KOMPAS IMAGES/I MADE ASDHIANA
ilustrasi
DENPASAR, KOMPAS.com--Masyarakat Bali dalam menjalani kehidupan sehari-hari berusaha mewujudkan keseimbangan antara kebutuhan material dan spiritual sehingga mampu mempersembahkan karya-karya terbaik.
"Karya terbaik dalam kehidupan sehari-hari itu berupa rangkaian janur, kombinasi dengan bunga dan kue (banten) yang selanjutnya mendasari seni budaya Bali," kata Guru Ashram Vrata Wijaya Denpasar Sri Hasta Dhala, Jumat.
Ketika menerima kunjungan 12 mahasiswa University of Western Australia (UWA) yang didampingi Prof Dr Paul Trinidad, ia mengatakan, membuat kombinasi bunga dan kue bagi masyarakat Bali, khususnya wanita merupakan kebudayaan ibu.
Oleh sebab itu wanita Bali wajib belajar dan memiliki keterampilan membuat berbagai jenis banten, karena hal itu sangat diperlukan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
"Masyarakat Bali dalam mempersembahkan banten dibuat yang paling indah, minimal sesuai hati yang bersangkutan, disamping kegiatan itu dilakukan secara tulus iklas," ujar Sri Hasta Dhala yang juga dihadiri ratusan siswanya.
Kondisi yang demikian itulah salah satunya menjadikan menjadikan kebudayaan mempunyai kaitan yang erat dengan agama Hindu yang dianut sebagian besar masyarakat di Pulau Dewata.
Dengan keunikan seni budaya Bali yang demikian itu mampu sebgai salah satu daya tarik wisatawan mancanegara ke daerah ini.
Ashram Vrata Wijaya Denpasar baru-baru ini juga mendapat kunjungan dari China, Jepang dan Australia, ujar Sri Hasta Dhala.
Ketua Yayasan Sad Jaya Abadi yang salah satunya menaungi Ashram Vrata Wijaya Denpasar, I Wayan Sudiarta menjelaskan, hingga saat ini memiliki enam cabang meliputi cabang Sembulung, Pondok Asem, Wono Asih, Ubud, Singaraja dan Denpasar.
Selain itu juga membawahi ashram Lembah Bayam, Amriham di Australia di antaranya Sudaram, Karma Yoga dan Satham Gauri, disamping dalam proses penyelesaian Ashram di Jepang.
Siswa mengikuti berbagai kegiatan dalam ashram, belajar tari, lagu, yoga dan pemantapan spiritual.
