YUDI/DOYANMAKAN.COM
Nasi goreng Nanas di resto khas Thailand, Long Grain, Plaza Senayan.
TREMBESI
Berapa umur tuan? Hujan jatuh di halaman, mengguratkan lingkar tahun
dan musim berguguran bersama daun. Jalan menikung dan berliku di
ujung. Sawah-sawah hijau oleh cinta memandang udara yang selalu
menuju ke utara. Di barat sungai melenguh sambil mengusir hujan riuh.
Batang-batang trembesi menjulang menadah airmata langit yang selalu
tumpah bersama sakit.
Dedaun mungil yang menuliskan cinta abadi, menguning berguguran
memenuhi halaman. Ia menuliskan suara langit menjerit, udara beracun
memasuki paru dunia, di antara sesak waktu kesulitan mencari rongga.
Batang-batang kian hitam oleh ludah kesal yang geram. Guratan guratan
tegas mengingatkan surat wasiat kakek yang pernah aku buka dalam
sebuah laci meja. Tulisan yang mengingatkan pada lukisan kaligrafi
kaca di atas pintu masuk rumah. Sebagai penjaga, katanya.
Bening oksida dan kelam karbondioksida selalu bertukar di udara, di
paru hijau trembesi mengembang ke angkasa. Jemari tangannya beribu
dengan bulu-bulu kemuning meniupkan angin ke selatan memberikan
harapan hidup yang sebentar. Sebab, yang lama adalah keabadian.
Akar-kemakar menembus kedalaman hati, cecabangnya merangkul remahan
diri, ia terus menjalar menyusuri hidup di antara batu nasib dan
sungai haru dalam pembuluh waktu. Jika sempat bertemu terimalah
seluruh rindu di antara racun dan temu. Di antara harapan yang tumbuh
pada setiap jengkal jejak, yang pernah kita pijak.
2012
MATA SAPI
Yang kuning bundar adalah cintaku dilingkari kesucian seorang
perempuan yang belum pernah melahirkan. Aku rangkum dunia ibu dalam
sejarah panjang yang bergulir dari ladang ke dagingku. Sepercik garam
menyedapkan pandang dan hidup lapang mengusung kisah para petambak di
musim yang tak bisa ditebak. Nasib selalu berputar seperti lingkar
matamu yang coklat semu.
Tak ada yang lebih indah dari pada perjumpaan saat kita menuai janji
di meja yang penuhi bunga wangi. Aku pilih piring dengan motif kembang
belang, merah dan hitam. Merah bahagia dan ketabahan cinta yang selalu
menggoda. Pada setiap suap nasi yang aku telan butiran-butiran cahaya
bersinar dari ladang hatimu yang subur. Cahaya yang menguatkan
pepohonan merajamkan akar dan cecabang ke segala ruang. Hingga
bunga-bunga bermekaran memenuhi ruang tunggu tempat kau dan aku
menyusu waktu.
Tak ada yang lebih rindu dari rasa lapar yang terus menderu untuk
mengisi kepal demi kepal bongkahan cinta yang berguguran dari tebing
matamu. Mata yang tumpah di atas meja pertemuan dan selalu memandang
janji kita untuk selalu setia. Sesetia api pada panas yang selalu
menguraikan cair pada pekat. Sepekat cinta kita sepakati.
UBAN
Inilah usia yang aku tenun menjadi kain hidup yang panjang. Beberapa
kisah digambarkan dalam ornamen bunga-bunga dan burung yang
beterbangan di hutan nafasku. Singa dan serigala di puncak bukit
selalu menuruni malam dan memanggil pasangan. Ada yang lebih buas dari
mereka? Hanya nafas nafsu yang mendengus sembari memamerkan taring dan
cakar yang berdarah.
Aku lukis kebun bunga dan sepasang kupu-kupu yang menetaskan madu di
kelopak waktu. Kebun adam dan hawa saat jumpa pertama. Aku mulai dari
awal dan asal-usul sehingga diri takkan menyesal. Yang putih di atas
bukit-bukit itu adalah batang-batang usia di musim dingin yang
menghutan. Hutan yang mengerami butiran-butiran cuaca sehingga yang
terdengar hanyalah zikir para pengembara menembus hutan-hutan dingin
dan bisu.
Nasi Goreng
Di atas pembakaran aku panggang tubuh jadi kilau cahaya yang memantul
dalam matamu. Merah senja yang akan menyelami bumi dalam tubuhmu yang
selalu lapar dan tak henti mengunyah lambung dan usus nafsu.
Pedas hidup teraduk , garam malang, kecap hitam nasib aku ragi
bersama malam bintang. Bulir-bulir padi meletup, menjadi bunga musim
panas yang riuh oleh desahan tubuhmu yang terpelanting
Kita bertemu di di antara hehijau kebun teh, rerimbun yang selalu
memutikkan rindu. Perjumpaan dengan kekasih yang lama tak berkirim
salam dan sms, juga video conference yang diunggah dalam remang
hujan. Lemak kenangan berlekatan tumpang tindih dengan janji yang
selalu menguap dari setiap sendok pembicaran yang kita kunyah.
Bagaimana aku bisa melupakan?
Biodata:
Hidayat Raharja, guru biologi SMA Negeri 1 Sumenep.
