Puji Syukur ka maha Agung
Ya robbi ghofururohim
Bulan ngempray narawangan
saangna ka gunung Padang
Nyata Gusti nu maha endah...
(Rajah Pangjajap)
Waktu menunjuk pukul 21.00 WIB pada Sabtu malam (7/7). Bulan separuh bayang kadang tampak kadang hilang ditelan mega. Rombongan upacara tradisi Ngabungbang bersiap-siap dari Desa Panggulaan yang berada di dasar lembah Gunung Padang.
Ditemani puluhan obor dan lentera kecil, rombongan yang berjumlah sekira 150 orang itu mulai merangkaki punggung bukit menuju lokasi situs Megalit. Jalanan berbatu dan berundak dengan kemiringan 75 derajat sempat menyulitkan beberapa peserta. Itulah sebabnya, jarak 500 meter harus ditempuh selama 30 menit.
Tepat pukul 21.30 WIB, rombongan "Ngabungbang" telah sampai di teras pertama, sebuah tempat datar yang dipenuhi batu-batu punden berundak, sebuah tanda dari zaman megalitikum yang berlangsung sekira 2500 - 1500 SM.
Upacara dibuka dengan doa oleh juru kunci Gunung Padang, Abah Dahlan, yang berdoa untuk kelancaran acara.
Cahaya bulan yang mulai terang kian membuat khidmat acara. Seusai doa, acara bergulir di malam itu. Diawali dengan permainan kecapi seruling oleh Dewan Kesenian Cianjur, yang membawakan sebuah komposisi berjudul "Rajah Pangjajap".
Acara yang digagas oleh FMPSM (Forum Masyarakat Peduli Situs Megalith Gunung Padang) dan HW Project ini pun berlangsung dengan takzim. Usai permainan kecapi, muncul Iwan Soekri Munaf (Penyair) dan Ken Zuraida (sutradara dan aktris teater) yang membawakan Puisi berjudul "Sangkuriang), ReiYu Ro (Penari dan penyanyi rohani), Aliansyah (artis muda berbakat dalam seni performance art yg telah melalang buana), seni musik Karinding, dan Estefania Pifano (Penari Internasional berasal dari Venezuela yang saat ini sedang mendalami tari-tarian Indonesia)m serta Jodhi Yudono yang membawakan lagu "Doa" dan sebuah lagu spontan yang menggambarkan harapan akan negeri yang damai.
Menurut Hilda Winar yang bertindak selaku penggagas acara bersama Ken Zuraida, acara ini merupakan representasi dari kegelisahan para pelaku seni dan budaya yang merasa prihatin dengan kondisi bangsa. "Semoga dengan doa-doa yang kami panjatkan di tempat ini, bisa memberi menafaat bagi kebaikan bangsa ini," ujar Hilda.
Hilda menambahkan, acara Ngabungbang yang diselenggarakan ini sebetulnya sama dengan yang diselenggarakan di tempat lain, yakni berdoa di saat purnama, sebab saat purnama tiba diyakni memengaruhi kondisi mahluk di bumi. "Itulah soalnya kami perlu menyeimbangkan dengan doa."
Menurut Hilda, acara Ngabungbang akan diselenggarakan tiap tahun. Jika di tempat lain di wilayah Jawa Barat biasanya diadakan saat bulan Maulud, maka di Gunung Padang akan diselenggarakan menjelang bulan Ramadhan.
Acara diakhiri dengan diskusi tentang keberadaan situs Gunung Padang yang belakangan menghadapi berbagai persoalan yang menyangkut kelestarian situs tersebut. Mulai dari penggalian di beberapa titik yang terkesan kurang terbuka, hingga kunjungan turis yang mulai banyak datang ke lokasi ini.
