SOLO, KOMPAS.com--Sebanyak 16 delegasi kelompok musik lokal maupun internasional akan memeriahkan pergelaran festival musik "Kretakencana Worldmusic Festival" (KWF) yang digelar di bekas Pabrik Gula Colomadu, Kecamatan Colomadu Karanganyar, 4-8 Juli 2012.
"Pergelaran KWF yang pertama kali digelar itu yakni festival yang menjadi ’kendaraan’ untuk bertemunya para musisi dunia berasal dari berbagai aliran musik," kata Ketua Umum KWF 2012 Bambang Sutejo di Colomadu Karangnyar, Selasa.
Ia mengatakan, delegasi itu terdiri atas 13 lokal dan tiga lainnya luar negeri yakni AVIJIT gHOSH (India), Rhythm De Pasion (Singapura), dan Drum N Wind Jamal Muhamed (Amerika Serikat).
Delegasi berasal dari Tanah Air yang akan memeriahkan KWF antara lain PSM Voca Erudita (Solo), Golden Woter (Solo), Hudog (Kalimantan Timur), Angklung Paglak (Banyuwangi), Ully Sigar Rusady (Jakarta), Balawan (Bali), Karawitan 212 ( STSI Bandung), Bahana Eknik (Padang), dan Sa’Unine String Orchestra (Yogyakarta).
Ia menjelaskan, seperti halnya di negera-negara lain dalam membuat festival musik kultural, dewasa ini tren festival musik kultural sangat perhatian terhadap warisan atau bangunan industri kolonial hingga dunia.
Festival musik kultural tersebut mengambil lokasi di bekas Pabrik Gula Colomadu. Pabrik itu peninggalan zaman kolonial, dibangun pada 1861 oleh Mangkunegaran Ke-IV atau sekitar 10 tahun setelah Pura Mangkunegaran berdiri.
Pergelaran musik KWF diselenggarakan oleh suatu komunitas independen bernaman Kretakencana Worldmusic Festival Community. Komunitas itu terdiri atas mahasiswa, seniman, budayawan, pengusaha, dan bermacam-macam lapisan masyarakat lainnya. "Komunitas itu, ada di dalam sistem Swarakita Foundation," katanya.
Ketua Yayasan Swarakita Foundation Alex Komang mengatakan, pihaknya mendukung pergelaran KWF yang mengangkat musik tradisional agar mendunia.
Pihaknya berharap, event internasional tersebut menjadi wadah baru bertemunya musisi berasal dari berbagai dunia yang bersatu menampilkan wujud festival bernama KWF.
Delegasi berasal dari India, Avijit Ghosh, mengaku, akan memainkan alat musik Arod atau sejenis kecapi dengan satu temannya yang memainkan gendang.
Ia mengatakan, musik yang akan dibawakan asli dari Afghanistan. Musik itu menceritakan sesuatu yang menyatukan antara manusia. "Saya bangga dapat datang ke kota ini mengikuti festival ini," katanya.
Ketua Grup Angklung Paglak Banyuwangi, Sahumi, mengatakan, penampilannya di KWF di kota itu sebagai yang kedua, setelah sebelumnya di Stadion Sriwedari Solo, "Solo International Ethnic Music" (SIEM).
"Pergelaran ini, kita menduniakan musik rakyat, karena musik itu memiliki nilai sangat tinggi untuk dikenalkan ke masyarakat," kata Sahumi.
Penyelenggaraan KWF di PG Colomadu tersebut karena gagalnya SIEM 2012 di Taman Balaikambang Kota Surakarta, setelah protes sekelompok massa Forum Masyarakat Peduli Seni Budaya (FMPSB).
Bambang Sutejo juga selaku Ketua Panitia SIEM mengatakan, pergelaran KWF berbeda dengan SIEM di Solo. "Aliran musik kontemporer itu ada sendiri dan harus diselenggarakan di Kota Solo," katanya.
