Jumat, 25 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Juli 2014 | 00:04 WIB
Pengabdian Dariah, Lengger Lanang Terakhir
Selasa, 3 Juli 2012 | 04:15 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">
KOMPAS/GREGORIUS MAGNUS FINESSO Dariah (84) maestro lengger asal Desa Somakaton, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dalam satu sesi latihan bersama para nayaga dari Paguyuban Seni Banyu Biru Desa Plana. Dariah merupakan lengger lanang (laki-laki) Banyumasan yang tersisa dan akhirnya memilih hidup sebagai perempuan untuk menjalani profesi seninya. Pengabdiannya bagi lengger membuatnya dianugerahi gelar maestro seni dari pemerintah pusat. Foto diambil akhir Januari.

Gregorius Magnus Finesso

Bunyi jangkrik malam bersahutan kala tubuh renta Dariah (84) bergerak pelan mengikuti ritme tetabuhan calung bambu. Sesekali sampur merah yang melilit keriput jemarinya dikibaskan seraya menggelengkan kepala mengikuti nada. Dari wajahnya tersungging senyum seolah terkenang masa kemasyhuran puluhan tahun silam sebagai primadona lengger Bumi Banyumas.

Beberapa tembang Jawa lawas mengiringi gerak Dariah yang tergolong luwes di usia senjanya. Sambil terus mengulum daun sirih di sudut-sudut bibirnya yang tak lagi bergincu, aura Dariah seiring usianya kian renta.

Dariah adalah seniman lengger Banyumas yang tersisa. Kemaestroannya mendapat pengakuan saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberi anugerah kategori Maestro Seniman Tradisional pada tahun 2011. Namun, lebih dari itu, perjalanan kesenimanannya sungguh berliku. Demi seni yang begitu dicintanya, dia memilih melakoni hidup menjadi perempuan walau terlahir sebagai laki-laki.

Duduk di dingklik di sudut padepokan Sanggar Seni Banyu Biru Desa Plana, Kecamatan Somagede, pada pekan ketiga Mei lalu, Dariah memulai cerita panjangnya.

Dariah lahir di Desa Somakaton, Kecamatan Somagede, dusun kecil di sudut timur Kabupaten Banyumas, sebagai laki-laki bernama Sadam. Ibunya, Samini, dan ayahnya, Kartameja, hidup sebagai petani kecil.

Ia lahir sekitar tahun 1928. Saat berumur lima tahun, Sadam kecil ditinggal mati ayahnya dan bersama ibunya ikut dengan kakeknya, Wiryareja, di desa yang sama. Bersama kakeknya, Sadam tumbuh sebagai anak desa lugu.

Awal mula kecintaannya pada lengger berawal saat seorang pengembara (masyarakat setempat menyebutnya maulana) bernama Kaki (kakek) Danabau datang ke rumah Wiryareja. Pada suatu saat Kaki Danabau mengatakan kepada Wiryareja bahwa cucunya dirasuki indhang (roh) lengger dan akan terkenal.

Menjadi perempuan

Setelah mendengar kata-kata itu, diri Sadam bergejolak. Dia akhirnya pergi tanpa pamit dari rumahnya berbekal sedikit uang. Dia berjalan selama berhari-hari hingga akhirnya sampai di sebuah perkuburan tua.

”Kaya ana sing nuntun nyong mlaku maring Gandatapa.

 (Seperti ada yang menuntun saya berjalan ke Gandatapa). Di situ ada makam, lalu saya bertapa. Tadinya enggak tahu kuburan siapa. Tahu-tahu ada orang lewat berkata, itu makam Panembahan Ronggeng,” cerita Dariah yang hanya bisa berbahasa Banyumasan.

Seusai bertapa berhari-hari, Sadam pulang ke rumah setelah sebelumnya membelanjakan seluruh uangnya untuk membeli gelung brongsong (konde yang dilengkapi semacam ikat kepala sehingga pemakaiannya tinggal dipasang di kepala), kemben, sampur, dan kain.

