Severity: Notice
Message: Undefined variable: url_twitter
Filename: views/read_view.php
Line Number: 93
KOMPAS/WAWAN H PRABOWO
Pameran Lukisan Raden Saleh - Pengunjung menyaksikan lukisan dalam pameran yang bertajuk "Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia" di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Sabtu (2/6/2012). Kegiatan yang dimotori oleh Pusat Kebudayaan Jerman "Goethe-Institut" bersama Galeri Nasional Indonesia dan Kedutaan Besar Jerman tersebut digelar untuk memperingati 60 tahun persahabatan antara Indonesia dan Jerman.
Oleh Aryo Wisanggeni G
Setelah 132 tahun kepergian Raden Saleh, perupa yang dianggap meletakkan dasar-dasar seni rupa modern Indonesia, akhirnya sebuah pameran besar berhasil digelar.
Goethe Institut dan Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, melalui program Jerman dan Indonesia (Jerin), menggelar pameran bertajuk ”Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia”, 3-17 Juni, di Galeri Nasional Indonesia.
Pameran ini tak sekadar menggantung lukisan, tetapi juga membuka pintu pemahaman serta merangsang interpretasi dan ekspresi para pengunjung.
”Ini salah satu lukisan terpenting Raden Saleh,” tutur Grio Muhammad Ahir (19) menunjuk lukisan ”Penangkapan Pangeran Dipanegara” (1857) karya Raden Saleh. Segerombolan siswi SMA negeri di Jakarta yang merubungnya sempat diam menyimak penjelasan Grio.
”Sifat orang Belanda penangkap Diponegoro yang jahat dan besar kepala digambarkan Raden Saleh dengan proporsi besaran kepala yang tidak normal,” ungkapnya.
Salah seorang siswi kelas X tiba-tiba cekikikan mendengar uraian ”kepala raksasa” para penangkap Diponegoro. ”Kayak puppet, puppets show,” katanya, membisiki dua temannya sambil mencorat-coret kertas tugas sekolah mereka. Boneka dalam teater boneka memang berukuran lebih besar daripada tubuh manusia karena menjadi tempat tangan dalang memainkan boneka yang populer di sejumlah layar kaca belakangan ini.
Grio tersenyum mendengar komentar itu. ”Ini lukisan terpenting Raden Saleh, satu-satunya lukisan tentang peristiwa nyata dalam sejarah Indonesia,” ujar mahasiswa Desain Produk di Universitas Paramadina itu.
Lukisan yang diselesaikan Raden Saleh pada 1857 itu seperti sebuah pelesetan atas lukisan serupa karya JW Pieneman, seorang Belanda, berjudul ”Penaklukan Dipanegara”. Di situ Diponegoro dilukiskan tertunduk lesu, tak berdaya dikepung pasukan De Kock.
Lewat ”Penangkapan Pangeran Dipanegara”, Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880) menantang interpretasi Pieneman. Dalam pameran, kurator Werner Kraus secara sengaja menyandingkan antara sketsa dan lukisan tersebut.
”Dalam sketsa, Raden Saleh melukis semua orang dengan rinci dan proporsi bentuk tubuh yang sempurna. Lalu, di dalam lukisannya kita melihat semua kepala tentara Belanda terlalu besar. Itu kesengajaan. Dan, itu adalah sikap politik Raden Saleh yang menyatakan para penangkap Diponegoro adalah manusia berwatak jahat,” kata Kraus.
Melalui berbagai karyanya, termasuk ”Penangkapan Pangeran Dipanegara”, Raden Saleh memulai cikal bakal seni lukis modern Indonesia. ”Dulu seorang seniman adalah abdi seorang raja yang tidak pernah memiliki jati diri sebagai seorang seniman. Raden Saleh menempatkan dirinya sebagai seorang seniman independen. Raden Saleh pula yang memperkenalkan cara baru melukis. Itu memberikan pemahaman yang sama sekali baru tentang seni rupa dan pengertian apa itu perupa,” kata Kraus.
Melalui kesadaran bahwa seorang seniman adalah seorang yang bebas dan merdeka itulah Raden Saleh menantang hegemoni pemerintahan kolonial yang mewujud dalam lukisan Pieneman. Konteks sejarah itu tidak akan dipahami anak muda jika mereka hanya berkesempatan menonton pameran dan memandangi lukisan Raden Saleh.
Bukan salah para anak muda pengunjung pameran jika menganggap ”kepala raksasa” itu selucu puppets show. Untuk itulah Grio dan 39 relawan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta dan Universitas Paramadina hadir mendampingi pengunjung pameran.
Dalam pameran itu, Werner Kraus dan asisten kurator Irina Vogelsang memang tidak sekadar menghadirkan 35 lukisan, 28 sketsa, dan lebih dari 30 litografi yang menunjukkan kepiawaian seniman pribumi Jawa yang 25 tahun berkeliling Belanda, Jerman, Perancis, dan Italia itu. Selain 40 pendamping yang siap membeber konteks dari setiap karya Raden Saleh, pameran itu juga menghadirkan wayang Diponegoro yang dibuat empu wayang asal Yogyakarta, Ki Ledjar Subroto.
”Wayang Diponegoro itu memang didasari lukisan ’Penangkapan Pangeran Dipanegara’ karya Raden Saleh. Itulah patriotisme Raden Saleh,” ujar Ki Ledjar kepada puluhan anak sekolah dasar yang mengikuti Lokakarya Wayang di Galeri Nasional Indonesia pada 3 Juni.
Rasya (11) dan Melody (8) menjadi salah satu dari puluhan anak yang untuk pertama kali menonton wayang kulit. Irina Vogelsang menyebut kehadiran para relawan serta lokakarya wayang Diponegoro bagi para bocah itu sebagai bentuk pertanggungjawaban pameran ”Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia” kepada pengunjung. Pameran tersebut tidak mencekoki pengunjung dengan sejarah Raden Saleh, tetapi menyediakannya bagi siapa pun yang ingin mencari tahu.
”Kami tidak bisa membuat pameran karya Raden Saleh di ruang pamer, lalu dibiarkan lukisannya tergantung di sana begitu saja. Jika orang yang ingin belajar gagal mendapatkan lebih banyak informasi tentang karya Raden Saleh, pameran ini akan menjadi sia-sia. Jika itu terjadi, ini hanya membuang waktu dan uang,” kata Vogelsang.
Kehadiran Grio dan Ki Ledjar membuat Rasya, Melody, juga anak muda pengunjung pameran tak sekadar berkeliling dan mendongakkan kepala menatapi puluhan karya yang dilukis Raden Saleh lebih dari seabad lampau. Dalam kedalaman yang berbeda, setiap pengunjung bisa terlibat dan masuk dalam jagat karya Raden Saleh, belajar menangkap semangatnya, lalu mengekspresikan sebagai sesuatu yang subtil dari diri mereka sendiri.
