Jumat, 24 Oktober 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 24 Oktober 2014 | 23:47 WIB
Pesparawi di Kendari Karena Cinta
Kamis, 5 Juli 2012 | 18:47 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

shutterstock
ilustrasi

Oleh Rolex Malaha

Sekitar 5.600 orang penyanyi dari 33 provinsi mulai Rabu (4/7), turun ke arena lomba Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional X di Kendari, setelah  prosesi pembukaan yang meriah, aman, tertib, dan penuh semangat kekeluargaan.

"Ini semua karena cinta. Kesediaan kami menjadi tuan rumah Pesparawi merupakan wujud kecintaan terhadap saudara-saudara kami umat Kristiani di seluruh Indonesia, khususnya di daerah ini," kata Gubernur Sulawesi Tenggara H. Nur Alam saat memberi sambutan pada Pembukaan Pesparawi tersebut di Kendari, Selasa ((3/7) malam.

Tepuk tangan panjang dari ribuan hadirin termasuk Menko Kesra Agung Laksono, Menteri Agama Suryadharma Ali, dan sejumlah gubernur serta wakil gubernur se-Indonesia, kontan bergemuruh di lapangan eks MTQ Nasional 2006, tempat upacara pembukaan pesta rohani tiga tahunan umat Kristen ini.

Dengan didampingi empat tokoh agama yang berdiri di belakangnya yakni Islam, Kristen, Hindu, dan Budha, Nur Alam menyambung pidatonya dengan mengatakan bahwa pemerintah dan masyarakat Sultra meminta menjadi tuan rumah Pesparwi ini karena menyadari akan kekuatan cinta dalam keberagaman agama.

"Menjadi tuan rumah Pesparawi ini terwujud setelah penantian panjang. Ibarat mimpi yang kini menjadi kenyataan. Ini membanggakan karena menjadi ajang silaturahmi akbar yang membawa nilai-nilai dan wawasan keagamaan serta meningkatkan kohesi sosial melintasi sekat-sekat perbedaan agama, suku dan ras," ujarnya yang lagi-lagi disambut teput tangan hadiri.

Nur Alam yang akan mengakhiri kepemimpinannya periode lima tahun 2008-2013 pada awal tahun depan itu mengungkapkan bahwa panitia perhelatan terakbar ummat Kristiani di bidang puji-pujian kepada Tuhan itu 90 persen adalah ummat Muslim.

Gubernur berusia 46 tahun itu kemudian mengutip ayat Alkitab dalam Matius 22:37-40  yang dikenal ummat Kristiani sebagai ’The Golden Rule" (hukum emas) yang intinya memerintahkan manusia agar mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, roh dan tubuh serta mengasihi sesamanya seperti diri sendiri.

Menurut dia, variasi potensi keagaman harus dikelola menjadi sebuah kekuatan dan terpuji dalam merekatkan hubungan di bidang sosial dan terutama kepada Tuhan.

Ketua Panitia Daerah Pesparawi X 2012 Ir Vence Samuel Tumanan mengaminkan ucapan-ucapan gubernur di "Bumi Bahteramas", jargon pembangunan yang merupakan akronim dari ’bangun kesejahteraan masyarakat’ itu.

"Menjadi tuan rumah ini merupakan anugerah Tuhan karena kalau dipikir-pikir, populasi umat Kristen di Sultra yang berpenduduk sekitar 2,5 juta jiwa ini tidak lebih dari 10 persen," ujarnya.

Pihak Polri sendiri sempat memperingatkan panitia penyelenggara agar waspada menyusul laporan intelijen akan masuk-masuknya oknum-oknum dari kelompok tertentu ke Kendari untuk menolak Pesparawi ini.

Namun Gubernur Nur Alam menanggapi informasi tersebut dengan menyebutkan; "Sungguh sebuah ironi dan malapetakan bila agama dikemas sebagai sumber konflik" sambil memerintahkan aparat keamanan untuk melakukan pengamanan agar pesta rohani ini berjalan tertib, aman dan lancar.

Gembira ada di Pesparawi

Menteri Agama Suryadharma Ali yang baru tiba di Kendari bersama Menko Kesra Agung Laksono hanya sekitar dua jam sebelum upacara pembukaan yang molor 90 menit tersebut menyatakan gembira bisa hadir kembali di arena Pesparawi.

"Kemeriahan acara pembukaan adalah cerminan besar bahwa acara ini sukses berkat jalinan kerja sama yang baik antara pemerintah pusat dan daerah serta kolaborasi antarummat yang memang sudah biasa terjalin dalam acara-acara keagamaan lainnya," katanya.

Sangat penting artinya, kata menteri, bahwa umat Kristiani harus terus berkontribusi positif dalam memuliakan Tuhan melalui seni suara.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, Pesparawi merupakan sumbangsih nyata umat Kristen dalam pembangunan di berbagai bidang.

