Kamis, 23 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 23 Mei 2013 | 12:22 WIB
Puisi-puisi Cut Dini Desita
Selasa, 3 Juli 2012 | 09:59 WIB
|
Share:

dedotblog.wordpress.com
Ilustrasi

SERIBU RINDU
:  Untuk Jo

Aku menyangsikan sehelai rambut ikal di atas bantal. Melingkar seperti ombak  ie beuna  yang menenggelamkan seribu rindu dalam gulungannya. Ada wajah yang reliefnya menyerupai berderet-deret gunung yang membelah keberadaan pijak kaki.

Engkau di ujung sampan, ada guguran hujanmu yang belum mengering di ujung seprai. Tempat sang nelayan menebar mimpi  dengan seribu harap menjaring bayangan gadis yang tengah lelap. Satu purnama telah lenyap, engkau lupa berkabar tentang cuaca yang tak tentram.

Engkau di ujung telaga, danau menderas lalu meruntuhkan bendung di wajah. Kududuk di dermaga, ayunan kaki lenyap disapu gelombang air mata. Lalu melangkah ke jembatan tempat bersua. Meski seribu waktu, menunggu.  Tiba-tiba engkau lupa, dan lenyap di ujung jalan.

Pada engkau, tiba-tiba teringat pada sebuah jalan di pesisiran. Sebuah jalan ringkas di sisi laut yang mengarah ke barat. Dimana sepanjang jalan kita menyaksikan mentari pulang.  Kemanapun melihat hanyalah tanah tertutup semak dan sekali-sekali muncul pepohonan kelapa. Ada yang tak pernah lupa. Aku mendengar denting angin, sembari membentangkan tangan, menghirup aroma hasil persetubuhan antara angin asin laut, tebasan nyiur, dan semak-semak yang bertahan hidup.  Seperti itukah rindu?

Harvard English School – Banda Aceh, 4 Juni 2012

A P I

Cuaca panas itu mengingatkan padamu, kawan
Berteduh di bawah daun-daun kecoklatan
Pohon menjadi rindang dengan rantingnya saja
Saat itu pula, mereka lalu lalang di hadapan
Dengan bangga menebar racun menghentikan pernafasan

Kita pernah satukan langkah, membakar semangat
Tapi engkau kian melangkah sendiri semakin menghangat
Membakar nyawa, memukau mereka dengan api yang menjilat-jilat
Tanpa pesan
Tanpa dendam yang harus kami balaskan
Sementara lidah api menuntun langkah sia-siamu menuju kematian
Engkau memilih langkah yang salah untuk pulang

Hitunglah, sudah berapa banyak jarak terlewat
Tak ada tanda kenang yang kau semat
Tetap saja, tanah ini berguncang
Perang
Hingga petang
Lalu pulang
Dan esok kembali terulang
Engkau hanya sulit mengerti mengapa jalan kita sering di tempat

Banda Aceh, 30.04.2012

SAJAK DAPUR - IBU

Tudung saji ini memeluk meja yang kosong
Piring berbangkaikan lalat-lalat sombong
Ibu urung menyentuh api pematangan
Selalu mengentaskan perannya di ruang suram

Ruang itu bernama mimpi
Tempat ia menebus sunyi
Yang hilang dalam masa perawan
Yang dirindukan di masa silam

Sesekali, meja ini ditandang seekor ikan
yang hitam
setelah arang menelan nyawanya
tulang tersangkut di kata-kata
membiarkan kepulan asap amis menyampaikan kegundahan

Ia membakar leher dengan nyala lilin di meja
memaksa hujan di luar mengendus perasaannya
sebelum mengumbar keputus-asaan

Banda Aceh, 27 Juni 2012

Cut Dini Desita atau Rain. Lahir di Banda Aceh, 24 tahun yang lalu. Seorang mahasiswi Akuntansi tahun akhir, yang menjadikan segala tulisan sebagai sarana meluapkan emosi. Bisa ditemui di rainese_queen@yahoo.com dan http://taman-hujan.blogspot.com.

 

Editor :
Jodhi Yudono