Minggu, 26 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 26 Mei 2013 | 01:05 WIB
Puisi-puisi Sabiq Carebesth
Jumat, 15 Juni 2012 | 19:28 WIB
|
Share:

google.com
Ilustrasi

#Kamala
 
Petang adalah petaka bagi kesunyian
Ia melandakan kenangan ribuan kematian
Seperti ranting pohon ara ditebas rembulan
Patah layu tua sebelum megucup bibir Kamala
 
Sudah ia susuri belantara
Mencari yang sirna oleh kutukan dewa
Setelah terlempar jadi manusia
Dan jalanan memabukkan kerinduannya
Pada tuak dan candu nasib yang terlalu maha
Sunyi, penolakan, terbuang dan menua
 
Maka pada sebongkah payudara dari senja kelana
Ia reguk setetes susu dari kuncup puting luka
Lalu terdiam nganga ia menyaksikan Kamala
Rahasia dari ribuan jalan kembali ke mula
Yang dikandung di bibir merah ara
II
Dalam kegelapan tergolek ia seperti srigala
Kedinginan dan begitu sepi
Tapi hati enggan menyusun kembali janji
Untuk menukar waktu menuju jalan kembali
 
Nasib hanya sekali, sisanya sepi…
 
[Jakarta, 27 Mei 2012]
 
#Senja Terakhir di Bulan Mei
 
Dia datang membawakan petang
Kelam jadi selendang
Kerudung merah warna senja
Bersulam renda kenangan hampa
Dari masa lalu yang sia-sia
 
Hujan melandakan kegamangan
Pada lagit yang memancangkan kehilangan
Seperti ribuan kupu-kupu mona
yang terbang membentang
Disergap dingin ketakutan
dari hutan kematian-kematian

[Jakarta, 27 Mei 2012]

#Waktu Yang Berlalu

Ribuan kapal bersandar dikalbuku
usai lelah melayari gelombang
dari hidup yang membadaikan pilu
 
malam jadi muram dalam temaram
cahya dalam kapal dari kalbuku
enggan tenggelam di dangkal
masih mau layari ribuan gelombang
demi senja yang dulu kau janjikan
 
maka pada malam kini yang
melukiskan semenanjung dalam kebisuanmu
aku talikan rindu kuikrarkan waktu
agar ada waktunya datang padamu
sebuah sampan yang mengantar kekalahanku

6 Mei 2012
Sabiq Carebesth
 
# Pada Akhirnya Kita Jadi Abu
 
Ada ribuan kata yang akhirnya jadi sunyi
Sewaktu malam jadi mencekam
Membenam dalam kebekuan
Sewaktu hidup hanya bayangan
 
Bagaimana jika nanti kita tak besekutu
Sedang sudah hati di gambar dengan nama
Dari ribuan waktu yang menjelma kenangan
Yang kini menjelamakan kesepian
 
Pada akhirnya kita jadi abu
Terbang di pemakaman waktu
Sewaktu hidup melemparkan kita
Kedalam hening tanpa jendela
 
Kita menari di sini
Merayakan setiap detik yang berlalu
Tak pernah tahu waktu yang nanti
Bersekutu kita bersama desau bisu
 
Sudah kukatakan padamu
Aku segaris tanpa warna
Dari ribuan warna yang menggores kanvas kalbumu
Yang rindu selalu pada waktu
Sedang kau dan aku terjebak dalam semu
 
Jakarta, 8 Mei 2012
 
#Senja di Bulan Juni
 
Pada pudar kelamnya remang
Kejauhan memancangkan waktu
Urung menggambar pilu
Cerita berlalu beku
Dileburkan waktu jadi debu
Dan kita yang menunggu hujan musim lalu;
Barangkali menempel di dinding kalbumu
Agar bisa kau kenang musim yang berlalu

Maka bila musim sunyi tiba
Kita bertahta diatas ranjang jiwa
Menarikan iramanya hidup yang
tak lagi bertanya
Barangkali hidup memang bukan tanya yang
hendak kau jawab dengan membuka lembaran lama
<!--[if !supportLineBreakNewLine]-->
<!--[endif]-->
Hidup adalah tari-tarian tanpa jeda
Dari irama makna yang kadang tak terduga
Tapi kita sudah berusaha menarikan hidup
Seiring cahya senja ketika musim berganti rembulan

Maka tak cukupkah ribuan tanya
Yang berbaris bagai kabut gerimis
Sebelum hujan membadaikan sia-sia
Dan senja habis disembunyikan pelukis senja
Dalam kolam jiwa
dari segelas kopi yang
menjelmakan matamu; yang dahulu.
 
Jakarta, 2 Juni 2012
 
**Sabiq Carebesth: lahir pada 10 Agustus 1985. Pecinta buku dan kesenian. Redaktur Jurnal&Bulletin "AGRICOLA". Tinggal dan Bekerja di Jakarta. Buku Kumpulan Sajaknya “Memoar Kehilangan.”

 

Editor :
Jodhi Yudono