"Pesparawi ini  menggambarkan betapa kerukunan dan kebersamaan dalam semangat persaudaraan sesama ummat terjalin dengan baik tanpa batas. Nilai-nilai aduluhung ini harus dapat diwujudnyatakan dalam kehidupan bermasyarakat dengan saling menghargai saudara-sauara yang beragama lain," ujar menteri yang juga Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan itu.

Menteri mengajak umat Kristen untuk menjadikan Pesparawi X sebagai ajang meningkatkan potensi-potensi seni yang akan mewarnai wajah Indonesia sebaga ’zambrut khatulistiwa.’

"Mari kita bangun kepedulian sesama ummat, membangun cinta damai, jadikan acara ini untuk terus menerus membangun visi dan misi membangun manusia Indonesia  dan memelihara keharmonisan hidup," ujarnya.

Sementara itu Menko Kesra Agung Laksono sebelum memukul gong tanda pembukaan Pesparawi berharap melalui Pesparawi terbangun toleransi, solidaritas dan kebersamaan antarsesama.

"Terlebih-lebih bangsa Indonesia dewasa ini amat memerlukan persatuan dan kebersamaan dalam menghadapi permasalahan sosial di tengah-tengah tantangan pembangunan yang semakin kompleks," ujarnya.

Menurut menteri, terselenggaranya Pesparawi X di Kendari menjadi tolak ukur kehidupan umat beragama yang semakin baik di negeri ini.

Pesparawi, katanya, meningkatkan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pesan-pesan moral dalam sebuah lagu dapat memberi inspirasi bahwa semua agama menginginkan kehidupan yang rukun dan damai karena pada dasarnya semua mencintai kebersamaan dan tidak ada yang ingin konflik.

Contohi MTQ

Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu yang daerahnya baru saja menjadi tuan rumah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional 8 Juni 2012 mengemukakan bahwa pesta-pesta keagamaan seperti Pesparawi dan MTQ sangat efektif dalam mengatasi konflik.

"Kalau mau bicara soal peran Pesparawi dan MTQ serta acara-acara besar keagamaan lainnya dalam mengatasi konflik, maka Ambon sudah mmbuktikannya," ujar Ralahalu.

Karena itu, dalam tataran implementasi kegiatan, Gubernur Ralahalu berharap Lembaga Pengembangan Pesparawi Nasional (LPPN) mempertimbangkan untuk mengadopsi metoda yang dilaksanakan pada MTQ.

"Melihat pelaksanaan MTQ Nasional di Ambon baru-baru ini, maka saya menilai Pesparawi perlu lebih dikembangkan dimana peserta tidak hanya menyanyi tetapi juga mendalami Alkitab," ujarnya.

Menurut Ralahalu,  kalau MTQ di Ambon awal Juni 2012, ada kurang lebih 130 mata lomba yang memperebutkan piala tersendiri dari 11 cabang mata lomba utama.

Nomor lomba yang menarik saat MTQ tersebut adalah adanya lomba pidato tentang Al Quran dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Arab.

"Kalau kita bisa menyerap methoda dalam MTQ itu, maka Pesparawi bisa mengembangkan lomba  lomba membaca dan menghafal ayat Alkitab dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Jadi Pesparawi nanti tidak hanya bernyanyi saja, meski bernyanyi harus mendapat porsi paling utama dan besar,"  katanya.

Ia menambahkan, di tengah-tengah perkembangan ini, maka ummat Kristiani harus lebih didorong agar semakin rajin membaca dan mendalami Kitab Sucinya, katanya.

"Alkitab harus dijadikan sebagai bagian dari hidupnya, bukan hanya pada hari minggu datang ke gerja baru baca Alktiab tetapi setiap hari dibaca, didalami, dilaksanakan dan menjadi inspirasi dalam segala segi kehidupan," ujarnya.

Gubernur Ralahalu juga menegaskan kesiapan daerahnya untuk menjadi tuan rumah Pesparawi Nasional XI/2015 bila disetujui dalam Musyawarah Nasional Lembaga Pengembangan Pesparawi Nasional (LPPN) di Kendari, 9 Juli mendatang.

Pesparawi X Kendari yang akan berlangsung 3-9 Juli 2012 tidak hanya menggelar lomba paduan suara, vocal group dan solo, tetapi juga seminar musik gerejawi, penanaman pohon penghijauan, pameran pembangunan dan produk-produk daerah serta Musnas Lembaga Pengembangan Pesparawi Nasional (LPPN).

Antusiasme warga Kendari terhadap perhelatan akbar umat Kristiani di bidang musik dan nyayian ini tampak pada berjubelnya pengunjung pada tiga arena lomba yakni Hotel Kubra, Gedung Pemuda dan Gedung Sapta Pesona Kendari untukmenikmati alunan lagu untuk memuji dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa.

 

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono