nunukan, Senin.
Tradisi Suku Dayak yang ditemukan oleh unit sosial budaya tim ekspedisi khatulistiwa adalah di Desa Intin Kecamatan Lumbis Kabupaten Nunukan.
Tradisi yang dimaksudkan adalah apabila ada anggota masyarakat yang melakukan pelanggaran norma kehidupan seperti mencuri, berbohong dan membunuh sampai sekarang tetap dilakukan sanksi adat.
"Yang sempat kita temukan adalah acara Sumpah Dolop yang diberikan kepada seorang warga Suku Dayak," jelas Sugianto.
Sumpah Dolop ini diberikan kepada pelanggar norma dengan disuruh menyelam ke dalam air sungai sambil memegang sebatang kayu dan membaca doa yang disebut "wok".
Apabila warga yang menyelam itu benar-benar bersalah, akan muncul kembali ke permukaan air dengan kondisi hidung berlumuran darah, kata Pujidari mahasiswa UI yang menjadi anggota peneliti sosial budaya tersebut.
Adat ini termasuk unik, dan benar-benar terbukti, dimana yang dianggap tidak melakukan pelanggaran ternyata tetap berada di dalam air hingga beberapa jam lamanya.
Sumpah Dolop ini adalah tradisi Suku Dayak Agabag yang merupakan masyarakat mayoritas di Kabupaten Nunukan pada ketiga kecamatan itu, yakni di Kecamatan Sembakung, Sebuku dan Lumbis.
Suasana kehidupan beragama Suku Dayak dianggap masih unik, karena walaupun sudah menganut agama Nasrani sejak tahun 1970-an, tetapi nuansa aliran kepercayaan dari leluhurnya masih sangat kental.
"Nuansa mistik yang dipertahankan masyarakat Suku Dayak, merupakan kewajiban atas petunjuk seorang "pangeran" atau kepala adat yang harus dipatuhi," jelas Puji.
Mengenai pakaian sehari-hari suku asli Kalimantan ini, kata Puji, sudah tergolong modern. Termasuk suasana kehidupan sehari-harinya, walaupun rumahnya masih tetap dibangun di pingiran sungai secara berkelompok.
Puji menambahkan, meskipun tetap mempertahankan adat istiadat dalam kehidupan sehari-harinya, kehidupan masyarakat Suku Dayak di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia itu telah dimasuki oleh perlengkapan rumah tangga modern misalnya televisi dan radio melalui antene parabola.
Unit sosial budaya tiM ekspedisi khatulistiwa 2012 ini juga menemukan "Dulun" yakni semacam air bergelombang yang ditemukan di Desa Pembeliangan Kecamatan Sebuku.
Gelombang seperti ombak di laut ini muncul secara tiba-tiba tanpa diketahui oleh masyarakat setempat dengan ketinggian sekitar tiga meter. Gelombang ini tidak bisa diabadikan dengan kamera.
"Padahal, kamera yang digunakan menggunakan tele tapi yang kelihatan cuma berbentuk sebuah speed yang sedang berjalan. Gelombangnya tidak tertangkap kamera," katanya.
