Jumat, 24 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 24 Mei 2013 | 01:03 WIB
Parwa Bangkit Kembali di Angsoka
Sabtu, 16 Juni 2012 | 12:36 WIB
|
Share:

beritadewata.com
Kesenian Parwa

DENPASAR, KOMPAS.com--Parwa yang merupakan salah satu seni langka di Bali bangkit kembali menghibur penonton di kalangan Angsoka pada Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-34 di Taman Budaya Denpasar.

Pertunjukkan tersebut dipentaskan oleh "Sekaa" atau Kelompok Parwa Genta Swastika dari Desa Subagan, Kabupaten Karangasem, Bali. "Kesenian ini kami rekonstruksi agar hidup kembali setelah sekian lama animo masyarakat terhadap seni ini semakin berkurang. Apalagi banyak sekali hiburan yang bisa disaksikan masyarakat setiap hari seperti di layar televisi," kata Gusti Putu Raka, Ketua Sekaa Parwa, di Denpasar, Jumat.

Dia mengatakan bahwa seni parwa merupakan kesenian yang mengambil lakon cerita Mahabharata yang dahulu sangat populer di Bali terutama pada era tahun 1950’an.

Pada pementasan itu dikisahkan Prabu Darmawangsa akan membuat upacara keagamaan dan beliau mengutus saudara-saudaranya untuk mencari beberapa perlengkapan upacara di sebuah hutan.

Salah satunya Sang Arjuna yang diutus mencari kijang sebagai hewan kurban. Namun dalam perjalanannya, Arjuna yang digambarkan sebagai sosok gagah dan tampan, terkena guna-guna seorang wanita yang bernama Diyah Bedawati.

Diyah merupakan putri dari Prabu Tasik Kencana yang dikenal memiliki ilmu sihir untuk kepentingan jahat.

Akhirnya, Arjunapun terkena guna-guna dan tak pernah kembali. Hingga suatu ketika, pemuda tampan itu bisa dibebaskan dari pengaruh jahat oleh Gatotkaca dengan kembang wijaya kusuma.

Para penonton kemudian disuguhi dengan adegan peperangan antara Gatotkaca dengan Prabu Tasik Kencana yang marah karena berhasil mengingatkan kembali Arjuna.

Melalui perang yang cukup panjang dengan diiringi instrumen musik gong khas Bali, pertunjukan diakhiri dengan kemenangan Gatotkaca.

Selama sekitar 1,5 jam pertunjukan, penonton mendapatkan sebuah pesan moral bahwa apapun sebuah ilmu yang buruk itu pastinya akan lenyap oleh kebajikan.

Guna "menghidupkan" kembali kesenian ini pada generasi muda, menurut Raka, pihaknya mengajak anak-anak muda di sekitar wilayahnya untuk bergabung mendalami kesenian itu.

Untuk menyempurnakan pementasan itu, dia dan kelompok seninya mempersiapkan diri dalam latihan selama lima bulan.

 

Sumber :
ANT
Editor :
Jodhi Yudono