Sabtu, 25 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 25 Mei 2013 | 05:23 WIB
Ada Kasus Hambalang di Lakon "Jomplang"
Sabtu, 23 Juni 2012 | 00:24 WIB
|
Share:

Kompas.com/Jodhi Yudono
Lakon "Jomplang" dimainkan oleh Teater Aquila Jakarta di Gedung Kesenian Jakarta pada Jumat malam (22/6/12).

JAKARTA, KOMPAS.com--Lakon "Jomplang" yang dimainkan oleh Teater Aquila Jakarta di Gedung Kesenian Jakarta pada Jumat malam (22/6) berkisah tentang percintaan antara Satria dan Tyas dengan latar belakang persoalan sosial politik dan ekonomi (sospolek).

Lantaran berlatar sospolek itulah, Dhannisa Nurfira selaku penulis naskah, membukanya dengan adegan anak-anak sekolah yang menyeberangi jembatan rusak, sebuah adegan yang mengingatkan penonton pada peristiwa sekitar 125 siswa SD dan SMP warga Dusun Cadas Bodas, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut Jawa Barat, harus menantang maut saat hendak pergi sekolah. Mereka terpaksa menyebrangi sungai Cisanggiri yang lebarnya mencapai 100 meter. Hal itu harus dilakukan para siswa sejak jembatan gantung terputus (9/1/2012) lalu, akibat tertimpa pohon yang roboh diterjang angin puting beliung.

Tersebutlah, hubungan Satria dan Tyas senantiasa diwarnai konflik karena perbedaan visi. Yang cowok bicara soal liberalisme yang berpadu dengan kapitalisme, sedang yang perempuan bicara tentang manusia dan kemanusiaan. Yang lelaki bertindak demi pencitraan, yang perempuan bertindak atas nama akal sehat.

Ada juga dua lelaki pemulung yang bermimpi hidup enak seraya mengumpulkan kardus2 bekas. Tokoh dua pemulung yang juga berperan sebagai "badut" itu pun dengan leluasa bercerita tentang segala hal, termasuk tentang kemiskinan mereka.

Sementara di panggung atas, ada lelaki parlente mengenakan jas dan dasi. Lelaki itu terganggu oleh ceracau dua pemulung itu. Dialog terjadi, ke mana arahnya penonton langsung tahu, mereka bicara soal hambalang, soal korupsi, dan suap.

Mendadak hujan turun deras, menyapu sampah dan segala yang dekil. Itulah hujan kiasan yang bisa dibaca sebagai  tindakan pemilik modal yang ingin menyulap perkampungan kumuh menjadi lebih indah dan berwarna.

Hujan reda, panggung drama kehidupan telah berganti rupa dengan aneka bunga serta aksesoris pembangunan lainnya. Itulah hasil karya si Satria yang tadi berdebat dengan kekasihnya.

Sepasang kekasih itu pun bertemu kembali, tapi jurang kian lebar membentang. Si lelaki berada di atas awan seraya menikmati karya pembangunannya yg didirikan di atas duka warga yang tergusur, sedang yang perempuan tetap dengan kebersahajaannya. Tyas menyadari benar posisinya yang berpijak di tanah, itulah soalnya dia menolak pinangan Satria. Tyas bilang, kedudukan mereka jomplang, tak imbang alias tak harmonis.

Tyas merasa selama ini dia dimanfaatkan oleh si Satria yang mengambil keuntungan dari kedekatannya dengan rakyat jelata.

Perkisahan pun kian ruwet. Setelah jeda, adegan demi adegan dibangun dalam tempo yang lebih cepat. Di sana ada tokoh harmoni yang diperankan secara elok oleh Andi Bersama. Andi yang memerankan tokoh Harmoni mampu menjadi dirigen bagi pemain lainnya untuk menuju klimaks.

Memakai dua level yang disusun tingkat dua, dan beberapa kotak warna putih berserakan di beberapa sudut panggung, Rik A Sakri sebagai sutradara rupanya memang hendak membuat garis demarkasi yang jelas antara dua dunia yang berbeda, dunia atas-bawah, langit-bumi, kaya-miskin.

Jika ada yang mengganggu sepanjang pertunjukan lakon ini, justru pada sektor naskah. Lantaran terlalu melebar, sempat pada akhir babak pertama penonton dihinggapi rasa jenuh. Tapi untunglah, Teater Aquila memasang aktor dan aktris yang kuat, sehingga penonton bisa jenak di tempat duduknya hingga akhir pertunjukan.

 

Editor :
Jodhi Yudono