KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
ilustrasi
Lilin
Sebab nyalaku tak saja oleh sekedar api. Aku pun mesti
disuguhkan sunyi. Dan ditiupi hening doa dari bibirmu.
2012
Sepatu
Ibu guru memiliki sepatu baru. Dibelinya pada sebuah toko
dengan harga murah meriah. Warnanya hitam mengilap. Dan
hari ini ia kenakan dengan bahagia untuk tugas mengajar hari
pertamanya. Di perjalanan menuju sekolah, hujan mendadak
turun. Disebabkan oleh rasa sayangnya pada sepatu, ibu guru
berniat melepasnya. Namun buru-buru ditolak, sepatu berkata,
"ijinkan aku sejenak menjadi pahlawan bagimu, meski sebatas
memintas hujan."
2012
Percakapan di Bawah Hujan
Dua batang pohon sedang bercakap di sebuah halaman.
Hujan telah mengguyur lebih kurang sejam lalu. Sepasang
pohon sudah sepantasnya tahan. Percakapan mereka lebih
menggenang ketimbang hujan. Tapi seorang penyair yang
berada diantaranya, hampir saja menghembuskan nafas
terakhirnya. Ia terendam oleh genangan kata yang terus
berjatuhan dari percakapan dua pohon itu.
2012
Bantal
Kepada bantal ini. Yang begitu kuyakini selama ini untuk
menjaga lelapku. Kuserahkan setiap detik kepenatan hidup.
Kurebahkan, seberapa pun beban keras memberatkan pikiran.
Kepada batal ini. Tentu. Di malam-malam yang nyaris sepi.
Saat sentuhan pertama kepala. Diam-diam, aku telah belajar
menghianati mimpi sendiri.
2012
Keberangkatan
Kau menanam lelampu di dalam kepalaku. Dan memindahkan
cahaya terang matamu ke redup mataku. Kau yang cekatan.
Dadamu yang berdebar sampai menggetarkanku. Dalam upaya
mempersiapkan semuanya itu, kau memberitahukanku akan perihal.
“Perhatikanlah. Jalan lurus di depanmu itu. Ujungnya tak terlihat
sekaligus tak tercapai. Ia hanya menerima pejalan yang bergerak
tanpa bebayang. Semoga itu adalah kau. Semoga juga kau bahagia
melewatinya. Membawa pulang kembali jantung kata-kata. Pulang
ke pangkuan kita.” Aku melangkah. Sedangkan kau berbalik menjauh
tak sedikit pun melepas senyum sebagai tanda keberangkatan.
2012
Perihal Dada
Dadamu telah disesaki senja dan kuncup bunga.
Namun, kau masih berusaha memetik setangkai
bintang dari langit malam yang luas membentang.
Kau begitu terpesona dengan kerlipnya. Ia serupa
mata lelaki yang kukenal dari balik mimpi, bisikmu.
Tak kusangka. Kau mampu dapatkan segenggam.
Setelah seharian menyusun tangga dari doa. Lalu
kau menyelipkannya ke ruas-ruas dada. Katamu,
“aku meyakini, dadaku tak suram bagai pikiranmu.”
2012
Putu Gede Pradipta tinggal di Denpasar. Karya puisinya dipublikasikan di media cyber dan berkesempatan lolos kurasi TSI 4 serta tergabung dalam antologi Munajat Sesayat Doa.
