Rabu, 19 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 19 Juni 2013 | 22:04 WIB
Sajak-sajak Laksmi Pamuntjak
Selasa, 26 Juni 2012 | 00:35 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

google.com
Ilustrasi

Cerita Perjalanan

Tiap perjalanan mungkin bermula
dari tangga
atau dari kaki yang terseret
sepanjang lorong
di rumah nenek yang tua, di mana
pintu terbuka, mungkin ke bayang
& bekas tinta. Ada pediangan dengan
sisa arang. Sering orang tak bisa tahu
mana ruh mana hantu, dan seperti kunci
yang jatuh ke pasir, kita tertegak
ke arah pusaran, tapi lupa seseorang
yang di sana. Nyanyi terjahit pada langit,
jauh sebelum kota-kota didirikan
dan tanda jalan dan jarak dipasang
Bisa saja angin khianat, ketika sinar
memilih celah,
mungkin kita puji Tuhan yang salah
dan hanya ingat apa yang membuat ladang bercahaya
bagian yang lekat pada peta. Kita tinjau bentangan
dari arah kerak bumi, seakan-akan planit ini
hanya tumpahan kosmis yang tak sengaja.
Gunung mengeriput di bawah matari, dan laut
cuma air yang merembes ke dalam ruang.
Tapi akhir-akhir ini panas jadi perak,
ketika pulau tenggelam dan ikan terengah
dalam liang hari yang hitam, yang meranggas tak biasa.
Apapun kisah yang kita bayangkan di jalan ini
terkubur di dada si mati, atau selamat karena bulan
dengan wajah sesat seorang dewi. Begitu rupa kiranya,
hingga halaman yang melompat dari kitab
terasa menyentak lembut, mengisyaratkan sesuatu
yang akrab ke kulitmu: sidik jari ibu, tetes peluh bapak
yang lepas dari leher yang menjulur di garis yang sama,
membawanya pergi ke sebuah tempat,
ke sebuah penjuru, di mana burung-burung
terbeliak, menatapmu.

Bhisma: Di Siang Terakhir

Suatu hari kulihat seorang lelaki terantuk-antuk melintasi padang; matanya tetap saja merunduk. Seakan dalam badai yang menghimpun hujan itu, setelah menerobos celah semak, ia akan menemukan cahaya alit di rahim ibunya.

Seekor burung terjun ke dalam liang di tanah yang kini gelap – aku tak tahu rumah siapa neraka siapa – tapi ada sesuatu pada lelaki itu yang tersentuh dalam-dalam, seolah hanya dengan satu gerak tangan telah terhimpun kembali kepercayaan, di seluruh hidupnya, dan ia biarkan ujung anak panah perempuan itu terbang sendiri, menusuk.

Tentang Cahaya

Yang ia percakapkan hanya cahaya.
Ketika ia berikan kepadaku buku tentang seorang penulis
yang mengucilkan diri di rumah rahib Cappadocia,
rasanya ia berharap aku juga akan berpikir
tentang cahaya yang jatuh ke batu-batu tertentu,
di pagi-pagi tertentu.
Baiklah, kataku, tapi warna putih
adalah malam. Bukan matahari yang
mengantarkannya, melainkan cahaya bulan
pada karang. Ia mendengarkan.
Lalu ia sarankan agar aku lebih menyimak pagi
Anatolia. Sebab di sana ada getar kecil
pada cahaya terang, pohon-pohon birka
berbercak kapur dan coklat muda
yang memagar tebing, burung air yang
meloncat-loncat.
Ketika si penulis di biara itu mati
belum sebulan sejak ia berikan buku itu kepadaku,
diam-diam ia runtuh.
Lalu ia tulis semacam obituari
yang akan membuat yang mati,
bahkan Narcissus, tersipu-sipu.
Sementara ia menangis dalam kepedihan Virgilius,
aku datang kembali ke jajar sinar
yang jatuh ke dadaku siang itu.
Tiap kali pandangnya menatap sepasang lonceng
di kedua ujungnya, puncak yang lunak
dan menyerah itu,
aku tak tahu adakah ia tengah menikmati
warna jingga gardu-gardu yang menegaskan
pertigaan itu,
atau menjilatkan matanya
ke warna susu, warna bundaran pada menara
dongeng Rapunzel.
Aku tak tahu adakah
cahaya tubuhku yang ia tatap
atau cahaya sekitarku
yang tak ada hubungannya
dengan diriku.

Putus

Tentu aku telah melihat ini dalam mimpi:
kita mulai dengan makan, dan
kita lirik tiap gerak yang lewat pada gang.
Lalu kita beringsut pergi
dengan diam, pulang pada segelas anggur ringan.
Aku ingin katakan sesuatu padamu, tapi kau telah tahu.
Dan sesaat tertangkap: sunyi dan senja. Lalu:
Sunt lachrimae rerum. Dengan nada
yang tak akan meyakinkan bulan.
Ternyata airmata ada, pada tiap benda. Sekejap
kucoba berkata, tidak, tidak,
kita lebih baik kembali kepada yang tadi,
kepada pikiran yang pertama. Tapi begitulah.
Tiap kali kita bertanya-tanya,
dalam kabut macam ini, yang lebih berat
ketimbang gelap, yang lebih gelap ketimbang angan,
mengapa pada akhirnya
semua berhenti, di titik ini.

Laksmi Pamuntjak telah menerbitkan dua kumpulan puisi, Ellipsis (2005) dan The Anagram (2007). Empat puisinya di atas adalah versi Indonesia dari sajak-sajak berbahasa Inggris yang akan ia bacakan dalam Poetry Parnassus di London, Inggris, akhir Juni ini – bagian dari Cultural Olympiad dan London Festival 2012, mengiringi Olimpiade 2012. Laksmi diundang ke acara tersebut sebagai wakil dari Indonesia.

 

Editor :
Jodhi Yudono