Wangkas Geni
Aku akan tetap menabrakmu
karena bara masih murup di mataku.
Aku akan terus memburumu
sebab api kian menjalar ke sekujur buluku.
Aku harus bertarung denganmu
agar tak sia nyala tajiku.
Ternyata, aku memang mencintai
pertarungan ini.
Telah kukaji kitab solah, pranggal dan mular
agar aku bisa menghajarmu dengan benar.
Kuhapal liku ngalung, ngundul dan nyayap
agar kau benar-benar megap.
Ketika kakiku yang kalap
kaki yang berbekal batu dan badai dadap.
Menggarit tiga bilah kuku
ke pangkal perutmu.
Lihatlah leherku yang kuning kemerahan
rawis manis yang merawikan riuh kemenangan.
Maka mari kita tuntasi
persabungan ini.
Mengadu sayap yang memburai bulu api
meluruk cucuk hingga satu dari kita ambruk.
Melepas pukul dan taji
yang mengasah segenap kelincahan kaki.
Ketahuilah, aku wangkas paling gagah.
Aku juga jago duel di udara.
Melancarkan serangan yang kebat
namun terjaga. Agar mereka tahu
Aku petarung ulung yang tak suka
menyimpan siasat rahasia.
Rupanya, aku memang tertetas
untuk bertarung:
Kepalaku pipih seperti perisai.
Cucukku melekuk mengutuk tiap pejantan pagi.
Dan jenggerku merah gergaji
meninggi menggertak fajar lesi.
Sang Juragan pun akan merasa demikian jantan
bila aku memenangi pertarungan ini.
Dia yang tengah menunggu
akhir persabungan dengan bulu dan pisau.
Sebagai takdir yang menaksir leherku
dengan gurah. Atau darah.
2012
Kita tak pernah berjanji
untuk bunuh diri. Di sini.
Tapi, dengan langkah lega
kita masuki lorong sepi.
Sesepi mulut makam
saat doa terasa padam
dan kau tersenyum, mengejek
dua malaekat yang jadi legam
seperti dedak kopi
yang kita tinggalkan.
Barangkali
kematian memang terlalu remeh.
Ia hanya setitik kuman di baju putih.
Padahal nasib telah dibatik
sedemikian rupa
seperti seragam tentara
atau malah rimba
tempat luka tengadah bagai bunga.
Di rimba rumbuk itu
kita tumbuh bagai pohon piatu.
Kuncup mekar seperti cinta yang gemetar.
Pentil buah berjatuhan seperti mimpi.
Sementara daun-daun berguguran
membawa gurat tangan tuhan
yang tetap tak terjelaskan.
Sampai bulu-bulu halus di tubuhmu berdiri
dan kita temui diri bagai sepasang serigala
yang tak tahu kenapa suka mengaum saat malam.
Di malam itu
auman kita adalah batu.
Ia meletik ke langit
seperti bulan yang melubangi malam.
Ia meledak seperti bintang
yang menabur kerlip kunang.
Seperti kerlip gaib
yang membimbing aku memasuki tubuhmu.
Di rumah ini, di bilik kurus sebelah kiri
seorang raja pernah terjelma dari ulat dan rasa gatal.
Sedang di bilik keras sebelah kanan
seorang putri memilih bunuh diri
dan mewarnai laut dan langit
dengan hijau, hijau kental
hijau yang lalu merambat
ke sawah dan segala amsal.
Hingga kita kembali
menjengkal lekuk isi rumah ini:
patung patih yang telah memutih
ukiran yang lebih ruwet dari mimpi
serta dua poci
yang tak lagi menuang damai.
Di sini kedamaian tinggal tikus
yang pelayon lalu kelon di pojok plafon.
Ketenangan hanya kecoak
yang di cagak mengendap pelan-pelan.
Sepelan denyut saat kudatangi kau
sonder suluk, sonder keris keluk
sonder pucung dan dandang gula.
Sebab seperti hikayat suwur
yang kini tinggal lamur dan jamur
kau telah terbuka, sempurna
seperti bayi paling murni
atau sang Sri
yang telah menyuling birahi
jadi butir padi.
Di bilik yang letih, mirip ruang otopsi
atau rahim yang melebur dendam dan benci
seribu mawar merambat
dari bibirku ke bibirmu.
Di situ, kita seperti sepasang serigala
yang kembali mengaji kitab mamalia.
Mendaras sulur cinta yang gaib dan gugup
mengeja rindu yang meletup dan murup.
Sampai setitik nyala berdegup bersama
sepasang matamu yang membuka-menutup.
Kuhisap susumu
dan kutemui ia yang dulu melahirkanku.
Melahirkan ular dan burung
di mana mata tak pernah cukup
menampung segala yang limbung
dan membumbung.
2012
A Muttaqin lahir di Gresik dan tinggal di Surabaya. Buku puisinya bertajuk Pembuangan Phoenix (2011).
