Rabu, 19 Juni 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Rabu, 19 Juni 2013 | 03:49 WIB
Suwana Raih Penghargaan Pengabdi Seni
Selasa, 19 Juni 2012 | 20:57 WIB

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined variable: url_twitter

Filename: views/read_view.php

Line Number: 93

" show_faces="false" width="450" font="arial">

Oleh I Ketut Sutika

Kegiatan ritual hampir mewarnai kehidupan sehari-hari umat Hindu di Bali, karena tiada hari tanpa menghaturkan sesajen, rangkaian kombinasi janur, kue dan buah-buahan.

Umat Hindu senantiasa menggelar kegiatan ritual berskala besar, baik dalam lingkungan rumah tangga, Pura di Desa Adat maupun Pura Sad Kahyangan yang pelaksanaannya melibatkan seluruh umat.

Kegiatan ritual yang digelar di Merajan, tempat suci milik keluarga maupun pura selalu akan disertai dengan pementasan kesenian Topeng seperti yang dilakoni I Made Suwana (76), pria kelahiran Kedewatan, Ubud, Kabupaten Gianyar.

Upacara keagamaan yang digelar umat Hindu merupakan bagian dari tiga kerangka dasar yakni Tatwa (filsafat), Susila (etika) dan upakara (upacara).

Dalam pelaksanaan kegiatan ritual sangat didukung oleh upakara yang tidak bisa lepas dari unsur seni tari, tabuh dan seni suara.

Kesenian topeng dipentaskan untuk kelengkapan kegiatan ritual bertujuan untuk memohon keselamatan, agar upacara yang dilaksanakan berjalan lancar, sukses tanpa hambatan.

Suami dari Ni Ketut Amerta Wati sering kali melakoni sebagai seniman topeng untuk menyukseskan kegiatan ritual di berbagai tempat, baik tingkat rumah tangga, pura tingkat desa adat maupun pura besar.

Ayah dari I Gede Suarbawa, SE dan I Made Suarmitha memang dikenal sebagai seniman serba bisa, selain menguasai tari topeng dengan sempurna, juga pernah aktif dalam sekaa drama gong Kedewatan,

Selain itu juga pernah bergabung dengan drama gong Dewan Kesenian Denpasar (DKD) yang sempat pentas ke berbagai pelosok pedesaan di Bali serta bergabung dalam sekaa arja Muani (Prembon).

Sosok seniman serba bisa itu aktivitas dalam seni sangat padat, pernah ikut dalam festival tari topeng di Jakarta pada tahun 1976 dan memperkuat tim kesenian Bali mengadakan lawatan ke liling Eropa tahun 1980.

Selain itu mengadakan lawatan ke Jepang bersama rombongan kesenian Bali yang dipimpin seniman andal I Made Jimat dari Desa Batuan, Kabupaten Gianyar.

Namun dari sekian banyak jenis tari yang dikuasainya, tari topeng yang paling melekat dalam kehidupannya untuk kelengkapan semua jenis kegiatan ritual seperti upacara Dewa Yadnya, Resi Yadnya, Manusa Yadnya, Pitra Yadnya dan Bhuta Yadnya.

Berkat pengabdian dan dedikasi yang tinggi dalam mengembangkan seni budaya yang dilakoninya secara terus menerus, tanpa putusasa mengantarkan Made Suwana memperoleh penghargaan pengabdi seni terkait pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXIV tahun 2012, tutur Kasi Perfilman dan Perizin pada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I Wayan Dauh yang juga panitia PKB.

Dipapah

I Made Suwama seniman serba bisa merupakan salah seorang dari sembilan seniman dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali yang memperoleh penghargaan pengabdi seni berkaitan dengan pelaksanaan aktivitas seni tahunan di Pulau Dewata.

Sosok seniman itu datang ke arena PKB di Taman Budaya Denpasar dalam kondisi dipapah oleh kedua putranya, akibat kondisi fisiknya yang kurang sehat, sekaligus menerima penghargaan yang diserahkan Gubernur Bali Made Mangku Pastika Senin malam (18/6).

Delapan seniman lainnya yang mendapat penghargaan serupa terdiri atas  I Gusti Ngurah Ketut Sudiarta (64), seniman dalang wayang kulit dari Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, I Made Mertha (68) seniman seni ukir dari Desa Gerih, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung dan I GN Oka Putra (70) seniman drama dari Kelurahan Sesetan, Kota Denpasar.

Demikian pula AA Gede Dharma Agung (60) seniman Undagi dari Kabupaten Bangli, I Wayan Cenik Wijana (64), seniman Kerawitan dari Banjar  Pegubugan, Desa Duda, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem, I Nyoman Usana (69) seniman seni sastra dari Banjar Kelod Desa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung dan I Made Suama S.Pd (61) seniman kerawitan dari Banjar Munduk Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali Barat.

Pemprov Bali selama 34 tahun pelaksanaan PKB telah memberikan penghargaan kepada 381 seniman, termasuk sembilan orang yang diberikan dalam pelaksanaan PKB XXXIV tahun 2012.

Penghargaan kepada seniman tersebut di luar kegiatan dalam menyambut HUT Pemprov Bali  setiap tahunnya juga menyerahkan Dharma Kusuma, penghargaan tertinggi dalam bidang seni.

Pemerintah Provinsi Bali membentuk tim beranggotaan instansi terkait untuk melakukan seleksi terhadap seniman berprestasi, sehingga penghargaan pengabdi seni yang diberikan tetap sasaran kepada mereka yang betul-betul mengabdikan diri.

Penghargaan pengabdi seni kepada sembilan seniman hasil seleksi tim, berupa bantuan dana sebesar Rp54 juta atau masing-masing sebesar Rp6 juta.

Dengan pemberian penghargaan sebagai pengabdi seni diharapkan mampu memotivasi seniman-seniman muda untuk meningkatkan kreativitas dalam bidang seni, sekaligus menggali, mengembangkan dan melestarikan seni budaya Bali sehingga tetap kokoh dan eksis di tengah perkembangan era global, harap Wayan Dauh.

 

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono