Oleh I Ketut Sutika
Tubuh gemulai itu bergerak lincah di atas panggung mengikuti irama gamelan, instrumen musik tradisional Bali yang mengiringinya. Olah gerak tubuh yang disertai ekspresi jiwa, mampu menyuguhkan keindahan dan keagungan yang serasi dengan busana tari Bali yang dikenakan.
GA Sukarniti (64), wanita kelahiran Banjar Delod Peken, Desa Timpag, Kecamatan Kerambitan, Kabupaten Tabanan, 25 Agustus 1948, ketika masih muda dulu memiliki keahlian dan karisma dalam mementaskan berbagai jenis tari maupun memainkan instrumen gamelan Bali.
Wanita yang belajar tari Bali sejak usia dini, sehingga sanggup menguasai aneka jenis tari Bali dengan sempurna. tidak mengherankan sejak remaja telah dipercaya untuk memperkuat tim kesenian Bali dalam mengadakan lawatan ke mancanegara.
Pertama kali tahun 1961 mengadakan lawatan ke Jepang bersama sekaa Kesenian Belaluan, Denpasar, menyusul kunjungan yang kedua dengan rombongan yang sama ke Rusia tahun 1963.
Penari ayu yang sempat tenar berkat kepiawaiannya dalam olah gerak tubuh itu memasuki usia 24 tahun membentuk rumah tangga dengan pria idamannya I Nyoman Nuryana, SH pada tahun 1972.
Suaminya sebagai anggota Angkatan Udara (AU) sejak membentuk rumah tangga hijrah ke Jakarta timur mengikuti suaminya bertugas, namun profesi sebagai seniman itu tetap digelutinya.
Bahkan kesempatan mengadakan lawatan ke mancanegara untuk memperkuat tim kesenian Indonesia semakin terbuka luas. Lewat Sanggar Tari "Panca Sari" yang dirintiskan di Ibu Kota Jakarta membina ratusan anak didik untuk mempelajari tari Bali.
Bahkan ketenarannya di Ibu Kota Jakarta lewat sanggar tari itu mendapat kesempatan untuk bergabung dengan rombongan Hotel Indonesia (HI) mengadakan lawatan ke Jepang untuk pentas keliling di berbagai kota selama selama tujuh bulan tahun 1974.
Sukses pentas di berbagai kota di Negeri Matahari Terbit mendapat tawaran dari Kedutaan Besar Indonesia di Bangkok untuk melatih anak-anak Indonesia di Thailand menyangkut tari Bali dan tari Nusantara.
Selama sepuluh hari di Bangkok pada tahun 1986 itu berhasil mengajar ratusan anak-anak Indonesia tari Pendet. Sepulang dari luar negeri kembali melatih anak-anak yang belajar tari di sanggarnya.
Hasil binaan sanggar Tari "Panca Sari" dimanfaatkan untuk mengisi acara menari di ajungan Taman Mini Indonesia setiap hari Minggu. Kegiatan yang melibatkan sekitar 75 anak-anak itu diajarkan menari Pendet, Tenun, Panji Semirang dan Oleg Tambulilingan.
Aktivitas seninya di Ibu Kota Jakarta berlangsung sekitar 29 tahun, karena 2001 kembali ke Bali bersama suaminya, setelah memasuki masa pensiun. Ia kini tinggal bersama seorang anak angkat di tempat kelahirannya setelah suaminya meninggal tahun 2009.
Sosok wanita yang tampak masih enerjik dan sehat bugar pada usia senjanya dinilai mempunyai dedikasi, prestasi dan pengabdian dalam bidang seni Bali, kata Kasi Perfilman dan Perizin pada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, yang juga panitia Pesta Pesenian Bali (PKB), I Wayan Dauh.
Berkat prestasi, dedikasi dan pengabdiannya dalam bidang seni, sosok Sukarniti masuk nominasi sebagai salah seorang penerima penghargaan pengabdi seni dari Pemerintah Provinsi Bali, terkait pelaksanaan Pesta Kesenian Bali XXXIV tahun 2012.
PKB
Sosok wanita yang berpenampilan sederhana dan lugu, namun sangat kreatif dalam seni olah tubuh, khususnya tari Bali, sehingga kehidupan yang dilakoninya sehari-hari tidak bisa dipisahkan dengan kesenian.
Tampil selalu lincah dan geraknya mengikuti irama gamelan yang mengiringinya di atas pentas yang mampu menarik perhatian penonton. Berkat kepiawaiannya itu GA Sukarniti pernah memeriahkan Pesta Kesenian Bali mewakili duta seni Kabupaten Tabanan.
Ia menunjukkan kepiawaiannya menari tari wiranata pada acara pentas tari tetamian Pak Kaler sebagai pencipta tari Wiranata. Ibu dari seorang anak sejak remaja hingga sekarang sangat senang melatih anak-anak atau mereka yang berminat mendalami tari Bali.
Hingga kini telah berhasil mencetak ratusan bahkan ribuan seniman tari Bali di Kabupaten Tabanan dan Ibu Kota Jakarta dan mancanegara. Bahkan pada tahun 1959 ketika baru berusia sebelas tahun sudah sanggup mengajar menari di Puri Gede Kerambitan, Kabupaten Tabanan serta beberapa tempat di Kabupaten Buleleng dan Jembrana.
Wanita yang masih enerjik pada usia senjanya itu tercatat sebagai perintis membentuk Sekaa Gong di Desa Timpag dan pernah menunjukkan keahlian membawakan tari Wiranata dihadapan Presiden Soekarno di Istana Tampak Siring Gianyar tahun 1960.
Kepiawaian membawakan tari kelincahan olah tubuh yang serasi dengan instrumen gamelan yang mengiringinya menjadikan dirinya cukup dikenal masyarakat luas di Pulau Dewata.
Tari Oleg Tambulilingan, Teruna Jaya, Kebyar Duduk, Kebyar Terompong dan Tari Wiranata yang mengisahkan tari ’romantisme’ laki-perempuan dilakoninya dengan sempurna. Tari itu setiap geraknya mengandung karakter keindahan khas Bali.
Keterampilan dan kelincahan Sukarniti pentas di atas panggung mengantarkan dirinya menjadi penari "spesialis" istana Kepresidenan, yang pentas setiap saat di istana kepresidenan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.