Sekembali ke desanya, Sadam yang saat itu berumur sekitar 16 tahun telah memantapkan diri menjadi penari lengger. Dia berganti nama menjadi Dariah. Uniknya, tak ada yang mengajari Dariah. Selang beberapa bulan, nama Dariah langsung moncer sebagai primadona lengger. Tak hanya di Banyumas, bahkan hingga Purbalingga dan Banjarnegara. Dia ditanggap di berbagai hajatan, terutama yang digelar orang-orang terpandang kala itu.

Gerak lincah nan luwes serta kecantikan Dariah membuat banyak lelaki memperebutkannya. Bahkan, tak sedikit yang mendambanya sebagai istri simpanan. Konflik batin bergelora di hati Dariah muda seiring dengan jalan hidup menyimpang yang dipilihnya. Perseteruan dengan perempuan- perempuan lain yang cemburu menjadi harga yang mesti dibayar atas ketenarannya.

Pada zamannya, Dariah ditanggap dua hari sekali atau lebih. Dari lengger, Dariah mampu membeli rumah, tanah, dan sawah bagi keluarganya. Namun, kebaikan hatinya acapkali dimanfaatkan orang lain hingga banyak orang menipunya.

Kejayaan lengger bertahan hingga Gerakan 30 September 1965 meletus. Kala itu seniman tradisional menjadi kelompok sosial yang oleh rezim Orde Baru ditengarai dekat dengan komunisme. Begitu pula seniman lengger yang banyak ditangkap pemerintah.

Saat lengger dilarang, Dariah menjadi perias pengantin atau sering disebut dukun manten. Profesi yang dilakoninya hingga usia senja.

Mewariskan lengger

Menurut seniman pengasuh Sanggar Seni Banyu Biru Desa Plana, Yusmanto, lengger lanang (laki-laki) mulai berkembang pada masa Kademangan Gumelem, sekitar abad ke-17. Saat itu perempuan tak boleh memamerkan bagian tubuhnya untuk dinikmati banyak orang, lengger dimainkan kaum pria.

”Penari lengger seperti Mbok Dariah mendapat status sosial tinggi di masanya. Pilihan hidup yang berat untuk memberi hiburan bagi khalayak membuat mereka dikagumi,” jelasnya.

Kini, kala tiada lagi lengger lanang tersisa di Banyumas, Dariah yang melajang sepanjang hayat tetap mendedikasikan diri bagi seni yang telah mengubah jalan hidupnya. Meski untuk berjalan pun harus tertatih, dia rajin mengajar bocah-bocah kecil menari lengger di Sanggar Seni Banyu Biru yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumahnya.

Menghabiskan masa tua bersama keponakannya di rumah kecil di tepi Sungai Serayu, Dariah tak pernah menolak tamu-tamu seniman dari luar daerah yang mengunjunginya. Bahkan, ketika harus pentas di Taman Ismail Marzuki Jakarta, akhir Desember lalu bersama dua maestro tari lain dari Slawi dan Betawi, ia jalani tanpa keluhan.

Kepada semua tamu dan seniman lain yang mengunjungi rumahnya, Dariah hanya berpesan, ”Nyong pengin akeh bocah njoget lengger. (Saya ingin lihat banyak anak menari lengger). Saya hanya bisa mengajari, tidak kuat yang lain,” ujar Dariah sambil sesekali mengedip, menahan titik air di sudut mata keriputnya.

Kala semua tamu meninggalkan rumahnya, dan sunyi kembali menyergap, Dariah tertatih menuju kamar. Dibukanya tas keresek berdebu yang tergolek di atas dipan. Dikenakannya kebaya hijau dan sampur merah serta perhiasan lain yang disimpan puluhan tahun. Tanpa iringan musik, tangannya digerakkan perlahan. Mulutnya bergumam menyenandungkan gending Banyumasan. Sekali lagi, lengger lanang terakhir itu menari….

 

Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Jodhi Yudono