KOMPAS/Ayu Sulistyowati
Gubernur Bali Made Mangku Pastika.
DENPASAR, KOMPAS.com — Gubernur Bali Made Mangku Pastika berpendapat, dahsyatnya gempuran arus modernisasi dalam perkembangan kehidupan dan perubahan memberikan dampak yang signifikan terhadap eksistensi kesenian tradisional Bali.
"Tidak sedikit dari kesenian tradisional Bali terancam punah lantaran semakin jarang dipentaskan, bahkan beberapa di antaranya sudah lenyap tanpa bekas," katanya di Denpasar, Senin.
Ia merasa khawatir hal itu makin terancam punah, jika upaya rekonstruksi tidak secepatnya dilakukan.
Dengan demikian, generasi muda dan masyarakat Bali di masa mendatang tidak akan pernah mengenal bagimana rupa dari Tari Legong Leko yang kaya akan unsur-unsur pelegongan.
Demikian pula Legong Keraton Pelayon yang mengedepankan keindahan gerak yang sangat kompleks dan dinamis, ataupun barisan panjang kesenian lainnya. Pesta Kesenian Bali (PKB), kegiatan seni tahunan di Pulau Dewata, diharapkan mampu memosisikan diri sebagai lokomotif, menggerakkan upaya rekonstruksi atau penggalian kembali kesenian tradisional Bali yang sudah punah.
Gubernur Pastika mengingatkan bahwa PKB sebagai agenda rutin tahunan menjadi media representasi seni budaya yang sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat Bali sehingga PKB kini menjadi milik masyarakat Bali, nasional, bahkan dunia.
PKB akan menjadi lebih bermakna jika diberikan bobot yang lebih, tidak sekadar mempresentasikan hasil kesenian semata, tetapi lebih pada pelaksanaan yang mampu memberikan sajian menarik untuk diapresiasi masyarakat.
"Hal itu sebagai salah satu bentuk apresiasi masyarakat akan keragaman seni budaya yang dimiliki tiap-tiap kabupaten/kota terhadap berbagai jenis kesenian yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Bali," ujar Gubernur Pastika.
PKB yang mengusung tema "Paras-Paros Dinamika Dalam Kebersamaan" berlangsung sebulan penuh, 11 Juni-9 Juli 2012, menyuguhkan 334 kali pementasan, melibatkan lebih dari 15.000 seniman.
Aktivitas seni tahunan tersebut diisi dengan enam jenis kegiatan, meliputi pementasan, perlombaan, pameran industri kecil dan kerajinan rumah tangga, sarasehan, festival film dokumenter, serta pawai budaya.
PKB kali ini juga dimeriahkan oleh penampilan enam grup kesenian dari mancanegara dan 24 tim kesenian dari berbagai daerah di Indonesia.
