Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI
Pementasan tari Matah Ati karya sutradara Atilah Soeryadjaya bersama penata artistik Jay Subyakto untuk kalangan media, di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Kamis (21/6/2012) malam. Pentas tari tersebut bercerita tentang cinta dan kekaguman jiwa kesatria Raden Mas Said kepada seorang wanita bernama Rubiyah yang lahir di Desa Matah.
Lampu panggung masih gelap. Seorang sinden bernyanyi. Dalam nyanyiannya itu, dia bercerita tentang kisah lakon drama tari ini: Matah Ati.
Tersebutlah seorang dara bernama Rubiyah dari Desa Matah. Seorang dara dari rakyat kebanyakan yang telah membuat Raden Mas Said atau yang lebih dikenal sebagai Pangeran Sambernyowo jatuh cinta.
Layar terbuka, muncul pasukan berbaju merah. Tampak panggung ditata secara miring, sebuah cara bagi Jay Subyakto selaku penata artistik untuk menggambarkan bahwa setting cerita yang terjadi di kawasan Solo memang berbukit-bukit. "Lebih dari itu, panggung miring bisa menambah artistik saat berlangsung konfigurasi," ungkap Jay.
Saat panggung terang, tampak seorang dara yang memerankan Rubiyah bernyanyi dalam nada duka. Tak jelas benar apa isi nyanyiannya. Mungkin ia berduka lantaran tanah Jawa sedang terjajah oleh kompeni. Tapi adegan ini tak berlangsung lama, sebab setelahnya, muncul puluhan penari yang menggambarkan muda-mudi yang sedang bersenang-senang di bawah terang bulan seraya bernyanyi "cublak-cublak suweng", "padang bulan" dan lagu-lagu dolanan lainnya.
Kegembiraan tak berlangsung lama, sebab mendadak muncul serombongan prajurit mengiringi kerabat raja yang sedang bergegas entah hendak ke mana. Rombongan kaum ningrat lewat, yang tinggal adalah perempuan dengan nyanyian duka tadi yang ditemani keluarganya.
Adegan berganti. Panggung nampak remang. Seorang lelaki muncul dalam gerak lamban namun takzim. Lelaki itu bergerak pelan menuruni panggung, ia bersila seperti sedang bertapa. Lalu muncul tiga perenmpuan sensual yang menggoda. Tapi si satria tetap teguh dan tak tergoda. Sedemikian hikmatnya dia bertapa, sampai sukmanya terbang dari jasadnya, menemui kekasih jiwanya. Mereka berdua bercengkerama, sebelum lenyap dan ruh si satria kembali ke jasadnya.
Lelaki pertapa itu adalah Raden Mas Said, seorang pangeran yang menjadi tumpuan masyarakat untuk menjadi pemimpin perang melawan penjajah. Setelah menerima keluh kesah masyarakat tentang kekejaman penjajah, sang pangeran pun tergugah hatinya. Dia pun mengucapkan slogan, "tiji tibeh, mati siji mati kabeh. tiji tibeh, mukti siji mukti kabeh (mati satu mati semua, berjaya satu berjaya semua)."
Raden Mas Said pun lalu memimpin pasukan melawan penjajah. Pertempuran berlangsung seru, tampak di sana seorang perempuan muda yang tak lain adalah Rubiyah memimpin pasukan perempuan.
Oleh kecantikan dan ketangkasan Rubiyah, membuat Mas Said terpikat. Kelak, usai perang, mereka pun menikah. Perang itu berlangsung 16 tahun hingga akhirnya diadakan perjanjian di Salatiga pada 17 Maret 1757. Maka jadilah Raden Mas Said seorang penguasa yang bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkoenagoro, sedangkan Rubiyah dipinang menjadi istri oleh sang pangeran dengan nama Bandoro Raden Ayu Kusuma Matah Ati.
Tepuk tangan yang berulang-ulang terjadi sepanjang pertunjukan, menunjukan betapa tontonan ini memang mengagumkan. Tak hanya cerita berlatar sejarah perjuangan bangsa melawan penjajah yang sedemikian kuat, tapi secara artistik pemanggungan juga patut diacungi jempol. Juga tata musik yang kuat, serta para penari yang bermain total sepanjang pertunjukan yang berdurasi sekira dua jam itu.
Menyaksikan pergelaran "Matah Ati", sungguh sebuah kebanggaan sekaligus kesedihan. Bangga lantaran para seniman tradisi bisa muncul ke permukaan dalam kemasan yang menggunakan idiom-idiom modern untuk pemanggungannya. Itulah sebabnya, lakon ini juga mendapat sambutan bagus saat mereka pentas di Singapura tahun lalu. Sedih, sebab ternyata tak ada dukungan sama sekali dari pemerintah yang mestinya jadi sponsor utama untuk memperkenalkan kesenian kita ke luar negeri dalam bingkai ekonomi kreatif. "Kami hanya mendapat dukungan doa dari pemerintah. Bahkan ketika kami usai pentas di Singapura, kami rada malu sebab orang KBRI tak ada yang datang," ujar Atilah Soerjadjaya yang bertindak sebagai penulis naskah, produser, sutradara dan perancang kostum.
Mulai besok, 22 Juni, "Mata Atih" akan digelar hingga 25 Juni 2012 di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki Jakarta. Dan akan diteruskan pentas di Solo 8-10 Juni. (JY)
