Kamis, 23 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 23 Mei 2013 | 04:45 WIB
Pameran
Karya Kenyut Menyapa Penikmat Seni Rupa
Penulis: Abdul Lathif | Rabu, 4 Juli 2012 | 19:29 WIB
|
Share:

SURABAYA, KOMPAS.com — Djunaidi Kenyut (33), perupa asal Surabaya, Jawa Timur, yang bermukim di Ubud, Bali, menyapa penikmat seni rupa dalam pameran karya seni rupa bertajuk "The Dinding" pada 3 Juli sampai 3 Agustus 2012 di Galeri Orasis, Jalan HR Muhammad 94, Surabaya.

Sentuhan kreatif karya seni rupa yang dihadirkan Kenyut meliputi 25 lukisan di atas kanvas, 22 lukisan di atas botol, serta 1 kaleng bekas cat semprot dibentuk figur dan dilukis. Satu dinding buatan sepanjang 10 meter direspons pengunjung serta teks sepanjang 40 meter yang terpampang dari tangga hingga ruang pameran.

Kenyut, sang perupa, mengatakan, ide dasar karyanya berasal dari dinding-dinding di pinggir jalan yang biasa kita lihat sehari-hari. Dinding yang awalnya polos kemudian mulai berwarna-warni dihiasi oleh perupa jalanan, poster iklan, pengunjuk rasa, hingga orang-orang yang hanya iseng menumpahkan isi kepalanya.

Akibatnya, tembok itu pun mulai penuh, sesak, silang sengkarut tak beraturan. "Ide dasar tersebut kemudian saya olah dengan proses mengalir, mengikuti isi pikiran yang saya alami dan rasakan saat itu," kata Kenyut ketika dihubungi pada hari Rabu (4/7/2012) di Surabaya.

Ia mengatakan, dalam beberapa karyanya juga sering bermunculan figur kecil yang tidak tampak posisi depan dan belakangnya dengan mengacungkan salah satu tangan ke atas. Hal itu mengisyaratkan akan dirinya dan orang-orang kecil lain yang memiliki semangat hidup yang terus bergerak walaupun banyak kendala.

"Figur-figur yang saya tuangkan dalam karya seni rupa itu saya ibaratkan diri saya dan orang-orang kecil yang memiliki semangat untuk terus hidup," katanya.

Pengamat seni rupa yang juga pengajar seni rupa Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW), Surabaya, dalam katalog pameran mengatakan, Kenyut adalah sosok yang selalu bergerak dan liar, yang sampai saat ini masih tampak dan bisa dilihat dari penciptaan karyanya. 

"Bahkan, lintasan perjalanannya terekam dalam setiap sapuan, goresan, dan komposisi yang kadang liar oleh sebab emosi yang keluar dari dalam jiwanya yang menggelora bagai api yang tidak bisa dipadamkan," katanya.

Dikatakan, ledakan-ledakan bentuk, warna, dan coretan menggambarkan perjalanan yang tidak pernah lelah dalam menaklukan apa yang sedang dihadapinya.

Kenyut adalah sosok yang unik dalam perjalanan berkeseniannya. Dia memutuskan untuk keluar dari Jurusan Seni Rupa STKW, lalu belajar pada alam yang mahaluas.

Elizabeth, sang pemilik Galeri Orasis, menyatakan, karya-karya Kenyut adalah karya eksperimental dari seorang perupa muda potensial yang diharapkan menjadi profesional dalam menapaki dunia kekaryaan seni rupa yang terus bergerak mengikuti dinamika kehidupan.

"Kenyut yang beberapa tahun terakhir ini menetap di Ubud menunjukkan potensi sebagai perupa muda di masa mendatang, yang diharapkan bisa menjadi semakin profesional," kata Elizabeth.

Editor :
Marcus Suprihadi