# Senja
Tergurat di semenanjung rindu
ini sepi yang mengiris;
Kutulis sejenak sajak rindu
pada senja yang kau ukir di tanganku
kurasa sembilu memecah kalbu
Betapa kalbu bisa begitu merana, kau mengerti?
Aku terkadang tidak.
Rasa nyeri yang membantu kita menjadi manusia;
betapa kita tidak serupa?
kulihat senja mengelimang cahaya
Kelam kelabu dari balik awan membiru
dan kubiar kau terbang berlalu.
Jangan menangis, ku bilang lirih;
pada diri sendiri, pada hatimu yang diam merintih
pada hidup yang datang lalu berlari
#Semenanjung
Menunggu di semenanjung,
Jauh laut yang menggeliat pada sepi
Wajahmu memintas antara
batas ruang yang sadar dan tidak
Berlari mengejar pada angin timur
kemari, mendekatlah kemari
Biarkan jarimu merajah sebagian takdirku
dengan doa-doamu yang diam
#Abu
Aku benci menyulam abu,
bisu yang membunuh
Dalam ragu yang terkadang menggebu
rindu mengikat satu-satu, kembali jadi abu
hantu terbang di separuh malam, menggunting pekat
melihat takwim segera merapat pada takdir,
kemana kau hendak menerjang hai takdir?
tidakkah perih menyulam jadi abu,
pada entah apa sepi meminta untuk merapat pilu
ini apa hendak kukira,
dalam sebait puisi maha sunyi,
malam yang memintamu pergi menggenapi dalam sepi.
#Malam
Menatap punggungmu dari belakang,
mendapati kau tersedu dalam diam.
Malam yang separuh menjelma kesunyian,
dari ribuan tahun pencarian.
Tubuh kita saling bersilang ujur,
mendiami kebisuan dan rasa benci
yang tidak mampu dipahami
Jangan lagi kau kejam terhadap tubuhku,
sekali pun aku puan yang kau simpan dalam lumbung hatimu
#2
Mendetik ke angka 2
Sudah waktu beranjak berdetak
melaju tidak membunyi
masa bersijingkat pelan,
semesta merunduk tunduk
pada pekat mendetik ke angka 2
ini betapa waktu berlari
melaju enggan terhenti
manusia memandang sepi
kenangan menari kembali
dan waktu tetap engan berhenti
mendetik ke angka dua
dan kita mnejadi tua.
Gui Susan, ___________________________
Puan, seorang ibu, pencinta buku.
