Sabtu, 25 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 25 Mei 2013 | 21:59 WIB
Suama Gigih Cetak Penerus Seni Budaya Bali
Senin, 18 Juni 2012 | 19:33 WIB
|
Share:

Oleh I Ketut Sutika

Sosok pria berpenampilan sederhana itu dikenal sebagai seniman serba bisa dan pemurah, karena  dengan senang hati  melatih anak-anak muda dan mereka yang berminat menekuni seni budaya Bali, khususnya tabuh (kerawitan).

Upaya mencetak kader pewaris seni budaya Bali itu dilakukan lewat sekaa gong di tempat kelahirannya Banjar Munduk Desa Pohsanten, Kecamatan Mendoyo, Kabupaten Jembrana, Bali barat.

I Made Suama S.Pd (61), pensiunan guru Sekolah Dasar (SD) itu tidak terbilang entah berapa ratus bahkan ribuan kader penerus tari dan penabuh gamelan Bali lahir dari sentuhan tangan terampilnya.

Meskipun pria kelahiran tahun 1951 usianya sudah "senja", namun kesehatan fisiknya masih prima,  sejak usia kanak-kanak yakni umur delapan tahun sangat menyenangi seni tabuh dan tari Bali.

Suami dari Ni Nengah Werni itu menguasasi berbagai jenis tari dan memainkan perangkat gamelan dengan sempurna, khususnya kendang yang dikenal masyarakat sekitarnya dengan suara emas.

Berkat kepiawaian yang luar biasa itu,  ayah dari I Gd Eka Juliana itu mendapat kepercayaan untuk memperkuat sekaa gong kebyar Desa Penyaringan sebagai duta Kabupaten Jembrana mengikuti Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 1994.

Sukses penampilan dalam kegiatan tingkat Provinsi Bali itu kembali diulanginya dua tahun kemudian pada PKB tahun 1996 untuk memperkuat sekaa gong kebyar Desa Tegal Cangkring mewakili Kabupaten Jembrana dalam PKB di Taman Budaya Denpasar.

Upaya memperkuat tim kesenian Kabupaten Jembrana ke PKB berlanjut hingga tahun 2003 dan akhirnya dipercaya sebagai tim pembina lomba gong blaganjur SMAN I Mendoyo untuk mengikuti kegiatan tingkat Provinsi Bali tahun 2004.

Berkat prestasi dan dedikasi pengabdiannya tanpa putusasa, sosok  I Made Suama masuk nominasi sebagai penerima penghargaan pengabdi seni terkait pelaksanaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XXXIV tahun 2012, tutur Kasi Perfilman dan Perizin pada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali I  Wayan Dauh yang juga panitia PKB.

Pemerintah Provinsi Bali melakukan seleksi terhadap seniman berprestasi dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali untuk mendapat penghargaan.

Masing-masing pemerintah kabupaten/kota di Bali mengusulkan sejumlah seniman yang dinilai mempunyai prestasi dan pengabdian dalam bidang seni dan budaya yang menonjol pada masanya.

Kegigihan I Made Suama juga membina dan melatih murid di sejumlah sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (SMP) dalam memainkan instrumen musik tradisional Bali.

Upaya pembinaan yang dilakukan belasan tahun itu, tidak mengherankan, jika sosok pria sederhana itu sejak kecil akrab dengan kesenian Bali dan mempunyai pengalaman pentas tabuh dan tari di berbagai tempat di Bali.

Lawatan ke Jepang

I Made Suama yang tampak masih sehat pada usia senjanya itu, tercatat pernah memperkuat sekaa Prasa Budaya Kabupaten Jembrana yang dipercaya pemerintah Provinsi Bali mengadakan lawatan ke Osaka, Jepang.

Misi kesenian Bali itu mengadakan lawatan ke sejumlah kota besar di Jepang selama sebulan, 24 Agustus hingga 7 September 1995.

Sosok pria yang berpenampilan sederhana itu mempunyai kepiawaian memainkan kendang membarung, sehingga mampu menarik perhatian penonton. Kemampuan dalam bidang tabuh dan tari Bali itu tidak diragukan, termasuk menciptakan tabuh dan tari yang inovatif, dapat dinikmati masyarakat Bali.

Tidak terhitung jumlahnya entah berapa karya cipta gending-gending instrumen musik tradisional Bali  lahir dari sentuhan seniman serba bisa itu.

Berkat prestasi dan kemampuannya itu mendapat kepercayaan untuk membina sejumlah sekaa kesenian di berbagai pelosok pedesaan di Bali barat. Jadwalnya yang begitu padat terpaksa sejumlah sekaa kesenian harus sabar untuk mendapat kesempatan.

Puluhaan sekaa kesenian yang pernah dibinanya itu antara lain sekaa kesenian joged bumbung, angklung dan gong kebyar. Selain itu juga melatih anak-anak membuat instrumen gamelan seperti kendang, tutur Wayan Dauh.

 

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono